f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
teman mama

Menuliskan Ibu

Rahmania mungkin sudah membaca tulisan Butet RSM yang berjudul Perjumpaan-Perjumpaan yang Menjadi Anugerah .

Dalam tulisan itu, Butet bercerita tentang perjumpaannya dengan sosok yang disebut Oma. Dia adalah Semilia, mama saya yang tahun ini menjelang usia delapan dekade.

***

Mama sulung dari lima bersaudara. Tidak dididik untuk trampil memasak dan beberes rumah, melainkan bersekolah, belajar dan menjahit. Sayang semua proses belajarnya tak pernah mencapai status tertentu. Sekolah mama terhenti di D1. Bahkan kemampuan menjahit yang akhirnya bisa mengajarkan belasan siswa, tidak diteruskan usai menikah.

Mama menikah karena dijodohkan. Ia didesak segera menikah demi tidak melanggar mitos, yang katanya bila dilangkahi adik laki-lakinya, nanti jadi perawan tua, Akhirnya Mama terpaksa setuju menikah dengan laki-laki yang baru dikenalnya dan berbeda usia sebelas tahun.

Papa berkarakter baik dan jarang marah, karenanya saya lebih menyayanginya. Apalagi saat saya tahu ketika Mama malu dengan dirinya yang mudah sekali hamil – setelah melahirkan kakak, enam bulan kemudian ia hamil lagi – ia mencoba menggugurkan saya berulang kali. Kondisi itu diperburuk dengan ketidakmampuan Mama menyusui saya akibat perdarahan usai melahirkan. Tak pernah ada fase saya menyusui dari payudara Mama, sehingga mungkin ini membuat tak ada bonding  – kemelekatan-  antara saya dan Mama.

Papa bekerja memperbaiki kamera dan peralatan fotografi, bisa dipastikan keadaan ekonomi keluarga tidak baik. Mama sering memarahi Papa akan kejujuran dan kebaikan hatinya memberikan hutangan, bahkan pembebasan biaya untuk fotografer yang memakai jasanya. Pertengkaran sering terjadi seputar kekurangan uang, lalu memuncak menjadi amarah Mama kepada Papa, lalu ke anak-anak.

Hal itu membuat saya benci kepadanya. Ada masa-masa saya membutuhkan dekat dengan Mama sebagai anak perempuan, yang malah diisi oleh Papa. Saya masih ingat, tak ada yang memberi pembekalan tentang menstruasi sehingga saya kebingungan ketika terjadi pertama kali.

Membenci dan Membahagiakan

Kebencian itu terus membesar, sesering saya bertengkar dengan Mama. Kesulitan ekonomi semakin memperburuk hal itu, di mana Mama sibuk mencari uang. Sejak kelas 5 SD sampai SMP, saya ditugaskan mendampingi Papa ke mana-mana karena kondisi fisik terus menurun. Kedekatan itu, banyaknya father daughter time, membuat saya makin mengagungkan sosok Papa.

Baca Juga  Menakar Kesungguhan

Bertahun kemudian, setelah paham konsensual hubungan suami istri; saya baru menyadari betapa menderitanya Mama. Papa tipe yang tidak terbuka dalam hubungan suami istri. Istri dianggap harus mau melayani, suka tidak suka, siap tidak siap. Meski kemudian Papa yang memilih melakukan KB vasektomi, sikap Papa tidak mengubah kebencian Mama. Penderitaan itu tidak tersampaikan ke saya sehingga saya hanya bisa merasa benci kepada Mama yang membenci Papa.

Ketika Papa berpulang yang tersisa adalah beban dan penyesalan Mama karena mau tak mau kini full menjadi kepala rumah tangga. Beban karena Mama tak berpendidikan tinggi, juga penyesalan karena ia tak berijasah apa-apa, tak memiliki pekerjaan semisal guru les jahit, yang sudah ditinggalkannya.

Penyesalan itu berbuah kesulitan untuk bahagia. Seringkali saya berusaha mem’bahagia’kan Mama dengan mengajak, memberi atau membelikan ini itu, tapi jarang disyukuri sepenuh hati. Coba saja belikan ia makanan. Pertanyaan awal berapa harganya. Jika mahal, sedikit pujian dilontarkan. Namun jika cenderung murah, akan ada kritik di ujung perkataannya. Ukuran kebahagiaannya kini hanya pada uang.

Anehnya 19 tahun lalu, Mama memilih tinggal bersama saya, partner bertengkarnya. Padahal saya dan suami senang merantau dan tentu saja beresiko. Sejak ikut kami, Mama sudah ikut berpindah rumah lima kali. Beberapa kali ia turun tangan membantu, karena sebenarnya merasa cemas berada dalam kondisi tidak pasti. Tapi untuk tinggal bersama keluarga kakak saya, ia menolaknya.

Hari Tua Mama

Saya pernah berkata kepadanya, “Sudahlah, Mama lebih beruntung dari ibu X atau bapak Y karena lebih sehat.” Walau terindikasi diabet dan hipertensi, kondisi Mama lumayan fit di usia jelang delapan puluh. Meski tahun terakhir ia sempat diopname dua kali, namun semangat untuk pulih mengalahkan segalanya. Akan tetapi, hal itu hanya sesaat disyukurinya ketika prihatin mendengar teman lain dengan kondisi sakit.

