Terminologi sains, acapkali sering tergaung dalam dimensi mana saja. Entah dalam proses akademisi di bangku pendidikan formal yang memang selama ini memegang teguh ilmu pengetahuan sebagai core of value dengan dalih sebagai pola langkah berpikir kritis, bahkan sampai pada ranah pragmatis kehidupan manusia. Sains dewasa ini menjadi unsur pokok dalam dimensi kehidupan manusia pada segala aspek yang ada, bagaimana tidak? Manusia modern adalah suatu kumpulan individu dalam konstelasi masyarakat global yang memiliki tuntutan agar mampu mengartikulasikan nilai – nilai yang termuat pada ilmu pengetahuan terhadap nilai kehidupan itu sendiri.
Pertanyaannya pun timbul, bagaimana letak nilai tendensial keberadaan sains? Rasanya pertanyaan tersebut memang agak sulit mendapat jawaban, mengingat diskursus mengenai sains telah mulai semenjak dahulu kala. Lebih mendalam lagi, Ahmad Tafsir dalam bukunya filsafat ilmu, menyebut sains (pengetahuan) sebagai bagian dari diskursus filsafat pengetahuan. Kita mengenal tolok ukur dari pengetahuan itu sendiri adalah dengan menggunakan kerangka acuan logika. Dalam hal ini, logika tidaklah dapat terpisahkan dari bagaimana membangun kerangka berpikir secara rasional.
Dalam perkembangan sejarah sendiri, sains memegang predikat yang tidak main – main. Ia memasuki struktur bangunan keilmuan yang tidak bisa kita sangsikan. Oleh karenanya menjadi wajar manakala, struktur pengetahuan itulah yang menjadi disiplin ilmu dalam berbagai bidang yang ada. Selama ini bangunan keilmuan pada lingkungan akademik bukan semata tidak memiliki landasan filosofis di dalamnya. Filsafat ilmu menjadi aspek urgensi bagi para filosof maupun ilmuwan untuk kemudian mampu mengembangkan sains hingga mencapai taraf kemajuan.
***
Lantas setelah mengulik begitu berarti menngenai urgensi dari sains. Maka apa sebenarnya sains itu? Secara sederhana sains adalah pengetahuan, pada arti luas berasal dari Bahasa latin Scientia yang berarti pengetahuan. Namun pengertian tersebut tampaknya terlalu kurang menjelaskan secara spesifik secara substansial. Dalam arti yang lebih sempit, sains merupakan disiplin ilmu yang terdiri dari physical sciences (ilmu fisik) dan life sciences (ilmu biologi). Astronomi, kimia, geologi, dan fisika masuk ke dalam physical sciences.
Sedangkan yang tercakup ke life sciences di antaranya meliputi anatomi, fisiologi, dan mikrologi). Conan dalam buku Usman menerjemahkan sains sebagai suatu deretan konsep serta skema konseptual yang memiliki hubungan korelatif antar satu dengan yang lainnya. Tumbuh sebagai hasil kajian eksperimentasi dan observasi, serta berguna untuk kita amati dan eksperimentasikan lebih lanjut. Karakteristik sains dapat kita telaah berdasarkan pada pemaparan Trowbridge dan Bybee yakni sains tertempuh melalui berbagai penyelidikan berkelanjutan, yang berkontribusi dengan berbagai cara untuk membentuk sistem yang unik. Artinya ilmu pengetahuan hadir sebagai proses telaah terhadap fenomenalogi melalui paradigma yang lebih berkelanjutan sesuai dengan dinamisasi perubahan kultural zaman.
Nash dalam bukunya The Nature of Science menyatakan bahwa science is a way of looking at the world. Sains dipandang sebagai suatu cara atau metode untuk dapat mengamati dunia. Nash memiliki argumen bahwa cara memandang sains memiliki perbedaan bila kita komparasikan dengan cara memandang dari filosof. Cara memandang sains lebih bersifat analisis, melihat sesuatu secara lengkap dan cermat serta terhubung dengan fenomena – fenomena. Sehingga secara menyeluruh dapat membentuk suatu perspektif yang baru tentang objek yang teramati.
