Kaum Transaksional dengan Kecemasan
Entah apa pertimbangannya setiap ada berita duka dari keluarga yang meninggal di grup whatsApps, semua anggota kompak menunjuk saya sebagai petugas pengepul uang santunan untuk keluarga yang berduka.
Saya berusaha sigap mengemban amanah dari para penghuni grup. Segera posting nomor rekening dengan maksud agar uangnya segera terkumpul dan bisa kita berikan kepada keluarga yang sedang berduka.
Sebagai bukti pertanggungjawaban atas uang yang sudah masuk, mulai deh saya list nama dan jumlah uang yang sudah masuk transfer. Tak saya duga munculah permintaan anggota agar tidak dicantumkan nama yang transfer cukup diganti “hamba Allah”. Kemudian, belum sempat saya menjawab, muncul lagi permintaan anggota agar tidak dimunculkan nominal rupiahnya; cukup cantumkan namanya saja. Yang lebih hebat lagi ada yang complaint karena penulisan nama dalam list yang transfer tertukar antara F dan P. Ada-ada saja.
***
Saya mulai belajar memahami karakter anggota grup yang mulai arogan. Untung saja nggak ada yang minta saya bayarin dulu uangnya. Aduh malah curhat suasana berduka orang lain. Maksud saya kok di saat berduka sempat-sempatnya berdebat hanya masalah penulisan laporan uang yang sudah masuk. Padahal yang berduka tidak menutut apapun.
Dalam situasi apapun rupanya, beberapa orang masih mengagungkan self esteem alias harga diri di posisi puncak kepribadian. Bahkan terkesan ingin menunjukan status sosialnya di lingkungan tertentu. Saya malah gerundelan sendiri membaca permintaan para penghuni grup WA saat melihat total transferan ternyata tidak sebanding dengan jumlah penghuni group. Ah sudahlah saya nggak boleh berpikir negatif
Begini nih kalau sudah ada kabar duka di grup, atmosfir penghuni group sepertinya berusaha toleran dengan keadaan. Penyokong kisah-kisah politik yang nggak jelas ujungnya, berita hoaks yang ga ada penyelesaiannya, si kolektor emotikon yang nyeleneh, saat ini lebih sering mengirim link tentang ceramah para ustaz-ustazah kondang, kadang kisah motivasi dan inspiratif.
Senang, bahkan bisa bikin tenang, saat membaca artikel-artikelnya, plus suguhan ceramah di youtube dari ustaz – ustazah kondang. Bagi saya ini sangat bermanfaat dalam memperkaya ilmu pengetahuan khususnya dalam hal ibadah dan tips berperilaku baik. Apalagi sejak pandemi, kajian rutin di berbagai majelis banyak yang ditiadakan. Alhasil sepertinya saya mengalami kemiskinan ilmu pengetahuan.
Padahal saya bukanlah tergolong kepada jamaah yang rutin ikut acara majlis ilmu. Nggak juga ikut kelompok kajian khusus dalam komunitas tertentu. Tapi untuk urusan pengetahuan agama setidaknya saya jangan sampai buta. Maklum naluri seorang bapak yang punya anak-anak; yang serba ingin tahu dan perlu bimbingan, serta persiapan serangan istri yang otak kirinya sangat dominan saat bertanya.
***
Dampak dari saya yang miskin ilmu ini. Sejak awal menikah, berkali-kali saya ribut kecil dengan istri saya. Gara-garanya ada satu pendapat yang selalu menciptakan distraksi atas kebiasaan saya menuliskan nama di amplop saat ada kondangan nikahan atau sunatan dari kerabat atau tetangga rumah.
Lalu kenapa selalu muncul ribut kecil sama istri? Sebab menurut istri saya, kondangan itu sama saja kita memberikan bantuan dengan cara yang ikhlas tanpa berharap ada timbal balik. Bahkan jika ditulis nama, sama saja membebani hutang bagi si penerima uang.
Hasilnya ya salah satu dari kami akan mengalah sambil bersungut-sungut terutama saya, Hehehe. Karena saya menganggap kondangan adalah investasi yang bisa dipetik hasilnya saat kami kembali mengadakan acara yang serupa. Rupanya menurut istri saya, saya termasuk orang yang transaksional, nggak ikhlas dalam memberikan uang kondangan, karena masih berharap ada timbal baliknya.
Kali ini saya dapat pembanding dari postingan kawan di media sosial, tentang kegiatan berbagi sembako dengan para pemulung, kaum dhuafa dan para musafir. Nampak wajah berseri penuh kebanggaan dari para panitia. Meskipun sangat bertolak belakang dengan wajah para penerima sembakonya yang nampak datar bahkan terkesan menghindari jepretan kamera selfie dari panitia pelaksana.
Awalnya saya salut dan bangga dengan postingan singkat photo kegiatan mereka yang sedekah. Dengan berbagai hashtag spiritual.
#Cuma ingin berbagi dengan orang yang ga mampu.”
#Ingin bermanfaat untuk orang lain.
#Dalam harta kita ada hak fakir miskin.
#Supaya dimudahkan segala urusannya.
#Dimudahkan mendapatkan pekerjaan
#Dimudahkan mendapatkan jodoh.
#Dilancarkan usahanya.
#Supaya cita-citanya segera terwujud.
Dan masih banyak lagi.
***
Lalu, tanpa saya sadari, saya ternyata terjebak ke dalam sifat transaksionaldengan Allah Swt. Saat berbuat baik, berharap ada pujian dan balasan bukan hanya dari Alah Swt. Yang dikhawatirkan adalah saat harapannya tak kunjung datang, terus mau nyalahin Allah gitu? Astaghfirulloh aladzim. Padahal Allah memberi udara setiap saat kepada semua mahluknya. Saya jadi malu sama Allah.
Jadi masih berani berharap apapun saat berbuat kebaikan kecuali berharap rida dari Allah Swt. Karena godaan setan si terkutuk itu jauh lebih besar ketimbang niat baiknya. Yang awalnya murni hanya ingin bantu sesama, tiba-tiba muncul ide share photo narsisnya ke berbagai group di handphone, upload di media sosial sebagai bukti kita hidup di era 4.0 ini.
Hasilnya jadi bias antara murni ingin berbuat baik karena Allah Swt atau ingin mendapatkan tempat dihati follower dan sahabat bahwa kita termasuk kaum dermawan yang suka berbagi dengan orang lain. Padahal hati ini dalam kecemasan jangan-jangan Allah tidak suka dengan apa yang saya lakukan.
