f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
media sosial gangguan

Tolong Pahami, ODMK dan ODGJ juga Berhak Berekspresi di Media Sosial

“Menjadi ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) atau ODMK (Orang Dengan Masalah Kejiwaan) memang tak pernah mudah.” Demikian kata teman saya, seorang penyintas bipolar yang juga berperan sebagai caregiver di keluarganya. Saya setuju dengan perkataannya. Walau tema kesehatan mental menjadi topik paling digemari di seluruh jagad raya, tetap saja masih banyak orang yang tak punya kepedulian terhadap kesehatan jiwa sesamanya. Memang benar, tak akan pernah mudah dalam menjadi seorang penyintas masalah kesehatan jiwa. 

Percakapan saya dengan teman saya dipicu oleh unggahan seorang ibu dengan banyak follower di media sosial. Ia mengajak pembacanya untuk bersikap lebih baik di media sosial. Di bagian bawah tulisannya, tak lupa ia berikan pernyataan bahwa tulisannya berguna sebagai pengingat untuk dirinya sendiri. Dalam unggahannya, ia menyebut bahwa mereka yang bipolar, sedang dalam mood buruk, punya beban, dan permasalahan, sebaiknya menjauh dulu dari media sosial. Masuk goa dulu, tanggulangi dan selesaikan masalah. 

Seperti biasa, entah mengapa, tulisan bernada sindiran di Facebook sering menggunakan dalih bahwa tulisan tersebut adalah sebuah pengingat untuk penulisnya. Saat membacanya, saya merasa, oh tulisannya untuk menyindir mereka yang sering minta dimaklumi karena sedang tidak baik-baik saja. Oke, sih. Tapi, mohon maaf, nih. Menurut saya, harusnya yang maklum, ya yang jelas waras. Benar bahwa para penderita gangguan mental dan kejiwaan disarankan untuk tidak terlalu banyak terpapar dengan interaksi maya. Tapi, melarang mereka muncul untuk mengekspresikan diri saat sedang tak baik-baik saja, bagi saya terdengar jahat sekali. 

Ibu penulis tersebut tampaknya melupakan fakta bahwa saat ini media sosial menjadi salah satu sarana ampuh untuk meminta pertolongan. Media sosial sering dipakai untuk meninggalkan pesan non verbal, hingga membuang hal-hal yang memenuhi pikiran, termasuk mood buruk. Benar, kita perlu sadar untuk mengendalikan postingan kita. Tapi, kita jelas nggak berhak membatasi orang lain untuk mengekspresikan dirinya. Kita nggak berhak membatasi teriakan minta tolong orang lain. 

Baca Juga  FOMO dan Generasi Z: Membangun Keterampilan melalui Media Sosial
Terapi di Media Sosial

Ada banyak penyintas yang membuat jurnal tentang perjalanannya dalam terapi psikologis  di media sosial. Berkat mereka, orang yang tadinya nggak aware soal kesehatan mental jadi bisa sedikit menengok. Tak jarang, mereka juga mau menjawab pertanyaan-pertanyaan dari warganet yang ingin tahu lebih banyak soal cara mendapatkan terapi psikologis dari pakar. Para penyintas yang demikian mengambil peran sebagai penerang, bagi orang yang sedang dalam perjalanan mencari bantuan psikologis. 

Walau, tak bisa dipungkiri bahwa ada kalanya kampanye kesehatan mental di media sosial malah membuat sebagian orang menerapkan ilmu cocoklogi. Ya, ada banyak orang yang dengan penuh percaya diri mendiagnosa dirinya dengan berbekal postingan soal ciri-ciri gangguan mental tertentu. Hal ini, salah banget, ya.  Semoga Rahmania nggak ada yang seperti itu. Seharusnya, kalau merasa ada tanda yang mirip, langkah selanjutnya adalah segera mencari layanan psikolog atau psikiater terdekat.

Perlu diketahui bahwa para pelaku self diagnose tersebut bukan yang paling buruk. Masih ada lagi, golongan yang lebih mengganggu kampanye positif perihal kesehatan mental. Jika Rahmania cermati, biasanya ada orang yang sering  meminta maaf atas perilakunya yang buruk, dengan dalih mentalnya sedang tidak sehat. Ya kalau sesekali, bisa dimaklumi, sih. Tapi kalau berulang-ulang, jelas saja orang tersebut tak lebih dari orang bertabiat buruk yang minta dimaklumi dengan memakai tameng kesehatan mental.

Kita maklum saat mendengar orang yang mengerang kesakitan karena terluka. Mengapa sulit untuk memaklumi bahwa mereka yang punya masalah kesehatan mental juga butuh ruang untuk mengerang? Kadang, apa yang menurut kita lebay, terlalu drama, terlalu toxic ternyata adalah seruan minta tolong paling serius. Seperti yang sudah terjadi pada saudari kita, Novia Widyasari. Tak bisa dipungkiri bahwa media sosial saat ini menjelma menjadi teman nyata bagi sebagian orang. Bukan hanya sebagai ruang tipu-tipu seperti kata kebanyakan orang. 

Bagikan
Post a Comment