f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
generasi

Antitesis Generasi Islam Milenial

Belajar dari generasi..

“Torang hampir mati, Dok. Jerigen minyak so jatuh semua ke laut. ABK so menangis samua kecuali Kep (Nahkoda). Torang so ikat jerigen jadi pelampung. HP so tarada, jatuh ke laut”. Cerita Kawal Buton sambil tertawa saat kembali dari perjalanan kapal mengantar bahan bangunan untuk renovasi masjid Muhajirin desa Lata Lata.

Saya ikut miris membayangkan kapal kayu kecil dengan muatan 3 ton dihantam ombak ganas laut Kasiruta selama 4 jam.

***

Lain kali, dia datang lagi dengan senyum khasnya bercerita hampir mati ketika sepeda motornya tergelincir jatuh kejurang saat membina mualaf di desa Bori.

Memang unik dan hebat teman saya ini. Tubuhnya kurus, berkulit gelap dan tawa khasnya selalu muncul setiap cerita. Meski usianya masih muda, daya jelajahnya tinggi. Ibaratnya seluruh pulau pulau di Halmahera Selatan sudah ia jajaki.

Meski sudah 12 tahun mengenalnya ada saja kejutan kebaikan yang saya lihat.

“Eh, Dok. Torang belum bayar ojek dari Babang.” kata Kawal suatu ketika.

“Eh bagaimana bisa, uang jalan dan uang makan tara dikasih bendahara?“ Tanya saya.

“Dikasih banyak, Dok. Tapi, uangnya torang belikan beras, gula dan teh masyarakat yang kerja bakti biking masjid.”

Memang saat itu yayasan kami sedang membangun kembali masjid desa Yomen yang hancur lebur akibat gempa Gane.

“Dok, bisa tarada kasih kita beberapa sak semen? Torang buat musala di Toukona, kasihan masyarakat di sana, ada 35 keluarga tara salat dan tara bisa baca Quran. Torang so kumpul-kumpul pasir ambil disungai dan ada uang sisa uang perjalanan torang simpan untuk itu”

Dan ini lagi. “Dok sumbang kita beberapa seng kah, untuk musala”. Katanya lagi sambil melanjutkan cerita bahwa ada 20 keluarga di gunung atas desa Gandasuli yang jauh dari masjid terdekat.  Menyerah! Saya angkat tangan tidak mampu berlomba kebaikan dengan dia.

***

Kisah lain yang sama hebatnya juga pada Ansar Ahmad. Seorang dai muda yang berdakwah di desa Lata Lata, desa rawan akidah di ujung timur Halmahera Selatan.

Baca Juga  Opu Daeng Risaju dan Refleksi Perempuan Masa Kini

Pertama kali saya bertemu dai ini dengan kesan pertama tidak terlalu meyakinkan. Badan kurus dan kecil, terkesan ringkih  dan sepertinya satu generasi, seumuran Kawal Buton.

Sempat terbayang permintaan yayasan kami kepada seorang dai senior untuk membina desa terpencil ini. “Apa tarada desa lain, Pak Dok. Yang tara kepala angina (keras kepala)“.  Tapi  malahan anak muda ini mengajukan diri berangkat berdakwah ke desa itu.

Sempat terlintas dibenak saya, apa kuat ya melintas ombak Kasiruta yang terkenal ganas. Tapi saat kami berdiskusi tentang dakwah mualaf, terasa semangat besar beliau.

Pertama kali ke desa ini, berangkat ustaz Ansar membawa serta istri yang sedang hamil dan 2 anaknya. “Eh ustaz apa tidak berangkat sendiri dulu, survei tempat lah, kan belum jelas rumah tinggalnya.” Saya memang tidak terlalu yakin dengan perkataan kepala desa Lata-Lata dulu, menjanjikan rumah tinggal untuk dai dan memberi tambahan gaji setiap bulan. Memang saya selalu ragu bila orang terlalu mudah memberi janji.

 “Tenang saja, Dok. Allah akan tolong.” Jawab ustaz Ansar sambil tersenyum. Senyum ikhlas tanpa beban yang sama seperti Kawal.

“Ustaz Ansar tinggal di rumah pinjaman dari mualaf Dok. Rumah kayu lapuk di tepi laut. Saat ombak rumah bagoyang.” lapor Kawal Buton.

Ternyata beliau tinggal di rumah pinjaman sekaligus sebagai perpustakaan masjid darurat dan tempat anak –anak mengaji.

.

Saat rapat evaluasi dai, beliau banyak bercerita “Saya datang silaturahmi dari rumah ke rumah setiap hari, sekaligus menjadi guru sukarela di SMA di sana. Torang pe gaji buat beli gula, kopi dan teh sadikit untuk hadiah saat silaturahmi.” Sambungnya.

