Platform Merdeka Belajar Ramah Ibu Rumah Tangga
Bagi sebagian sifat perempuan yang cenderung aktif, menjadi perempuan karir ataupun pekerja adalah pilihan. Sekalipun sudah berstatus menikah dan menjadi ibu rumah tangga. Profesi perempuan sebagai ibu dan laki-laki sebagai bapak dalam rumah tangga memiliki konsekuensi untuk menerapkan kesalingan dalam memaksimalkan potensi dan peluang masing-masing, baik dalam urusan domestik dan publik.
Kesalingan dalam Rumah Tangga
Memahami peran ibu rumah tangga adalah untuk menjadi mitra suami, misalnya dalam berdiskusi mencari solusi untuk setiap persoalan rumah tangga. Bahkan dalam konteks profesi, ibu rumah tangga bukanlah asisten rumah tangga dengan setumpuk pekerjaan rumah ataupun pengasuhan anak. Ibu rumah tangga harus menjadi mitra suami dalam hak asuh anak, pekerjaan rumah, hingga perekonomian keluarga.
Memaknai kesalingan dalam rumah tangga bukan untuk menghadirkan kesewenang-wenangan di antara salah satunya, tetapi untuk menciptakan harmoni keluarga dengan partnership atau Rahmah untuk mencapai sakinah. Yang secara lebih luas, dalam perspektif pendidikan agama pun menegaskan bahwa dalam peran keluarga, tidak mengkhususkan salah satunya; parenting, manajemen keuangan rumah tangga, bisnis rumah tangga, dan lain sebagainya.
Hal lainnya yang berpengaruh dari proses kesalingan adalah untuk manajemen stress, perhatian atas kesehatan dan gizi, psikologi rumah tangga, pengelolaan bertetangga, dan lain sebagainya. Sehingga, ibu rumah tangga yang juga pekerja turut menopang ketahanan rumah tangga, yang dampak jangka panjangnya untuk mewujudkan generasi yang lebih baik di masa yang akan datang.
Menjadi Tenaga Pendidik Perempuan
Menjadi perempuan yang berpengetahuan adalah keharusan perempuan, meskipun tidak semua perempuan dapat berpendidikan sampai ke perguruan tinggi. Tetapi dari pemerintah sudah mengupayakannya dari pendidikan pra nikah yang diberikan oleh KUA, PKK, ataupun masyarakat secara informal.
Meskipun saat ini, sudah banyak instansi pemerintah dan NGO menyediakan program dan platfrom beasiswa belajar secara terbuka dan bebas biaya. Misalnya Kartu Indonesia Pintar, Beasiswa Unggulan dan lainnya. Sehingga, tidak membatasi bagi siapa saja yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang tinggi.
Mengajar adalah aktivitas yang tiada batas untuk informasi yang kita ketahui. menjalani profesi pengajar berarti kita mendapatkan tuntutan untuk terus menguprade dan mengupdate diri dengan beragam pengetahuan. Tak terkecuali bagi perempuan.
Dalam menciptakan proses pembelajaran, guru harus bisa efektif memberikan pembelajaran yang menyenangkan, bermakna, dan berdampak pada daya serap anak. Dan platform merdeka mengajar ini memberi ruang bagi guru untuk mewujudkan pembelajaran yang memerdekakan.
Juga, guru butuh referensi untuk memahami pembelajaran yang memerdekakan. Bagaimana supaya siswa mengalami pembelajaran yang tidak tebas rata, yang berdasarkan kemampuan siswa masing-masing.
Kesetaraan dalam Platform Merdeka Belajar
Sebelum terjadinya masa pandemi Covid-19, ibu rumah tangga yang juga tenaga pendidik sebagian memiliki keresahan dalam manajemen diri dan keluarga, sebab dalam memberikan pengasuhan terhadap anak pun, sebagian merasa harus fulltime. Sejak terjadinya pandemi, sebagian perempuan pengajar menyadari pentingnya memaksimalkan penggunaan teknologi. Teknologi mampu membantu operasional administrasi untuk keperluan pembelajaran di kelas. Yang kemudian kita kenal dengan platform merdeka belajar.
Guru SD Negeri Jarit 01, Lumajang, Vivi Wahyuni, merasakan platform ini sangat bermanfaat bagi dirinya yang sibuk mengajar sekaligus mengurus rumah tangga. “Biasanya kita guru-guru itu kebanyakan waktunya penuh ya di sekolah. Di rumah sudah capek, mau buka laptop ini bagaimana, pokoknya ruwet, apalagi ibu-ibu seperti saya. Dengan Merdeka Mengajar, kita tinggal pegang telepon genggam saja, kita bisa menonton video inspirasi, bisa melihat inovasi guru lain, yang kalau memang cocok, bisa langsung kita gunakan,” terang Vivi.
Sebagian guru mengakui senang dengan platform merdeka belajar. Termasuk juga Vivi, ia mengakui senang dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek (project based learning). “Sebelumnya, sekolah kami sebagai Sekolah Penggerak, belum tahu pembelajaran berbasis proyek. Kemudian kita belajar dari platform merdeka mengajar, ternyata ada semua di situ dan mudah digunakan,” terang Vivi.
Guru bisa mengambil kreasi lainnya yang ada di modul-modul platform merdeka mengajar. Kemudian kita sesuaikan dengan kemampuan siswa kita, karena setiap sekolah memiliki kondisi siswa yang beragam. Jika ada pelajaran yang tidak kita mengerti, atau tidak sesuai dengan kondisi siswa kita yang terus berubah, kita bisa melihat inovasi dari para pengajar lainnya.

Rahmania, Dosen Administrasi Publik UMJakarta
