Beauty Privilege, Bagaimana Standar Cantik Muslimah Sebenarnya?

4 menit baca
Teks:
WhatsApp

Belakangan ini, beauty privilege menjadi perbincangan hangat dikalangan wanita, tidak terkecuali para muslimH sendiri. Mereka menyibukkan diri untuk mencari cara bagaimana terlihat cantik versi masa kini untuk mendapatkan perlakuan khusus dan perhatian banyak orang. Terlebih dengan statement bahwa “orang cantik mah bebas” yang membuat perempuan berlomba-lomba berada di posisi itu.

Lantas apakah beauty privilege itu sendiri? Beauty privilege merupakan suatu penggambaran keberuntungan seseorang dengan mendapat wajah yang menawan sehingga membuatnya di istimewakan pada semua hal. Seakan hanya mereka yang terlahir cantik yang nantinya akan mendapat kemudahan dalam bersosial, lancar dalam mencari pekerjaan, mendapat tempat istimewa dalam pertemanan dan lain sebagainya.

Anggapan Untung Cantik

Realitanya, kita banyak menemui kasus yang meloloskan si pemilik wajah cantik maupun ganteng saat mereka melakukan kesalahan. Misalnya, berbicara kurang baik di sosial media, memposting sesuatu yang tidak pantas, dan hal-hal yang melanggar syariat lainnya. Hal ini hadir lantaran adanya anggapan untung cantik dan untung ganteng yang sudah meracuni pikiran banyak orang.

Selain itu dengan berbekal wajah rupawan membuat mereka seakan terbebas dari kasus pembulian, karena lagi-lagi “orang cantik mah bebas”. Sedangkan orang memiliki fisik di bawah rata-rata atau buruk; jangankan untuk beropini, segala hal yang dilakukan dianggap menjijikan dan langsung dihujat. Astaghfirullah.

Standar Kecantikan

Disadari ataupun tidak, kita telah lama menerapkan standar cantik dan gantengnya seseorang terletak pada fisik saja dan mengabaikan bagaimana agama kita mengajarkannya. Kebanyakan orang menentukan sendiri standar seseorang dikatakan cantik dan ganteng dengan standar buatan mereka dan bukan lagi syraiat Islam sebagai standar hidup.

Yang sering terdengar dan terlihat oleh kita, cantik selalu tentang mereka yang berkulit putih bersih, hidung mancung, bibir tipis, alis tebal, semampai bodynya dan rentetan fisik sempurna lainya. Dan inilah standart yang nantinya akan menghancurkan dan merendahkan para perempuan. Bahkan mereka menjadi selalu cemas dan tidak puas dengan fisik yang Allah berikan.

Cantik Jadi Level Tertinggi

Nah dari sinilah keingginan untuk tampil cantik dan mendapat beauty privilege semakin menggebu di kalangan wanita. Kecemasan mereka ditangkap oleh para pengusaha kosmetik dengan mengeluarkan berbagai macam produk kecantikan mulai dari pemutih, memuluskan wajah, melangsingkan body dan lain sebagainya.

Karena beauty privilage ini banyak menyita perhatian kaum wanita untuk mempercantik parasnya agar sesuai dengan standar kecantikan masyarakat sekarang, itu membuat mereka tergerak dan membeli produk kecantikan seperti skincare dan make up agar terlihat cantik.

“Kalau mau cantik? Milikilah kulit putih bersih dan wajah glowing!” Penawaran dari para pengusaha ini telah membentuk mainset cantik seperti produk yang mereka jual, sehingga mendarah daging di masyarakat. Masyarakat juga ikut membuly orang yang tidak memiliki wajah rupawan; sampai seolah wajah rupawan adalah level tertinggi dari manusia dan dianggap seperti kemuliaan. Sehingga membuat kita lupa, bagaimana sebenarnya strandar kecantikan itu.

Standar yang Sebenarnya

Seperti itulah kekacauan ketika kita tidak menimbang dan memutusakan suatu perkara tanpa adanya Islam sebagai acuan. Padahal sebagai seorang muslim Al-Qur’an hadir untuk mengatur segala hal mulai dari kita bangun tidur sampai kita kembali tidur. Begitu juga dengan hadis yang memberikan kita penjelasan dari jawaban yang bersifat universal. Harusnya sebagai umat Islam kita tidak boleh lepas dari koridor itu.

Islam adalah solusi, Islam adalah jawaban dan Islam adalah agama yang sempurna, tentu selalu memiliki aturan yang dapat menyelamatkan manusia, sekalipun dalam hal anggapan cantik. Allah berfirman dalam Q.S Al- Ahzab : 33

وَلَا تَبَـرَّجۡنَ تَبَرُّجَ الۡجَاهِلِيَّةِ الۡاُوۡلٰى…..

“…dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah (yang dahulu)..”.

Dan Rasulullah SAW bersabda :

“Allah akan melaknat wanita yang suka mentato tubuhnya dengan cara memasukkan jarum yang disertai nilai atau celak dalam tubuhnya (al-mutausyimah), wanita yang mencabut bulu-bulu disekitar waajahnya, termasuk yang memperpendek dan menghilangkan bulu alisnya (al-Mitamaishah), wanita yang mengikir celah-celah giginya supaya menjadi renggang (al-Mutafallijat), yang mengubah ciptaan Allah.” [HR. Bukhari dan Muslim]

***

Sudah jelas dari dua dalil tersebut bahwa kita tidak boleh berhias secara berlebihan jika hanya ingin dikatakan cantik menurut standar yang mereka tentukan; tidak perlu mengubah apa yang sudah Allah berikan kepada kita. Sedangkan kita tetap dibolehkan untuk merawat diri, sebagai contoh ketika kita memiliki luka noda hitam dan jerawat yang harus disembuhkan.

Standar sebenarya bagi seorang wanita muslim adalah ketika kita punya pola pikir sehat dan islami, juga pola sikap yang senantiasa memperhatikan hukum syara’. Karena cantiknya akhlak dan tingginya imanlah yang akan menentukan kemuliaan kita di hadapan Allah sebagaimana juga tercantum dalam Q.S Al-Hujurat : 13.

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا‌ ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ

”Wahai manusia! Sungguh kami telah manciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lahi Maha Mengenal”

Jadi, dari pada kita sibuk untuk bisa melampaui standar cantik dan berlomba-lomba mendapat beauty privilege; alangkah lebih baik nya kita fokuskan diri untuk bisa masuk di golongan orang-orang yang Allah sebut mulia. Karena sejatinya arti kata cantik di dunia tidak bisa menjamin kamu cantik di mata Allah.

Leave a Comment