Ssstt, Perempuan Memang Makhluk yang Tak Bisa Diam
Perempuan memang nggak bisa diam. Statement itu sudah mirip fatwa. Secara spontan kerap ditafsirkan bahwa cewek identik dengan cerewet. Emak itu bawel. Ibu-ibu itu dari sono-nya cenderung berisik.
Ketika bicara, perempuan susah disetop. Apalagi pas ngrumpi, ibarat mobil zig-zag di turunan curam, cuma nginjak pedal gas, lalu bertanya, “Woy, gimana caranya berhenti?”. Mereka tak tau di mana pedal remnya.
Masih ingat film pendek “Tilik” yang men-cekrek ramainya mulut sekumpulan emak-emak di bak truk bersama Bu Tejo? Kesan demikian mudah direspon dengan angguk-angguk setuju oleh kebanyakan orang. Tak terkecuali kaum hawa itu sendiri.
Tentu saja, ini stereotip banget. Sayangnya, acapkali dianggap pandangan yang final. Mewujud sebagai kebenaran.
Faktanya, banyak kok perempuan yang irit ngomong. Dan sebaliknya, tak sedikit laki-laki yang boros kata. Lagi pula, perempuan nggak bisa diam, harus dipandang dengan lensa yang lebih terang.
Yuk, kita update maknanya, dengan cara positif.
Perempuan itu selalu bergerak. Ibu-ibu rumah tangga bisa jadi lebih aktif. Mungkin lebih sibuk ketimbang bapak-bapak yang eksis ranah publik. Sekalipun perempuan juga yang bekerja di luar rumah, banyak yang tetap berjuang memainkan dobel peran.
Bukankah peran ganda hanya tempelkan pada perempuan? Memikirkan pekerjaan di kantor, pabrik atau tempat kerja lainnya, dalam waktu bersamaan berbagi konsentrasi memikirkan anak-anak dan keluarga di rumah.
Perempuan muslim misalnya, setiap bulan Ramadan datang menjadi makhluk tersibuk sedunia. Ibu-ibu adalah orang pertama yang sibuk di dapur, tetapi penyantap terakhir ketika berbuka. Dini harinya, mereka menyalakan semangat, bangun dari tidur, setengah melek menyajikan santap sahur. Begitu berakhir, mereka juga yang terakhir untuk membereskan segala sesuatunya. Hari-hari puasa akan memuncak sibuknya saat lebaran. Sibuk mendisplay jamuan, melayani tetamu yang datang.
Di zaman serba digital, sekalipun kita sudah tak harus pergi ke pasar konvensional kemudian pulang dengan keranjang penuh kangkung, tetap saja perempuan nggak bisa diam. Coba deh, tengok kiri dan toleh ke kanan. Siapa sih yang paling aktif jualan online, sepertinya kebanyakan perempuan.
Dukungan teknologi membawa perempuan lebih terkoneksi, kreatif dan produktif. Perempuan bertranformasi menjadi makhluk yang lihai dalam task switching. Menggeser mana yang harus dikerjakan sekarang, lima menit berikutnya, berganti tugas lain, kemudian menit selanjutnya geser pada tugas berbeda, dan beralih pada tugas lainnya lagi, tetapi tak lupa kembali ke tugas pertamanya. Begitu seterusnya, selalu on, seolah tak ada tombol off-nya.
Tetapi, bukannya perempuan itu memang lebih cerewet?
Iya, itu mungkin tak salah. Apalagi atas berkah medsos yang mahahadir, perempuan kapan saja dan di mana saja bisa bicara. Amati whatsapp-mu sekarang juga. Lihat deretan status, bandingkan mana di antara laki-laki dan perempuan yang lebih banyak teks, posting, curhat, quote ini-itu. Mereka aktif, eksis dan narsis di facebook, instagram, tiktok dan media sejenisnya. Kanal-kanal media telah menjadi mikrofonnya.
Tetapi bisa jadi, di balik realitas perempuan sebagai makhluk paling cerewet, tersimpan sejumput penjelasan. Perempuan di mana-mana, nyaris di semua budaya, dibatasi suaranya di ruang publik. Di ranah agama, di lembaga politik, di banyak wilayah, benua dan bermacam-macam tradisi serta adat. Karenanya, mereka butuh saluran. Paling tidak pelepasan. Jalan pelarian. Lewat medsos itulah portal jalan terbuka.
