f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
taaruf

Taaruf: Solusi atau Pelarian?

Manusia tercipta dengan kodratnya sebagai makhluk sosial. Bersosialisasi menjadi kebutuhan pokok sekaligus sebagai bentuk tidak sanggupnya manusia apabila terlepas dari manusia yang lain. Kebutuhan manusia untuk saling bersosialisasi melahirkan perasaan seperti ketertarikan, kepedulian, dan dorongan untuk saling berhubungan dalam jangka waktu yang lama. Hal inilah yang memicu seseorang untuk maju ke jenjang pernikahan. Salah satu yang banyak ditempuh yakni melalui taaruf.

Tentunya, tidak semua orang memiliki orientasi yang sama. Sebagian orang lainnya justru menginginkan hubungan untuk saling mengenal sebelum memasuki kehidupan pernikahan. Dalam Islam, terdapat istilah taaruf yang artinya saling mengenal. Dalam makna yang luas, taaruf berarti sebagai berkenalan, sedangkan makna sempitnya adalah proses berkenalan antara laki-laki dan perempuan yang ingin menikah. Prosesnya pun sesuai dengan ajaran Islam.

Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang memilih pacaran dengan dalih untuk mengenal calon pasangan sebelum menikah. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2017 dari bkkbn.go.id, Selasa (13/8/2019), sebanyak 81% remaja perempuan dan 84% remaja laki-laki telah berpacaran. Batubara (2016) menyebutkan bahwa remaja akan mulai memiliki atau berganti-ganti pacar di usia 15–17 tahun, lalu mereka akan mulai serius berhubungan dengan lawan jenis pada usia 18 tahun hingga akhirnya mencapai fase siap menikah.

***

Pacaran pada remaja sudah menjadi fenomena yang dekat dengan masyarakat. Bahkan, seringkali para pemuda-pemudi menganggap pacaran sebagai tren yang hanya bertujuan agar gaul. Hal itu diiringi dengan gaya berpacaran yang saat ini sudah mulai menjurus kepada perilaku seks bebas. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengungkapkan bahwa pacaran menjadi pintu masuk berbagai ancaman bagi perempuan, seperti kehamilan di usia dini, kehamilan di luar nikah, kehamilan tidak diinginkan, dan berpotensi terinfeksi penyakit seksual.

Baca Juga  Dari Resolusi Ala Story Nasruddin Hoja Menuju Tradisi Sahabat Nabi

Adanya kekhawatiran terhadap kondisi tersebut membuat banyak komunitas atau forum pemuda bermunculan. Komunitas-komunitas tersebut mengajak anak muda untuk menjauhi pacaran sekaligus menantang mereka untuk segera menikah melalui jalur taaruf. Ajakan tersebut lengkap dengan bumbu cerita indahnya kehidupan pernikahan. Hal ini bertujuan agar anak muda terhindar dari zina dan ancaman hamil di luar nikah.

Di sisi lain, ajakan seperti itu justru membuat angka pernikahan usia dini di Indonesia semakin meningkat. Menurut United Nations Population Fund (UNFPA) dari voaindonesia.com, Sabtu (11/7/2020), Indonesia menempati peringkat ke-8 dengan perkawinan usia dini tertinggi di dunia. Satu dari lima anak berusia di bawah 18 tahun di seluruh dunia sudah menikah. Padahal, perkawinan sebelum usia 18 tahun berpotensi membahayakan nyawa, meningkatkan angka kematian ibu, dan sebagainya.

Ada juga sebagian pemuda-pemudi yang menyadari dampak buruk dari pacaran. Hal ini karena sudah banyaknya kegiatan sosialisasi tentang kesehatan reproduksi. Namun, kesiapan untuk menikah yang masih rendah dan sulitnya untuk berpisah membuat mereka mempertahankan hubungan. Bahkan, mereka memilih untuk mengganti istilah ‘pacaran’ dengan ‘taaruf’. Alasannya karena esensi keduanya yang sama, yaitu untuk saling mengenal.

***

Semakin lama, semakin banyak orang yang melakukan tindakan ini. Mereka menggunakan istilah ‘taaruf’ tanpa mematuhi aturan-aturan yang berlaku hanya untuk sekadar membungkus tindakan berpacaran. Padahal sudah sangat jelas sekali perbedaan di antara keduanya. Pacaran saat ini merupakan salah satu perbuatan yang mendekati zina, seperti zina mata, zina hati, dan sebagainya. Bahkan, banyak orang yang berpacaran tidak mengetahui tujuan dari perbuatannya itu, lebih banyak hanya untuk bersenang-senang.

Berbeda dengan pacaran, taaruf bermaksud untuk mengenal calon pasangan agar tidak ada penyesalan di kehidupan pernikahan nanti. Tujuan dari taaruf pun sudah jelas, yaitu untuk menikah. Dalam menjalani taaruf, laki-laki dan perempuan saling berkomunikasi dengan orang ketiga. Selain itu, jangka waktu yang ideal dalam melakukan taaruf adalah dua belas minggu atau tiga bulan. Terakhir, orang yang menjalankan taaruf tentunya lebih siap menikah daripada orang yang masih berpacaran.

Baca Juga  Bolehkah Menolak Pinangan Seseorang yang Baik Agamanya?

Generasi muda harus mengerti bagaimana aturan-aturan dalam menjalani taaruf agar tujuannya dapat tercapai dengan baik. Pengetahuan adalah faktor terpenting untuk membentuk karakter seseorang dalam setiap tindakan. Pengetahuan tentang keagamaan, kesehatan reproduksi, taaruf, dan kehidupan pernikahan yang sesungguhnya sangat penting agar generasi muda tidak terjerumus pada dampak negatif akibat berpacaran dan terhindar dari risiko bercerai setelah menikah.

***

Komunitas yang mengajak generasi muda untuk tidak berpacaran juga dapat mendukung langkah tersebut dengan beberapa syarat tertentu, misalnya tidak menambahkan ‘bumbu-bumbu penyedap’ tentang kehidupan pernikahan. Komunitas pemuda seharusnya mendorong generasi muda untuk lebih produktif dalam mengejar cita-citanya. Hal ini efektif karena komunitas berisi orang-orang yang memiliki tujuan atau karakter yang sama. Ditambah lagi dengan adanya paradigma yang mengatakan bahwa seseorang cenderung mengikuti corak dari komunitas yang diikuti.

Taaruf dapat menjadi solusi apabila kita mengetahui esensi yang sebenarnya. Generasi muda yang masih belum siap menikah diharapkan untuk fokus mengejar mimpi sekaligus mempersiapkan diri. Bagi yang sudah ada di tahap pengenalan menuju pernikahan, ingatlah bahwa pacaran hanyalah istilah, begitu juga dengan taaruf. Yang membedakan adalah (dan hanyalah) proses menjalaninya yang tentu saja bergantung pada tindakan masing-masing pasangan.

Bagikan
Comments
  • Jihan Rahmi Nabila

    Masyaallah…,

    April 6, 2021
  • Rahma***i

    MasyaAllah

    April 9, 2021
Post a Comment