Berpisah demi Mimpi atau Bersama demi Orang Tua
Seketika air mata ini meleleh ketika melihat adegan Putri Kaguya dijemput orang tua dan keluarganya untuk pulang ke bulan dalam Film The Tale of Princess Kaguya keluaran pabrik film anime Studio Ghibli. Duh, di umur segini saya masih mewek gara-gara film itu terasa sedikit berdosa, tapi apa daya, memang begitu kisah aslinya. Suara musik latar yang menyayat dan pernyataan putri Kaguya yang tidak ingin berpisah dengan bapak dan ibu angkatnya seperti pisau yang berhasil mengupas kulit yang menyelimuti hati. Membuka dan membongkar semua isinya. Bahwa, hal yang paling kita enggankan adalah berpisah.
Sang putri akhirnya dibawa keluarganya menuju bulan. Pada adegan berikutnya memperlihatkan bapak ibu angkat sang putri menangis tersedu dan tersengguk meratapi kepergian sang putri yang telah mereka rawat sejak kecil bak anak sendiri. Adegan itu diambil dari sudut pandang atas. Memperlihatkan mereka menangis di tengah istana yang luas dan megah. Adegan itu menjad pisau kedua yang berhasil mengorek bahwa tanpa kebersamaan, kekayaan sebanyak apapun tiada artinya.
Seketika itu saya teringat tentang orang-orang yang saya sayangi dan yang menyayangi saya; yang lebih dahulu terpisah. Tentang ayah, kakak, paman, bibi, sepupu, kawan baik yang kini tidak lagi bersama. Senyum, tawa, dan amarah mereka yang biasanya punya terjemah yang bertolak belakang tiba-tiba menjadi satu terjemahan tunggal, kasih sayang.
***
Semua orang rasanya sepakat bahwa berpisah itu menyakitkan. Dan, saya rasa semua orang juga sepakat bahwa kita sering terlupa jika bersama itu sebuah kebahagiaan. Nanti, setelah berpisah, kita baru ingat kembali betapa bahagianya bisa bersama. Seperti kata Bang Rhoma, kalau telah tiada baru terasa. Namun, yang menjadi soalan adalah bukan tentang rasa sakitnya, tetapi tentang bagaimana asbabun nuzul atau motif dari perpisahannya.
Seketika itu juga saya ingat tentang kisah suatu sore di Kota Solo. Saat saya dihadapkan pada pilihan memperjuangkan karir di kota serabi itu atau kembali pulang ke Jakarta bekerja seadanya namun dekat dengan keluarga, khususnya orang tua.
Di awal saya mendaftar saya sangat bersemangat untuk mendapatkan pekerjaan itu. Pekerjaan yang bergengsi di sebuah lembaga pendidikan tinggi yang bergengsi pula. Terlintas khayalan-khayalan indah mampir di kepala. bahwa suatu saat saya akan jadi “orang”.
Segala daya dan upaya saya lakukan untuk mendapatkan pekerjaan itu. Terhitung hampir 1 tahun saya menyiapkannya. Dimulai dari belajar Toefl, ikut tesnya, sampai mempersiapkan tetek-bengek dokumen semacam surat keterangan sehat jasmani dan rohani, dan dokumen lainnya.
***
Hari itu adalah tahap terakhir dari 4 tahap yang sudah saya lewati. Saya enggan menghitung dana yang harus saya keluarkan untuk perjalanan Jakarta-Solo di masa pandemi. Tidak hanya tiket yang harus saya kantongi, tapi ada juga tes swab yang harus saya ikuti. Semua demi pekerjaan impian ini. Semua demi keluar dari zona nyaman yang menurut OKB-OKB yang hits di Instagram zaman sekarang menjadi kunci sukses menjadi kaya, jika tidak mau dibilang cinta dunia.
Tapi hari itu, sore di kota itu yang biasanya indah berubah jadi hambar. Serabi hangat yang legit menjadi tawar. Perut yang biasa lapar menjadi begah, tidak ada nafsu makan. Biang kerok dari semua itu adalah bayang-bayang tentang berpisah. Bahwa di sini, di kota ini, saya tidak akan lagi bersama, saya akan berpisah dengan orang yang pasti menyayangi saya.
Saya tersadar bahwa mengambil pilihan ini sama artinya dengan saya tidak lagi menemui senyum orang tua saya di setiap subuh. Hal yang saya anggap selama ini receh seketika menjadi momen yang mahal. Terbayang percakapan kecil setiap subuh tentang hal-hal sepele ditemani kicauan burung-burung yang mulai mencari rezeki di subuh hari yang sedikit dingin. Dan, kok ya saya sadar itu setelah saya selangkah lagi diterima kerja.
Hati ini berkecamuk. Perasaan bahwa diri ini bodoh semakin menyeruak ke permukaan. Saya ratapi kebodohan itu sambil menikmati susu sapi murni Shi Jack. Susu yang biasanya gurih dan nikmat, kini menjadi seperti air mineral, biasa saja. Perasaan bodoh itu semakin dalam terasa ketika saya ingat sebuah percakapan seorang paman.
