Negara: Berpikir Demi Masa Depan
Berbicara bersama seorang teman di hari itu
Mereka berkata “Di Rumah Saja”
Dengan tersenyum merkah melontarkan keadaan bahwa ia baik-baik saja
Kondisi situasi berubah seketika
Setelah berbulan-bulan tak beranjak, sosial distancing pun menjadi Life’s problems (masalah kehidupan)
Kepekaan.. Mengapa harus peka?
Otak dapat mengambil nasihat, tapi tidak dengan hati dan cinta
Tidak memiliki geografi, tidak mengenal batas
Masyarakat terbungkam dengan hanyutnya permasalahan Negara
Bagaimana tidak, semua berproses bersatu pada hukum alam
Bosan menatap layar
Menatap wajah layar digital setiap saat
Menyapa tanpa raga, ramaikan sosial media
Tukar pikiran dalam dunia maya, keluhku seketika tak bermakna
Apakah itu menjadi sebuah solusi?
Last but not least, tidak ada pilihan lain
Berbahaya, bukan berarti tidak berperasaan
Masyarakat sosial mulai berpikir berbeda-beda
Berpikir untuk bisa merubah diri sendiri, sebelum engkau berfikir untuk merubah dunia
Tuhan menciptakan pelangi tuk mewarnai langit
Dan tuhan memberikan cobaan tuk memahami arti kesabaran
Ketika bumi mulai sembuh, ketika bahaya mulai berakhir
Orang-orang menemukan cara mereka sendiri
Menciptakan cara gaya hidup baru
Sepenuhnya menyembuhkan dengan pilihan baru
Seperti mereka disembuhkan dengan cara yang baru
Mengapa begitu peduli pada masa yang khawatir
Pikirkan dirimu sendiri, lalu kepada sekitarmu
Negara Masa Depan yang penuh harapan
Kami rindu…
Kami rindu dengan bumi pertiwi yang dulu
Mahasiswi aktif program studi Pendidikan Agama Islam UNIDA Gontor (Universitas Darussalam Gontor) Mantingan, NGAWI. Aktif dalam dunia literasi kampus, dan juga menjadi bagian tim jurnalistik kampus.