Perempuan memang makhluk yang tak mau diam. Konon, DNA perempuan adalah berkumpul dengan teman-temannya. Karena dari jaringan inilah terbuka kerjasama. Dalam sejarah peradaban, pada zaman manusia laki-laki tengah sibuk berburu berburu kijang dengan tombaknya, perempuan lebih banyak ditinggal di gubuk atau tempat tinggal. Mereka mencari kerang-kerang, mengumpulkan biji-bijian atau belajar bertanam sayuran. Jangan lupa, di dalam gendongannya, ada bayi penerus generasi. Sementara orang tua yang renta dan tak sanggup berburu dan meramu, menjadi tugasnya untuk dijaganya.
Diam-diam mereka tumbuh menjadi makhluk gemar berbagi. Secara alamiah mereka gemar berkomunikasi dan bertetangga. Menjalin koneksi dan kerjasama. Coba lihat jejaknya sekarang. Siapa sih, yang lebih punya inisiatif menautkan kerabat, siapa yang suka menyambung silaturahim dengan sahabat, sepertinya para perempuan ada di depan.
*
Konon, laki-laki itu tumbuh dengan kompetitif. Perempuan berkembang dalam dunia kompromi. Dibandingkan laki-laki, perempuan relatif tak suka kelas-kelas sosial. Mereka cenderung egaliter. Ini, tercermin dalam potret peran perempuan sangat kuat dalam dalam berdagang seperti tradisi di Jawa.
Ini diakui bahkan oleh banyak pakar. Kalau tak keliru, hasil riset James T. Siegel. Untuk bertransaksi dibutuhkan kesetaraan antara pembeli dan penjual. Dalam masyarakat Jawa, lebih mungkin jika transaksi dilakukan dengan bahasa ngoko. Tinjauan antropologi memperlihatkan bahwa laki-laki yang suka mengangungkan kedudukan dan kelas. Berebut kasta, jabatan, posisi, tahta dan kuasa.
Jadi, berterimakasihlah karena perempuan terbentuk sebagai kaum yang lebih mementingkan bagaimana di rumah ada kestabilan, ada makanan untuk disajikan, tersedia simpanan logistik untuk cadangan.
Perempuan tak bisa diam, adalah perempuan yang tak kenal lelah. Bukan berarti lebih kuat dari laki-laki. Bukan lebih kebal, melainkan tetapi lebih tahan. Energinya yang tak mudah habis. Dalam dirinya, seperti tersimpan power bank, nyawa cadangan, Ia lebih survive ketika ditinggal pasangan, jauh lebih berdayatahan dibanding ketika laki-laki ditinggal perempuan. Statistik membuktikan, perempuan yang ditinggal pasangan (suami) lebih berumur panjang dibanding laki-laki ketika ditinggal istri.
Perempuan memang nggak bisa diam. Perempuan juga punya hak bicara, tak cuma di ruang domestik. Tetapi punya hak pendapat di ruang publik. Perempuan nggak bisa diam. Artinya perempuan terlatih untuk sibuk. Perempuan juga tahan banting. Perempuan terdidik untuk aktif. Dan yang perempuan butuhkan adalah kesetaraan kesempatan.
Ini sama sekali bukan berarti perempuan paripurna. Melainkan kita mesti berbaik sangka.
Nah, kalau kamu menafsirkan secara stereotip, perempuan tak bisa diam sebatas dimaknai sebagai makhluk cerewet saja, jangan-jangan kamulah yang berisik. Kalau masih begitu, jauh lebih asyik kamu aja yang diam. Iyaaa, kamu. Entah kamu laki atau perempuan.

Semula ayanya berniat menyematkan Nurul Ka’bah di akta kelahiran sebagai namanya. Bertautan kisah itu, kata “cahaya” diwariskan menjadi nama puterinya. Keseharian ia menjadi policy analyst di Pemerintah Kota Tegal. Suka membaca dan menulis menjadi caranya untuk “mencahayai” setidaknya untuk dirinya sendiri.

Rerepardede
Perigud kawan…👍