Baca Juga  Urusan Rampas-Merampas Hak Orang Lain, Kitalah Juaranya

Tinggal bersama keluarga saya juga menghadirkan pengalaman baru. Kebanggaan sebagai nenek yang lebih dahulu punya cucu, laki-laki pula, tapi terlahir autis itu benar-benar mengoyak perasaannya. Mama yang terakhir besikap denial tentang Arsa. Bila tak ada insiden Arsa menghilang saat bepergian berdua dengannya atau merasakan ada yang mengolok-olok Arsa monster saat di keramaian, tentu ia akan terus ‘menolak’ Arsa yang autistik. Kadang dia bilang, aku tak sanggup berada di posisimu. Sering terlihat air mata di pelupuknya saat Arsa berlaku begini dan begitu, yang tentu saja tidak menunjukkan tindak laku anak yang normal.

Kebalikannya saya justru sedih Mama tak punya sahabat dekat, apalagi di hari tuanya kini. Sepertinya ketika dulu sibuk mencari uang, dia ‘melupakan’ dan tidak merasakan pentingnya punya sahabat untuk berbagi. Kehadiran orang di sekitarnya adalah in purpose, berdasar kepentingan.

Ketidakmampuan berinteraksi ini menjadikannya toxic person. Bila ada seseorang yang memperhatikan, Mama akan langsung ‘menempel’ dan menganggap sahabat sejatinya. Apapun diberikan lalu sepamrih seenaknya ia meminta tolong. Semuanya mau tak mau mengikuti proses itu, lebih karena sungkan karena Mama orang tua, atau sungkan untuk memberitahukannya kepada kami.

Apapun yang terjadi dalam keluarga bahkan bisa diceritakan dengan gamblang. Saya sudah terbiasa mendapat imej buruk yang tanpa sadar dibentuk Mama.

Anak yang Akan Jadi Teman Mama

Di awal pernikahan saat saya belum juga hamil, seorang Bapak memarahi saya. “Kamu tuh kurang ajar sama mamamu, makanya ga bisa jadi ibu.” Saya kesal dan menangis, tapi waktu konfirmasi dengan Mama, ia tak menyalahkan juga tak membenarkan.

Padahal ketidakhamilan saya disebabkan banyak hal. Salah satunya fungsi ginjal saya tidak cukup baik dengan indikasi terus mengompol hingga usia enam tahun. Meski belum pernah dijelaskan secara medis, Mama meyakini, ini salahnya minum jamu penggugur kandungan sehingga fungsi ginjal saya tidak cukup baik untuk mendukung kehamilan.

Semakin tua, interaksi Mama dengan orang lain tak menjadi baik. Saya berupaya mengajaknya bila ada acara tertentu, tapi Mama akan bicara tanpa henti dengan lawan bicara yang ditemuinya. Suatu saat saya ditegur. “Di rumah, mamanya nggak pernah diajak ngobrol ya, Vy. Kok ngeluhnya ke orang luar ya?”

Baca Juga  Memahami Potensi Diri Dan Konsep Rezeki Yang Tak Akan Tertukar

Pernah juga seorang tetangga memarahi saya melalui chat WhatsApp akibat perbuatan Mama, namun saat dikonfirmasi Mama mengaku tidak melakukan apa-apa. Saya jadi sering merasa mengapa saya yang harus ‘menyapu’ sampah yang dibuat Mama. Membereskan konflik, termasuk meminta maaf dan permakluman orang lain.

Sampai suatu ketika saya tersentuh. Entah bagaimana ceritanya, Mama terlibat obrolan dengan teman sesama ibu yang anak sulungnya sekelas dengan bungsu saya. Mama berbicara kepadanya, “Biarin sekarang kau capek gendong anak perempuanmu ke sana ke mari kayak saya dulu. Saya bisa ngerasain. Saya malu kakaknya Ivy baru 6 bulan, eh saya hamil lagi. Dulu si Ivy sampe udah mau saya ‘buang’. Tapi yang sama-sama sekarang, temenin saya di hari tua, meski sering berantem si Ivy anak yang dulu mau saya buang. Nanti anak ini akan jadi temanmu.”

Saya Teman Mama

Ternyata perkataan Mama tanpa sadar mengubah pandangan teman saya yang sedang kesulitan membangun bonding dengan anak keduanya. Jujur, saya ikut terharu, meski tak percaya Mama bisa bicara begitu.Walau sering ketus-ketusan, debat tak henti-henti, saling berhitung saat membelikan atau menitip sesuatu, bahkan yang ekstrim saling mendiamkan, yang jelas Mama tetap menganggap saya sebagai teman.

Saya juga tak pernah tahu ‘pertemanan’ kami sampai berapa lama lagi. Yang jelas saya belajar banyak dari impian-impian Mama yang belum tercapai, pengorbanan yang dilakukan bahkan luka hatinya. Saya juga tidak tahu dan tak perlu memeriksa juga apakah Mama belajar dari perjalanan hidup saya. Biarlah waktu yang akan menguji dan menjawab semua pahit manis hubungan kami. 

Bagikan
Comments
  • Fifi Alfida

    I feel you, Mbak, meski bukan dari sisi anak kandung. Aku merasakan dari sisi menantu. Hubungan suamiku dan ibunya seperti hubungan Mbak Ivy-Ibu. Untuk mengubah suatu hubungan memang harus kita dulu yang berubah. Saya sudah menjalani perubahan sendiri dan alhamdulillah perubahan baik untuk banyak pihak.

    Februari 5, 2021
Post a Comment