Dalam Islam Tuhan menyatakan bahwa manusia telah tercipta dalam sebaik-baiknya bentuk(fi ahsani taqwim). Yang mana manusia telah tercipta dalam sosok atau tampilan fisikal; yang sedemikian rupa dalam memenuhi standar dan syarat untuk menjalani hidup di dunia yang penuh dengan banyak rintangan. Manusia tercipta dari gabungan antara ruh dan tanah yang terbalut oleh jasad; dan bernafaskan dengan ruh yang termasuk bagian dari tubuhnya. Dengan hal ini manusia hidup di antara malaikat dan syaitan. Jika dalam kehidupannya hanya untuk kesenangan duniawi, maka ia akan terjerumus dalam rana kemaksiatan dan dalam kumbangan dosa.
Namun dewasa ini, banyak manusia yang merubah bentuk ciptaan-Nya; bahkan banyak wanita yang mengumbar aurat demi menampilkan ke elokan tubunya sehingga menimbulkan syahwat bagi yang melihatnya. Akan tetapi kala itu Allah Swt menganugrahi hambanya dengan keistimewaan yang begitu mulia yang tiada bandingnya; bagi manusia lainnya, bahkan ia adalah satu satunya perempuan suci yang berada di muka bumi ini dan ia termasuk perempuan yang paling baik di sepanjang sejarah.
****
Dalam Al-Qur’an tidak hanya ada satu perempuan saja yang termaktub. Akan tetapi hanya satu perempuan sangat mulia yang namanya termaktub jelas dalam Al-Qur’an yakni Mariam binti ‘Imran. Mariam terkenal dengan perempuan sholihah yang bisa menjaga kesuciannya; dan beliau merupakan salah satu perempuan yang memiliki jaminan masuk surga oleh Allah Swt. Bahkan namanya abadi menjadi sebuah surat yang ada dalam Al-Qur’an yakni surat Maryam kedua pada surah Ali ‘Imran dan dalam al-Qur’an namanya ada sebanyak 34 kali.
Berkaitan dengan hal itu kisah Mariyam sangat penting bagi perempuan juga seluruh umat manusia untuk mempelajari hal ini karena banyak pesan moral dan hikmahnya. Mariam lahir di daerah Palestina keturunan dari bani Israil. Ayahnya bernama Imran Ibunya bernama Hannah binti Fuqadha yang telah lama menantikan kehadiran buah hati. Bahkan mereka sampai lanjut usia dan mereka selalu berdoa agar mendapat seorang anak. Saat ibunya mengandung ia langsung bernadzar bahwa anak yang bakal jadi akan ia jadikan abdi Baitul Maqdis hingga lahirlah Mariyam. Ia lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya meninggal saat masih dalam kandungan.
****
Mariam menjalani masa kecil bersama ibunya dalam keluarga yang sangat mulia. Hingga Mariyam berumur 5 tahun, kemudian ibunya membawa serta menyerahkan ke rumah Allah (Baitul Maqdis) yang mana Mariyam sudah dinadzarkan menjadi pelayan yang khidmat dan melayani keperluan di rumah Allah (Ali ‘Imran: 37). Kala Mariyam lahir timbul juga persoalan, yang mana abdi Baitul Maqdis aslinya adalah seorang laki-laki, sedang Mariyam adalah seorang perempuan. Tetapi Allah tetap menerima nadzar dari Hannah (ibu Mariyam). Setelah itu, dating Nabi Zakariya bersedia untuk menjadi wali dan juga perawat Mariyam. Saat di Baitul Maqdis Zakariya memberikan sebuah tempat khusus untuk Mariyam agar ia dapat beribadah mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Setiap harinya Zakariya selalu menjaganya dari orang yang bukan muhrim. Mariyam mashur sebagia perempuan yang sangat taat atas perintah Allah, ia selalu beribadah, berdzikir, berdoa, ketika malam ia bangun untuk melaksanakan sholat malam, dan siangnya ia berpuasa. Saking taatnya ia beribadah kakinya sampai pecah-pecah. Mariyam tidak pernah keluar, ia sesekali keluar hanya untuk kebutuhan yang mendesak saja, keluarpun itu ia dalam keadaan haid. Untuk keperluan makan, semua yang menyediakan Nabi Zakariya dan terkadang sudah tersedia dari langit yang Allah turunan khusus untuk Mariyam.
