f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
copy paste

Fenomena Copy Paste, Antara Kemalasan dan Eksistensi

Suatu saat, seorang teman marah-marah setelah diberikan ucapan semoga dapat momongan pada hari ulang tahunnya di group whatsapp yang juga saya ikuti. Awalnya saya heran, diberi ucapan yang baik kok malah marah-marah?

Usut punya usut, ternyata ucapan itu berawal dari komentar iseng seorang anggota group WA. Ia menjadi marah ketika komentar iseng itu dicopy paste oleh lebih dari setengah member group WA yang jumlahnya puluhan orang hingga nyaris seperti doa berjamaah.  Bagaimana mau nambah momongan, wong anaknya saja sudah enam.

Group Whatsapp memang tempat yang tepat untuk ngeksis. Apalagi kalau salah satu anggotanya adalah mantan gebetan. Tapi  kalau hanya komen asal-asalan hasil copy paste  saja apakah bisa memenuhi definisi eksistensi?

Eksistensi sebenarnya berasal dari bahasa latin existere yang artinya muncul, ada, timbul dan berada. Karena bisa menjawab pertanyaan ‘bagaimana menjadi manusia unggul?’ Maka eksistensi semestinya  terdefinisi sebagai keberanian untuk merealisasikan diri dengan jujur dan berani. Itu definisi yang sudah cukup tua karena diungkapkan oleh Neitzche, filsuf Jerman yang hidup di abad ke-18.

Menilik definisi tersebut, betapa tinggi eksistensi dihargai di masa lalu. Apakah wajar bila di masa kini, dengan mengatasnamakan eksistensi, orang hanya perlu melakukan copy paste? Apakah merealisasikan diri dengan jujur bisa dilakukan seiring dengan kemalasan menggerakkan jari sehingga untuk komentar sesederhana ucapan selamat ulang tahun saja harus dilakukan dengan mencuri komentar yang sudah muncul sebelumnya?

*

Kemudahan teknologi saat ini memang semakin menebalkan kemalasan. Sebagai anak asuh google dengan berbagai kemudahan mengakses informasi, pelajar dan mahasiswa di masa kini pun mulai terpapar fenomena copy paste ini.

Terlebih pada masa pembelajaran jarak jauh terkait pandemi saat ini, soal ujian dengan tingkat kerumitan setinggi apapun bisa dengan mudah dipecahkan dengan cara googling. Tak perlu repot memahami materi, namun juga tak harus khawatir tak lulus ujian.   

Baca Juga  Kreasi Bola-Bola Udang, Cemilan Sehat dan Bergizi

Namun saking malasnya, terkadang untuk pertanyaan; “apa pendapat Anda..bla..bla..bla…” yang semestinya harus dijawab dengan cara menuangkan isi kepala sendiri pun tetap ditelusuri jawabannya dari internet; seakan mereka memang sudah terlalu malas untuk berpikir. Atau kebiasaaan itu membuat mereka tak lagi punya pendapat sendiri?

Saya sempat terhenyak ketika di halaman depan Facebook saya muncul postingan dari group statistika yang saya ikuti. “Ada yang bisa jadi joki untuk ujian statistika jam empat sore ini?” rasanya jengah membaca  postingan seperti itu diantara orang-orang cerdas yang sedang belajar statistika.

Bayangkan saja kalau di tengah pertanyaan-pertanyaan serius mengenai analisis Friedman, uji validitas, distribusi normal, regresi linier berganda atau simpangan baku ternyata terselip pertanyaan wagu dari pelajar males yang ingin mempertahankan eksistensi dengan memperoleh nilai tinggi tapi terlalu malas untuk mempelajari materi.

Lebih mencengangkan lagi ketika postingan itu ada yang menanggapi dengan berkomentar ; “Kebetulan saya mahasiswa jurusan matematika tingkat akhir..bla..bla ..bla..” yang naga-naganya bersedia menjadi joki. Aduh duh..

Copy Paste dari Generasi ke Generasi

Praktek serupa itu sebenarnya sudah ada sejak jaman baheula. Kalau sampai detik ini fenomena itu masih saja terjadi,  bukankah itu bukti nyata betapa tidak kreatif bin malasnya pelajar kita?  Apakah kemalasan itu memang sudah ada dalam kode genetik yang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi?

Meskipun demikian, di masa lalu plagiat masih menjadi  dosa besar yang sangat memalukan bagi pelakunya. Kini orang bahkan dengan terang-terangan meniru apapun yang terpampang di media sosial. Seakan sudah menjadi pola, apapun yang viral segera akan diikuti oleh beragam variasi tiruannya.

Bisa dipahami bahwa di era digital ini, menjadi viral berarti mendatangkan banyak uang. Youtubers yang kontennya sering viral bahkan sukses menjadi youtubers terkaya di nusantara. Siapa tidak tergiur?

Baca Juga  Gen Z Tolak Pelecehan Seksual

Sialnya, orang dengan tingkat kemalasan akut pun terkadang tergiur mengikuti fenomena ini,  kemudian membuat tiruan dari hal yang sedang viral itu tetapi dengan mutu yang lebih rendah. Begitulah awalnya mengapa media sosial di Indonesia kemudian dibanjiri postingan yang tidak mencerminkan kreatifitas anak negeri yang adi luhung ini.

Kemalasan apabila disandingkan dengan kebutuhan atas eksistensi memang menjadi kombinasi yang luar biasa buruk. Apakah kita rela bangsa kita nampak bodoh dan tak terdidik bila ditinjau dari postingan viral dengan konten yang tidak bermutu hasil copy paste?

Sambil geleng-geleng kepala saya segera meng-clear chat semua pesan di group Whatsapp dengan belasan komen berderet yang hampir  seragam. Kali ini ucapan dukaccita atas meninggalnya salah seorang anggota group.

Kalau niat awalnya berkirim pesan memang untuk menunjukkan kepedulian, mengapa tidak sekalian saja menunjukkan empati dengan mengetik pesan yang bersifat lebih pribadi daripada sekadar copy paste? Atau apabila memang tak cukup peduli, bukanlah lebih baik tak menghabiskan memori, toh yang bersangkutan juga sudah tak bisa lagi membaca pesan?

*** 

Bagikan
Post a Comment