***
Ketika itu saya dan keluarga dihadapkan pada sebuah pilihan dilematis. Ayah saya yang menderita sakit diabetes tidak ikhlas jika telapak kakinya harus diamputasi. Di sisi lain dokter berkata bahwa tidak ada pilihan lain kecuali amputasi.
Kita hanya perlu memilih, manut dengan wasiat ayah yang konsekuensinya adalah kematian atau melihat ayah kami hidup tapi tanpa kaki. Bukan persoalan berjalan yang waktu itu kami pikirkan, tapi tak tega rasanya melihat ayah yang biasa bermajelis dengan bapak-bapak di warung dekat rumah menjadi orang rumahan karena malu dan sebagainya.
Pilihan itu begitu sulit. Kami keluarga inti dan seorang paman beradu ego tentang masalah ini. Sampai akhirnya seorang paman bertanya pada paman Kami satunya, “Bud, kalo ada orang yang bisa mengembalikan Ibu kita yang udah meninggal, tapi Ibu kita Cuma bisa rebahan sama senyum, ga bisa jalan dan ga bisa ngomong tapi kita harus bayar 5 Miliar buat dapetin itu, kira-kira kamu mau gak nyari duit 5 Milyar buat ngembaliin Ibu Kita?”
Sontak paman saya yang satu menjawab, “Pasti mau. Kalo perlu minjem terus kita bayar nyicil.”
Pernyataan paman itu pada intinya adalah ingin menjelaskan tentang betapa berharganya bisa selalu bersama orang yang kita sayangi walaupun hanya sekadar melihat dia hidup dan bernafas.
Bukankah itu yang kita sering rasakan. Interaksi kita dan orang tua di rumah memang bisa dihitung jari. Kita lebih banyak berinteraksi dengan gadget atau pekerjaan. Tapi, setiap mereka tidak ada di rumah kita selalu mencarinya, “Ibu kemana ya?” atau “Bapak kok lama banget pulangnya”.
Dan, setelah mereka berdua ada di hadapan kita pun, kita tidak berbuat apa-apa. Paling hanya bertanya, “dari mana?”. Setelah itu sudah. Semua kembali pada aktivitas masing-masing. Namun ada perasaan tenang, hangat dan damai saat kita tahu ada anggota keluarga kita di rumah.
***
Bayangkan, ayah dan paman-paman saya yang harus berpisah karena ajal, tidak ada pilihan, saja mau mengeluarkan uang begitu besar untuk mengembalikan orangtuanya. Demi bisa bersama kembali. Lah, ini saya malah punya pilihan untuk bersama eh malah memilih untuk berpisah. Apa tidak semakin merasa bodoh diri ini?
Seketika itu khayalan-khayalan indah menjadi “orang” berubah menjadi khayalan yang menyakitkan. Di saat itu saya mulai bertanya, apakah iya keluar dari zona nyaman dengan menggadaikan kebersamaan dengan keluarga adalah satu-satunya harga yang harus saya bayar untuk menggapai kesuksesan?
Apa memang begitu sukarnya menggapai sukses namun tetap dekat dengan orang tua, dekat dengan keluarga sehingga harus berpisah? Seketika itu saya mulai ragu dengan istilah keluar dari zona nyaman.
***
Sebuah buku karangan Agustinus Wibowo sudah berada di tangan saya. Judulnya Titik Nol. Di entah halaman berapa saya lupa, ia menuliskan tentang pengalaman perjalanannya menjelajah sudut dunia yang eksotis.
Perjalanan yang terkesan gagah itu kini seperti tidak ada artinya saat ia tahu Ibunya sakit dan ia tidak ada disampingnya karena penjelajahan itu. Di bagian itu ada satu quote yang saya highlight, “selagi ayah bundamu masih ada, jangan engkau pergi jauh.”
Tiba-tiba saya ingat seorang ustad berkata bahwa salah satu nikmatnya surga adalah kita di sana bisa kongkow dengan orang-orang yang kita sayangi. Bisa bersama kembali dengan keluarga. Dan, bukan hanya itu, kita juga bisa request ingin bertemu keluarga kita dalam keadaan apa dan bagaimana. Karena di surga semua keinginan terkabul.
Seketika juga saya coba menyimpulkan bahwa mungkin sebenarnya inti dari kenikmatan surga bukan terletak pada sungai susu, dan sungai lainnya, keinginan yang pasti terkabul, khayalan yang pasti menjadi nyata, buah-buahan yang tinggal petik tanpa musim, dan segala fitur lainnya. Jangan-jangan inti dari kenikmatan surga adalah kita kembali bersama dengan orang-orang yang kita sayangi.
Penggemar Branding, Penyuka Parenting, Sesekali Backpacking.