“Saat itu, masjid Muhajirin tidak terawatt. Salat jumat tidak ada dan tidak ada azan. Mualaf perempuan bercelana pendek dan tidak memakai jilbab. Kalo minum-minum so biasa di sini.“ Halmahera Selatan memang terkenal sebagai desa penghasil minuman keras. Beliau bercerita mualaf di Lata Lata biasa ikut hadir di acara keagamaan non muslim, sambil minum -minum.

Baca Juga  Resolusi 2021, Senantiasa Menjadi Hamba yang Bertaqwa

“Aawalnya saya ditolak oleh pak imam masjid, saat pidato disuruh turun di hadapan masyarakat non muslim, torang ditertawakan semua orang,“ sambungnya.

“Masjid sepi, tarada azan dan jarang ada salat, Dok. Listrik siang tarada. So kita belikan minyak (bensin), belikan speaker agar bisa azan dan kasih suara mengaji sebelum salat. Torang buat perpustakaan masjid dari buku donator. Apa yang torang buat, ditiru pihak sebelah“ (non muslim –pent).

“Dok, di Lata-Lata sekarang ada suara mengaji sebelum salat, azan deng speaker. Begitu azan mualaf seperti dapat komando datang ke masjid, semua mualaf.  Mengaji dan taklim ramai di rumah ustaz” lapor Kawal. Alhamdulillah kami memilih dai yang tepat untuk desa Lata-lata.

***

Kisah ketiga lagi tentang teman sejawat saya yang juga Ketua Jamaah Masjid ASy Syifa (JMS). dr. Rivadin Nurwan, dokter spesialis anak yang sudah bertugas di Halmahera Selatan sejak 5 tahun yang lalu.

Meski tidak semuda Kawal Buton dan ustaz Ansar, dokter lulusan UGM ini selalu bersemangat muda bila berdakwah.  Pasca bencana gempa 7,2 SR di Halmahera Selatan Juli 2019, beliau yang mengkoordinir dan memimpin langsung tim tanggap bencana JMS. Menyusuri desa-desa di Bacan Timur hingga Gane. Padahal saat itu cuaca sangat tidak bersahabat, ombak besar dan angina kencang menghantam perahu tim ini.

Beda dengan saya yang takut ombak, dr. Rivadin terbiasa dengan ombak besar sejak menjadi dokter PTT di Maluku. Beliau sibuk sebagai ketua IDI dan menjadi pengajar di fakultas kedokteran sebuah universitas di Ternate, tapi konsennya terhadap dakwah mualaf tinggi. Beliau yang merancang program dakwah di desa desa rawan akdiah di pojok pojok Halmahera Selatan. Singkat kata usia matang tapi semangat muda

Baca Juga  Rofiqoh Darto Wahab, Perempuan Generasi Pertama Kasidah

Pemuda memang aset agama ini. Kata pemuda atau fatayat, Al syabaab dan Al syaab disebut beberapa kali dalam Al-Qur’an dan hadis.

Di dalam surat Al Kahfi juga menceritakan tentang pemuda – pemuda yang berjuang mempertahankan imannya. Juga bagaimana kisah pemuda Ibrahim yang menghancurkan berhala. Rasulullah memberitahukan jaminan keselamatan terhadap pemuda menghabiskan masa mudanya untuk berjuang dan beribadah kepada Allah.

***

Teman – teman saya memang unik dan antithesis kondisi generasi pemuda Islam pada umumnya. Di saat yang lain sibuk dengan karir, sosok-sosok  ini sangat peduli dengan kondisi mualaf di daerah terpencil.

Meski Kawal Buton lulusan Cum Laude sarjana kesehatan masyarakat dari sebuah universitas negeri, dia memilih pekerjaan membina masyarakat meski tanpa karir dan jaminan gaji. Biasanya, dengan prestasi seperti ini kebanyakan generasi di usianya akan mengejar karir di pemerintahan atau menjadi PNS.

Bersamaan dengan lunturnya nilai nilai keislaman di kalangan muda, kita saksikan diberbagai media sosial, konten-konten youtube berisi pertunjukan kemewahan.  Justru dibuat oleh youtuber terkenal beragama Islam. Juga berbagai konten yang mengajarkan pencapaian hasil secara instan. Semua hal di atas mengajarkan generasi milenial Islam ini menjadi generasi yang lemah dan malas berjuang.

Melihat sosok Kawal Buton, ustad Ansar Ahmad dan dr. Rivadin  membuat saya tidak kehilangan harapan terhadap sosok generasi muslim milenial. Masih ada di pojok-pojok Indonesia sosok-sosok pemuda yang terus berjuang dan memberi harapan.

Bagikan
Post a Comment