***
Senada dengan Nash, Ahmad Tafsir memandang sains sebagai objek yang perlu menggunakan formula rasional dan empiris sebagai justifikasi kebenarannya. Kita melihat bahwa sains dapat lahir manakala terjadi konstelasi proses dengan telaah konkret terhadap fenomena dengan mengandalkan justifikasi keberanan melalui akal rasional dan terbukti empiris. Atau dapat menggunakan kemampuan indrawi manusia. Selain itu, sains juga perlu melewati beberapa langkah hingga mencapai suatu pengetahuan atau metodologi ilmiah.
Ternyata pembahasan mengenai sains tidaklah berhenti pada grandnarative atau penafsirannya semata. Timbul banyak perdebatan di antara para ahli dan tokoh, apakah sains harus bersifat bebas nilai atau tidak bebas nilai. Seringkali pertanyaan mendasar ini menjadi bobot mau dibawa ke mana laju sains dalam kehidupan umat manusia. Mari sebelum melangkah lebih jauh lagi, kita persepsikan ihwal apa yang kita sebut sebagai bebas nilai dan tidak bebas nilai. Kita mulai dengan menyebut istilah nilai, secara harfiah nilai dapat kita konsepsikan sebagai sesuatu manusia miliki untuk melakukan pertimbangan tentang objek.
Bahasa sederhanaya, nilai menjadi ukuran bagi para manusia untuk kemudian menunjukkan alasan dasar bahwa cara pelaksanaan atau keadaan sesuai dengan tuntutan sosial, budaya atau agama. Artinya lebih bagaimana nilai masyarakat manusia sepakati itu sendiri. Nilai seringkali berdasar pada faktor sosial manusia, mana yang memberikan manfaat dan mana yang menimbulkan kecelakaan bagi manusia.
***
Kata bebas nilai secara prosedural dalam konteks sains juga sama dengan istilah sains netral. Kata netral sendiri artinya berada pada posisi yang tidak memihak. Sains tidak memihak pada kebaikan maupun kejahatan. Sedangkan lawannya, sains terikat nilai atau tidak bebas nilai dapat terdefinisikan bahwa sains terbatasi oleh nilai – nilai yang condong pada hal baik dalam menentukan objek penelitian. Ahmad Tafsir memberikan gambaran mengenai ini, jika ada seorang ilmuwan yang hendak meneliti kinerja jantung manusia, maka terdapat perbedaan pendekatan oleh sains bebas nilai dan terikat nilai.
Sains bebas nilai akan menggunakan jantung manusia yang sesungguhnya dalam melakukan penelitian tersebut, sedangkan sains terikat nilai akan mencari pengganti jantung pada makhluk lain – di luar manusia, yang barang tentu memiliki kemiripan dengan jantung manusia itu sendiri. Sebab jikalau mengambil jantung manusia, akan dianggap tidak sesuai dengan nilai – nilai budaya atau bahkan agama.
Dalam kaitannya dengan filsafat ilmu, nilai itu bersifat objektif dan subjektif. Dapat bersifat objektif bila nilai tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Atau dapat dikatakan tolak ukur terletak pada objek yang diteliti, bukan pada yang menelitinya. Pun bersifat subjektif jika subjek berperan dan memberi nilai. Tergantung dari si subjek atau pelaku peneliti. Dalam konteks ini, apakah ilmu terikat nilai atau tidak, semua tergantung pada langkah keilmuan yang bersangkutan. Setelah ilmu mendapatkan otonominya, maka terbebas dari nilai yang bersifat dogmatik dan bebas mengembangkannya. Namun demikian, penerapan ilmu pengetahuan mestilah tetap memperhatikan nilai – nilai kemanusiaan yang bermanfaat.
