Harapan Tak Akan Pupus untuk Penyintas Lupus (1)
“Barang siapa bertakwa kepada Allah maka dia akan menjadikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia sangka, dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah maka cukuplah Allah baginya, sesungguhnya Allah melaksanakan kehendak-Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu kadarnya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
Menikah adalah impian semua orang, begitu juga dengan Maryam. Tahun 2009 adalah tahun kebahagiaan untuknya karena seorang laki-laki datang untuk mengikrarkan janji suci dalam sebuah ikatan pernikahan. Setelah menikah, Maryam berharap mendapatkan momongan. Karena kehamilan tak kunjung datang, Maryam melakukan program hamil. Berselang dua tahun di tahun 2011, akhirnya kehamilan yang ditunggu-tunggu datang juga.
Kebahagiaan sangat dirasakan oleh sepasang suami istri ini. Namun, di balik kabar bahagianya ada hal yang mencurigakan selama kehamilannya. Hampir setiap hari Maryam mengalami bercak darah dan bedrest sejak awal kehamilan. Ketika Janin berusia sepuluh minggu, Maryam memberanikan diri untuk memeriksakan kondisi kehamilannya ke dokter. Hal mengejutkan yang membuatnya down, janinnya tidak berkembang dan sudah meninggal di dalam kandungan.
Meskipun kesedihan masih terasa, tak membuat Maryam dan suami untuk berhenti melakukan ikhtiar. Pada tahun 2013 dan 2014 kehamilan itu datang lagi, tetapi masih sama seperti kehamilan sebelumnya. Ia mengalami bercak darah dan bedrest sejak awal kehamilan dan janin tidak berkembang. Maryam harus menjalani kuret untuk kedua dan ketiga kalinya.
Maryam hanya bisa berpasrah kepada Allah Swt. Sekeras apa pun keinginannya untuk segera memiliki momongan, tetapi Allah Swt. yang menentukan. Di tahun 2014 Maryam dan suami mendapatkan perkerjaan di luar pulau dengan pekerjaan baru. Di tahun 2016, Maryam dan suami terus berjuang ikhtiar program hamil tanpa berputus asa.
Setelah satu tahun berjalan, belum juga ada tanda kehamilan, dokter obgyn mulai curiga dengan kehamilan Maryam. Semua ikhtiar dari segi ilmu obgyn sudah dimaksimalkan. Seharusnya terjadi kehamilan, karena seluruh terapi dan program hamil sudah dilakukan. Dokter obygn menyarankan untuk pemeriksaan lebih lanjut ke profesornya di Jakarta. Maryam dan suami menyetujuinya. Segera mengurus cuti dan segala keperluan untuk terbang bertemu seorang profesor.
Maryam melakukan serangkaian pemeriksaan dengan melakukan tes darah lengkap. Hal mengejutkan dari hasil lab, ada yang tidak normal pada kekentalan darahnya. Maryam didiagnosa menderita autoimun tepatnya Antiphospholipid Antibody Syndrome (APS). Itulah yang menjadi penyebab keguguran selama ini. Maryam tidak ingin terpuruk dalam kesedihan. Ia segera melakukan terapi yang diberikan profesor.
Setelah tiga bulan berselang, hal yang tidak disangka-sangka dan direncanakan, Maryam hamil. Namun, karena obat terapi yang diberikan adalah jenis obat keras akhirnya untuk sementara Maryam menghentikan terapi tersebut demi mempertahankan janinnya. Maryam sulit menggerakkan anggota tubuhnya sejak mengonsumsi obat. Hingga ia benar-benar harus bedrest total. Akhirnya, keguguran yang keempat terulang kembali.
Dokter tidak berani melakukan proses kuret seperti biasa pada umumnya karena efek dari terapi akan berisiko pendarahan besar akibat obat pengencer darah. Setelah keguguran keempat kalinya, kondisi Maryam tidak menunjukkan perbaikan yang berarti. Maryam menjalani tes darah lengkap lagi dan ia mendapatkan diagnosis terkena penyakit lupus.
Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yakni antibodi dalam tubuh seharusnya melindungi tubuh dari serangan virus atau bakteri, justru berbalik arah menyerang organ-organ tubuh itu sendiri. Akibatnya, terjadi inflamasi atau peradangan (kerusakan) satu atau lebih organ. Harapannya hampir pupus, meskipun ia merasa terbiasa dengan ujian yang sama tetapi hanya satu kekhawatirannya harapan suami untuk memiliki anak.
Suaminya selalu sabar menemani setiap waktu, Maryam fokus menjalani pengobatan. Penyakit lupus sempat mengganggu fungsi ginjal, karena Maryam harus menerima obat keras untuk kesekian kalinya. Dokter juga tidak mengizinkannya untuk hamil kembali karena sangat berisiko. Terbesit keinginan hati untuk adopsi anak, tetapi suami menolak. “Ayah memilih sabar, berdua sama bunda.”[1]
Akhir tahun 2019, Maryam dan suami pergi umrah ke baitullah. Di sana mereka bermunajat memanjatkan doa-doa agar Allah Swt. memberikan kekuatan kesabaran menjalani takdir yang Allah Swt. sudah tetapkan. Awal tahun 2020, kondisi Maryam yang mulai stabil terbesit kerinduan untuk memiliki buah hati. Setiap harinya ia berdoa semoga Allah Swt. melembutkan hati suaminya. Pernikahan tahun kesebelas memberikan harapan baru. Mereka berkonsultasi untuk kehamilan kelima, dan di-ACC oleh dokter.
Suaminya tiba-tiba terbuka hatinya mengatakan, “Mana yang Allah rida, hamil dahulu ataupun mendapatkan anak adopsi.” Suaminya akan terima. Awal Ramadan, ada seorang teman memberitahukan ada seorang anak yatim dan ibu yang tidak mampu untuk merawatnya. Maryam dan suami segera menyampaikan niat baik untuk mengadopsi anak tersebut dan membawanya ketika usianya baru satu hari.
Bayi itu bernama Atta, bayi laki-laki yang ingin segera mendapatkan ASI agar menjadi mahram Maryam dan suaminya. Maryam mengikuti komunitas induksi ASI untuk ibu bayi adopsi. Akhirnya ia bisa memberikan ASI kepada Atta setelah melakukan terapi induksi selama tiga hari. Kado terindah lainnya di tiga belas tahun pernikahannya adalah mendapatkan keturunan dari rahimnya sendiri. Harapan selalu ada dengan doa, ikhtiar maksimal, dan tawakal kepada Allah Swt.
[1] Referensi dari akun Maryam dan lactashare di Facebook
Instagram: Mila.Jamiilah31