****
Kala itu Mariyam berniat pergi untuk mengasingkan diri ke sebelah timur Baitul Maqdis. Kemudian Allah mengutus malaikat Jibril dengan menjelma sebagai seorang laki-laki yang berbentuk sempurna, seketika Mariyam terkejut karena ia belum pernah menemui seorang laki-laki kecuali Zakariya. Lantas Mariyam berkata kepada laki-laki tersebut; “Sungguh, aku akan berlindung kepada Tuhan yang Maha Peengasih terhadapmu, jika engkau adalah orang yang baik dan bertaqwa”. Ia meminta perlindungan kepada Allah dengan niat agar tidak terjadi apa-apa kepadanya, dan ternyata yang datang menemuinya adalah malaikat Jibril yang datang atas izin Allah untuk memberikan sebuah kabar gembira.
Jibril berkata “Susunggunya aku hanya utusan dari Tuhanmu, untuk mengaruniakan kamu seorang anak laki-laki yang sangat suci”. Seling kabar itu datang bersama Mariyam yang begitu sangat luar biasa, ia tidak punya suami dan juga tidak pernah melakukan hubungan dengan siapapun. Setelah kejadian tersebut Mariyam melanjutkan untuk mengasingkan diri dari tempat keramaian. Dalam ayat Al-Qur’an menyebutkan “Maka dia (Mariyam) mengadung, lalu dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh dan Allah menganugrahinya seorang anak laki-laki yang suci bernama Isa As.”
****
Setelah menjalani banyak rintangan, mulai dari peristiwa penyembelihan atas orang yang di sangka Isa itu dan juga ia melihat secara langsung, baik anaknya yang sebernanya (Isa) sebelum menyerahkan sebuah kayu salib atau orang yang dijelmakan dengan Nabi Isa AS. Akhirnya Mariyam menjalani sisa hidupnya dengan hati yang tenang dan putranya terselamatkan yang ia ketahui melalui mimpi ataupun dari langit (wahyu Allah). Mariyam hidup dengan jangka waktu tertentu, ia tinggal bersama murid Nabi Isa yakni Yohanes juga bersama empat orang anaknya yang merupakan saudara dari Nabi Isa, hingga Tuhan menetapkan kematian terhadapnya, kemudian Mariyam meninggal dunia, dan Allah menerima serta mengumpulkan bersama orang-orang yang benar. Sungguh mukjizat itu ada yang mana semua itu terjadi pada Mariyam, yang banyak mengajarkan kita akan menjadi wanita yang sesungguhnya juga wanita yang pintar dalam menjaga kesuciaanya, taat atas perintah Tuhan-Nya.
Banyak keistimewaan yang ada pada Mariyam. Salah satunya adalah ia termasuk perempuan yang digolongkan dengan laki-laki dalam kesitimewaannya. Ia merupakan perempuan yang diberi amanat besar oleh Allah. Di sisi lain banyak juga hikmah yang bisa kita ambil dari kisah tersebut yakni; sabar dalam menjalankan semua yang diperintahkan oleh Allah, menjauhi larangan-Nya serta melaksanakan sebuah amanah yang dibebankan padanya, untuk menjadi terkenal tidak harus mengenalkan dirinya, semakin dia menyimpan dirinya untuk kehormatannya, semakin Allah kenalkan pada hakikat dunia (derajat), mendidik anaknya dengan baik, menjaga dalam pergaulan, ia lebih banyak melakukan ibadah serta mendekatkan diri kepada Allah, menjaga kehormatan dirinya juga kesuciannya dari segala yang merusak hubungannya dengan Allah Swt, maka dari itu ia dikatakan sebagai “Sang Perawan Suci”.

Good Job Fafa :)))