Narasi Generasi Muda dalam Membangun Cita-cita

4 menit baca
Teks:
WhatsApp

Alkisah, seorang pemuda tampak tegap berdiri memandang tajam keluar – melihat deretan gedung raksasa yang menjulang tinggi dari balik jendela ruang kerjanya. Pandangannya jauh melayang menembus ke suatu pedusunan nan sejuk; sambil menyelami masa kecilnya di sebuah dusun tempat tinggal Kakek dan Nenek yang membesarkannya.

Rekaman masa kecilnya, menjelajah kembali menembus ruang waktu bersama teman sebaya saat mereka bermain di pematang sawah.  Canda tawa dan cerita tentang cita-cita hadir dari kedua bocah cilik yang merindu belajar ke kota untuk mewujudkan mimpi, menjadi aparat desa.

Kini, waktu telah membawa kedua bocah cilik ini tumbuh menjadi sosok yang dicitakan. Sang pemuda tengah berjuang menjadi peneliti muda yang saat ini mengabdi untuk tanah airnya. Begitupun teman kecilnya kini menjadi pemimpin di dusun tempat tinggal mereka.  Sebuah perjalanan yang menguatkan tentang cita-cita generasi muda.

Storytelling ini menjadi refleksi tentang generasi.

Bangsa ini memiliki cita-cita besar yang menguatkan anak negeri. Merujuk pada kandungan pembukaan UUD 1945, terdapat cita-cita untuk melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Kandungan ini menegaskan bahwa banyak hal yang mendasari gerakan anak muda; pelangsung cita-cita sekaligus penggerak bangsa ini. Kesiapan untuk menghadapi perubahan sangat penting bagi siapapun termasuk generasi muda.

Adanya kesiapan terhadap perubahan tersebut tidak lepas dari rangkaian budaya yang  berjalan. Khususnya bagi generasi muda. Di mana dalam menghadapi era 5.0 atau era teknologi ini, perlu  kesiapan runtutan masa yang berjalan sebelumnya.

Sejarah hadirnya revolusi industri 1- 4,  berawal dari adanya masyarakat yang nomaden/ hidup berpindah. Kemudian munculnya masyarakat yang mengawali gerak dengan membuka lahan pertanian inipun berangsur – berubah karena kebutuhan yang menuntut dinamika kehidupan mengubah pola  menjadi masyarakat industri. Masyarakat industri  menjadi terus berkembang menuju masyarakat informasi.

Akhirnya, kita memasuki era teknologi yang lebih membuka tantangan dan peluang bagi generasi.  Inilah rekam jejak yang menjadi acuan untuk generasi atau anak muda menyiapkan dri dalam membangun kreativitas dan inovasi dalam menghadapi era 5.0.

Pentingnya Kreativitas

Simfoni atau keterpaduan kreativitas, inovasi dan teknologi ini diharapkan tidak merubah tatanan generasi muda dalam mewujudkan cita-cita bangsa. Sebab nilai-nilai yang dibangun oleh founding father/perintis bangsa ini tentang kesejahteraan umum; bagaimana memanusiakan manusia dengan mengkolaborasikan hadirnya teknologi, namun tidak berarti menggantikan peran sumber daya manusia.

Inovasi bagi generasi dalam kontribusinya harus terfokus pada inovasi berjangka pendek dan menengah. Inovasi berjangka pendek dapat terealisasikan dengan kebutuhan untuk menyiapkan sumberdaya yang berkualitas di era teknologi.

Generasi di era teknologi dapat mencipta kreativitas seperti membuat alat/ media – mesin yang membantu penyelesaian kerja dan memudahkan dalam layanan publik. Sebab hadirnya teknologi mesin secanggih apapun tidak bisa menggantikan peran manusia yang memiliki kesatuan dari mulai thinking, communicating, sensing, moving, imagining dan connecting.

Sedangkan inovasi berjangka menengah yakni dengan menyiapkan tata kelola kolaborasi manusia dan teknologi. Seperti yang kita baca bersama sebelumnya, bahwa peran manusia seutuhnya tidak bisa digantikan oleh kecanggihan mesin buatan manusia itu sendiri.

Untuk itulah penguasaan terhadap teknologi harus kita persiapkan sebaik mungkin. Dengan menyatupadukan pengetahuan dan keterampilan yang kita miliki, kompetensi generasi yang berkualitas akan tercapai dengan baik.

Inovasi berjangka pendek dan berjangka menengah ini perlu didukung dengan beberapa hal. Berikut ini yang perlu disiapkan generasi muda dalam menyiapkan kualitas di era 5.0.

Pertama, generasi yang terlibat aktif di masyarakat di mana keterlibatan mereka menjadikan mereka mampu melekat dengan masyarakat yang memerlukan kebutuhan dan informasi terkait teknologi dan ruang lingkupnya.

Kedua, integritas generasi muda memiliki tanggungjawab untuk ikut aktif dalam perubahan melalui adaptasi dengan lingkungan baru berupa teknologi.

Ketiga, kompetensi generasi muda yang tidak hanya siap berkompetisi dengan dunia luar; namun bagaimana memberi kontribusi bagi bangsa ini, yakni kemampuan utuh antara pengetahuan dan ketrampilan.

Keempat, kemampuan untuk saling berbagi dan semangat memberi melalui kepemimpinan. Maksudnya bahwa generasi muda berani tampil dan memberi warna bagi semesta. Kepemimpinan generasi muda merupakan cermin dari kepemimpinan suatu bangsa. Ketika generasi muda menjadi baik, jadilah yang terbaik untuk membangun negerinya. Semoga…

Bagikan:
Penulis 37 Tulisan

Dyah Pikanthi

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Mahasiswa Program Doktoral Universitas Airlangga Surabaya

Leave a Comment