f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
setahun

Setahun kepergianMu

Lelaki terhebat, yang kadang cuek namun perhatian yang luar biasa; yang air matanya sangat mahal tapi bukan dia kuat. Hanya karena dia pandai menyembunyikan kesedihannya, rela bekerja tanpa kenal waktu hanya untuk orang yang disayanginya. Nasihatnya penuh dengan pengharapan, lewat bulir-bulir keringatnyalah sesuap nasi itu.

Bapak, sosoknya yang tak tergantikan. Bapakku bukan seorang Vajiralongkorn presiden Thailand yang memiliki kuasa, bukanlah sosok Muammar Gaddafi. Bapakku adalah sosok yang sederhana yang bagiku jauh lebih hebat. Bapak banyak mengajarkanku, banyak hal yang bahkan tidak kujumpai di bangku sekolah. Figurnyalah yang menjadi contoh bagi anak anaknya.

Ayah, dalam hening sepi kurindu
Untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan

Lirik ebiet G Ade di atas membuat mataku sembab dan suara yang gemetar. Betapa tidak, tanggal 17 Maret bertepatan dengan 1 tahun kepergian bapakku. Kehadiran bapak tidak hanya menjadi motivator ataupun seorang teladan, tapi ia adalah cinta pertama bagi saya, anak perempuannya. Mengisahkannya dalam kehidupan tak akan pernah habis kata untuk menguraikan sosoknya yang sabar, jujur, pekerja keras dan perhatian.

Meski sosok bapak sudah tiada, tapi ajarannya sangat saya patrikin. Saya belajar banyak hal dari sosok bapak. Kejujurannya yang saya sangat sukai.

Pernah suatu ketika bapak saya membeli rokok di warung tetangga, tapi karena uang kembalinya lebih, bapak menyuruh saya untuk mengembalikannya. Waktu itu juga. Padahal jam sudah menunujukkan pukul 20.00.

Bukan hanya itu. Dulu, ketika menjual barang campuran yang ditempatkan di teras rumah, bapak tidak pernah membiarkan itu. Apalagi saya untuk membungkus gula pasir menggunakan liter, takutnya tidak sesuai dengan takarannya, dan jika bapak berutang meski hanya 500 rupiah pasti dia akan menyampaikan ke tiga anaknya. Bapakku selalu berpesan kepada anak anaknya “nak tettong ngi di malempue” (bugis; berdiri pada kejujuran)

Baca Juga  Mama : Malaikat Dunia
…

Berada dalam keluarga yang serba kekurangan, menempah saya menjadi anak perempuan yang harus sekuat baja meski sebenarnya begitu rapuh.

Bapak saya pernah ikut menyelam. Karena sakit, akhirnya dia kerja sebagai tukang bangunan, yang kadang dapat kerja, kadang tidak atau mengerjakan sawah milik keluarga. Dengan mengumpulkan kekuatan yang tersisa, dia berjalan kaki untuk sampai ke tempat kerja. Di saat usianya sudah memasuki 60 Tahun, beliau tetap memaksakan diri untuk kerja bangunan. Padahal kami, anak-anaknya sudah sering melarangnya. Tapi karena alasan tanggungjawab kepada keluarga, sehingga kulit yang mulai keriput, jalan yang mulai tertatih ia tetap bekerja.

Berbagai cara yang kau lakukan agar senyum tetap merekah di wajah anak anakmu. Aku tahu bagaimana engkau begitu berusaha dengan keras itu terlihat dari kerutan wajahmu yang mulai berlapis. Ini semua demi keluarga yang kau sayangi merasa bahagia, tercukupi, dan terlindungi.

Ya Allah tempatkan bapakku di sisiMu. Dengan segala keterbatasan di keluarga kami, tidak membuat bapakku mundur untuk menyekolahkanku, walau hanya memakai seragam bekas tetangga.

Masih terekam jelas pesan bapak ketika saya mau sekolah mulai dari SD, SMP bahkan sampai di bangku kuliah. Pesannya tetap sama “Nak ku massikolao, masikkola peddikko nak”  (bugis; nak kalau kamu sekolah, kamu harus sekolah miskin) yang maknanya saya tidak boleh melihat ke atas, tidak boleh ikut ikutan dengan yang lain.

Wahai bapak, engkau betul seorang pemimpin bagi kami. Sosok bapak yang luar biasa, bapak memang tidak pernah mengandung, tapi setiap tetes darah yang mengalir ada darahnya, bapak memang tidak pernah menyusui, tapi tetesan keringatnyalah yang membuat kita sehat, bapak memang tidak meninabobokkan kita, tapi dialah yang terjaga memastikan bahwa kita baik baik saja.

Baca Juga  Nikah Usia Dini : Solusi Keharmonisan Rumah Tangga?
…

Bapak sebagai sahabat dalam kehidupan, tak peduli keadaanya yang sakit atau capek. Ia akan setia menanyakan anak anaknya. Darinya, kami belajar bagaimana hidup harus bangkit dan survive di tengah terjalnya kehidupan. Sosoknyalah yang mempersiapkan dan memastikan agar anak-anaknya mandiri dan siap untuk memasuki hari esok, saat kecil ayahlah yang mengajarkan kita untuk bersepeda dan mengajarkan bagaimana bangkit disaat jatuh.

Titip rindu buat ayah..

Jiwa ini begitu rapuh saat bersimpuh di pusaranmu

Ingin ku cabut batu nisan ini

Bapak, rindu ini begitu sesak

Rinduku padamu tak bertepi

Bukan kepergianmu yang kutangisi,

Namun ketidakhadiranku di saat engkau menemui pemilikMu

Berbagai tanda telah kau perlihatkan kepadaku,

Hanya saja anakMu yang lemah ini tak mampu membacanya

Merapal doa, sebagai baktiku kepadamu

Beristrahatlah engkau dengan tenang

Terima kasih, engkau telah menantarkan aku tumbuh dewasa

Bagikan
Post a Comment