Kesolidan Tercipta di Atap Negeri
Suatu ketika kami para pemimpi yang mempunyai rencana untuk mengadakan kegiatan di alam bebas. Sebut saja namanya Sipana, Husna, dan Padila. Sang pemimpi tersebut memang sudah basicnya suka berkegiatan di alam bebas. Pada saat itu ketika bertepatan dengan hari libur, mereka mempunyai agenda untuk pergi ke sebuah tempat tidak lain tujuannya adalah untuk mendaki gunung.
Mungkin di khalayak banyak orang pasti terbesit pikiran kenapa sih naik gunung? Udah capek-capek naik, nantinya juga turun lagi. Namun bagi kita mendaki gunung adalah sebuah panggilan alam yang patut kita syukuri. Mendaki gunung mempunyai makna tersendiri bagi kita, memiliki kenikmatan yang tidak bisa semua orang merasakannya.
Jika boleh dikata, bagi kita mendaki gunung adalah self healing terbaik, bagaimana tidak! Di sana kita bisa merasakan ketenangan yang sesungguhnya jauh dari peradaban bisingnya kota. Bahkan ada suatu pertanyaan yang belum saya dapatkan jawabannya hingga saat ini. Yaitu, pertanyaan yang sering orang-orang lontarkan.
Kenapa Naik Gunung
Kenapa sih naik gunung? Dan saya hanya menjawab entahlah, seperti candu yang ada dalam aliran darah, gunung dan alam liar selalu memanggil untuk kembali. Sedikit mengutip cerita bagaimana awalnya bisa menjadi pegiat alam. Ya memang kita sudah suka dan kegiatan di sekolah dulu pun juga sangat mendukung yaitu mengikuti organisasi sispala
Di mana kita diajarkan untuk bertahan hidup di alam bebas dan pastinya banyak ilmu yang didapatkan untuk terjun langsung ke lapangan. Suatu hari kita para pemimpi merealitaskan agenda yang sudah kita inginkan semenjak dulu. Yaitu pergi ke gunung dengan tujuan mendaki.
Berhubung kebetulan saya mempunyai teman dari luar kota kita para pemimpi memutuskan untuk rencanapergi bersama. Nah kebetulan kita semua belum pernah saling mengenal dekat namun hanya sebatas chatting di media sosial. Namun entah mengapa kita sudah saling percaya satu sama lainnya tidak berfikir hal-hal negatif.
Intinya kita niatkan hanya untuk tadabur alam. Kami sudah mempersiapkan keperluan untuk mendaki dengan matang. Dengan standart safetypara pendaki entah itu keperluan pribadi maupun kelompok. Kami semua berangkat dari kota masing-masing dan memutuskan untuk bertemu di titik kumpul yakni di rumah kawan yang lokasinya dekat dengan basecamp pendakian.
Nah, ada yang excited nih kebetulan ternyata temen saya kenal sama mereka-mereka yang saya kenal di media sosial tadi. Ternyata temen pas waktu di pondok dulu. Terbesit di pikiran “hah apa benar nih dunia memang sempit sekali haha”.
Dari situ kita sudah saling akrab seperti sudah lama kenal, padahal baru beberapa jam. Ya memang di situlah nilai plus anak pegiat alam, bagi saya mereka tidak memandang apapun entah itu masih kecil muda bahkan dewasa sekalipun bisa saling menyatu dan tidak melirik latar belakangnya seperti apa. Intinya kita sama di hadapan alam semesta dan sang Pencipta.
Di Suatu Pendakian
Pukul 12:00 tepat, setelah kita sampai di basecamp pendakian dan melaksanakan sholat, kami mengumpulkan perlengkapan dan membentuk tim pendakian yang berjumlah 15 orang . Setelah itu kita menuju tempat registrasi, di situ kita dibriefing sebelum melakukan perjalanan pendakian. Nah, belum taukan kalian, kita mendaki ke mana?
Jadi kita pergi mendaki ke salah satu gunung yang ada di Jawa Timur yang lebih tepatnya berada di kabupaten Mojokerto. Setelah kita briefing tepat jam 13:00. Kita melakukan doa bersama yang diniatkan untuk keselamatan dalam perjalan pendakian, dengan harapan tidak ada kendala suatu apapun. Setelah itu kita melakukan perjalan yang akan ditempuh dengan estimasi 4 jam menuju puncak.
Kita awali dengan jalan santai bersama rekan pendakian, yang diiringi dengan obrolan hangat pelipur lara. Tidak terasa, pos 2 mucul di hadapan mata, sedikit lega tapi terasa cemas, karena pos pendakian mencapai 4 tempat peristirahatan. Jalan masih panjang, tenaga semakin berkurang, nafas semakin sesak.
Senja mulai muncul mempercantik langit saat kami berada pada pos 3 pendakian, di situ kita mengistirahatkan diri untuk sedikit mengatur nafas dan menghibur diri dengan candaan-candaan receh ala pendaki. Sesampainya di puncak kita mulai membongkar isi tas carier yang telah kita angkut dengan punggung masing-masing tadi.
Sebagian tim ada yang memulai mendirikan tenda dan sebagian lain nya menyiapkan makanan untuk mengisi tenaga yang terkuras oleh jalur pendakian yang cukup curam. Tenda sudah berdiri kokoh dan makanan sudah siap tersaji, pertanda waktu eksekusi dimulai. Ets tapi jangan lupa kewajiban kita, meskipun kita mendaki berada pada ketinggian dan jauh dari mata air, tetapi kewajiban sebagai hamba harus tetap ditunaikan.
Belajar Mountaineering
Lantas bagaimana kita menunaikan jika jauh dari air? Yaps, jawabannya adalah TAYAMUM. Malam semakin larut, hawa dingin pun mulai menghampiri. Namun bukan pertanda untuk tidur, melainkan untuk menyeduh secangkir kopi dengan ditemani obrolan filosofi ilahi. Waktu menunjukkan pukul 12:30 suara bising hewan-hewan liar mulai beriringan dengan angin malam.
Sebenarnya rasa kantuk belum menghampiri namun raga ini harus dipaksa untuk tidur, karena masih ada perjalanan menuju puncak keesokan harinya. Supaya energi ini tetap stabil dan semua bisa melakukan perjalanan menuju puncak yang di mimpi.
Pada tengah malam terjadi kejadian yang tidak kita inginkan dari 15 rekan kita ada salah satu yang terserang gejala Hipotermia, salah satu penyakit yang bisa menyerang para pendaki saat di ketinggian dengan gejala menggigil berlebihan, dan ada gangguan pada pernafasan, beruntungnya salah satu rekan pendakian kita sudah pernah menangani kasus gejala hipotermia.
Di sinilah pentingnya belajar pendidikan mountaineering sebelum terjun ke lapangan. Jadi kita mendaki tidak hanya sekedar asal asalan namun alangkah baiknya mengetahui ilmunya. Karena sekarang banyak kejadian para pendaki meninggal di karena kecerobohan diri yang hanya mentingkan eksistensi.
Sinar mentari mulai muncul dengan cahaya nya yang hangat, kicauan burung pun mulai bersautan. Pertanda hari sudah pagi, jam menunjukkan pukul 05:00, semua bersiap untuk meninggalkan camp untuk menuju puncak dengan estimasi 1 jam, sesampainya di puncak kami berfoto ria, melepas penat, saling senyum atas keberhasilan dan kekompakan para tim melawan ego diri saat berada pada jalur pendakian.
Waktu mulai menuju siang kami pun memutuskan untuk turun kembali pada kaki gunung dan bercerita tentang pengalaman perjalalan pendakian. Pesan yang dapat kita ambil dari perjalaan ini adalah jika ada pilihan antara tantangan dengan ketenangan dalam suatu pendakian, tentu saja saya akan memilih ketenangan.
***
Sebagaimana dalam perjalanan hidup, tantangan atau masalah selalu merepotkan. Meski demikian, masalah hidup seperti halnya tantangan dalam mendaki gunung merupakan bagian yang tak terpisahkan. Yang lebih penting dari keindahan adalah keselamatan.
Yurika Nur Fadhilah lahir pada 8 September 2002 di Kediri,Jawa Timur. Memiliki hobi Hiking merupakan mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung semester 1 prodi Paikologi Islam. Email yurikanurf@gmail.com instagram @fadilatn08
