f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
penghapusan

Apakah Laki-Laki Dapat Terlibat dalam Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan?

Judul                     : Good Boys Doing Feminism : Maskulinitas dan Masa Depan Laki-Laki Baru,
Penulis                 : Nur Hasyim
Penerbit              : EA Books, cetakan 1, Nopember 2020, xvi + 160 halaman

Minggu ini saya mendapatkan dua pertanyaan terkait dengan peran laki-laki dalam penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Satu pertanyaan datang dari host acara pod cast di mana saya diundang untuk berbagi pengalaman tentang gerakan perempuan. Pertanyaannya, “Apakah laki-laki bisa menjadi feminis?” dan pertanyaan kedua datang dari sebuah webinar tentang penanganan kekerasan seksual pada perempuan; apakah pelaku kekerasan seksual dapat berubah menjadi laki-laki baru yang mendukung penghapusan kekerasan terhadap perempuan?

Sejatinya kedua pertanyaan tersebut dapat ditemui dalam buku kumpulan artikel dari Nur Hasyim berjudul Good Boys Doing Feminism: Maskulinitas dan Masa Depan Laki-Laki Baru, yang diterbitkan oleh Ea Books. Nur Hasyim adalah pendiri Aliansi Laki-Laki Baru sebuah jaringan laki-laki pro feminis di Indonesia, dan bekerja dalam isu gender, maskulinitas dan kekerasan berbasis gender selama lebih dari 15 tahun.

Buku ini berisi sebelas artikel yang diakui menggambarkan proses dirinya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terkait posisi laki-laki dalam gerakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan dinamika yang dilaluinya selama 12 tahun.

Laki-Laki Bisa Jadi Feminis?

Terhadap pertanyaan: “Apakah laki-laki bisa menjadi feminis?” saya menjawab, lelaki tidak bisa menjadi feminis, tapi pro feminis. Memang terdapat ragam penggunaan istilah untuk merujuk pada keterlibatan laki-laki dalam gerakan perempuan, yaitu lelaki feminis, pro feminis, pro perempuan atau meninist. Nur Hasyim memilih menggunakan istilah  lelaki pro perempuan sebagai sikap keberpihakan terhadap perempuan (hal 4). Walau di artikel lainnya digunakan juga istilah pro feminis.

Saya sendiri memilih pro feminis, karena pada dasarnya pengalaman menjadi perempuan berbeda dengan laki-laki. Ketidakadilan struktural yang dialami perempuan, tidaklah dapat dirasakan bahkan dipahami oleh laki-laki. Karenanya lelaki tidak disebut dengan feminis, tapi pro feminis.  Jawaban ini berlanjut dengan pertanyaan, mengapa feminis ‘galak’ dan ada yang menolak  keterlibatan laki-laki? Awalnya saya meluruskan stereotipe yang dibangun terhadap feminis sebagai perempuan yang galak dan meyakinkannya bahwa kerja-kerja penghapusan kekerasan terhadap perempuan memerlukan kolaborasi dengan laki-laki.

Respon Perempuan Terhadap Laki-Laki Pro Perempuan

Kolaborasi seperti apa? Pertanyaan ini dapat kita jawab dengan mengidentifikasi mengapa ada kontroversi ihwal keterlibatan laki-laki. Rahmania, dapat menemukannya dalam tulisan “Patriarki Juga Merugikan Laki-Laki”, di mana Nur Hasyim mengindentifikasikan tiga respon aktivis perempuan. Pertama, gerakan laki-laki pro perempuan adalah sebuah keharusan.

Baca Juga  Sebuah Goresan Sederhana yang Penuh Makna

Persoalan ketidakadilan dalam masyarakat adalah persoalan sistem, di mana perempuan tertindas, dan laki-laki menjadi penindasnya. Sistem yang tidak adil ini mendehumanisasi baik laki-laki maupun perempuan.

Kedua, ada persyaratan terhadap gerakan laki-laki pro perempuan yaitu sebagai pendukung dan tidak akan mengambil alih kepemimpinan gerakan  perempuan. Ketiga, gerakan laki-laki pro perempuan tidak diperlukan, karena  ditenggarai menjadi cara laki-laki untuk kembali mendominasi gerakan perempuan (hal 5-9).

Untuk membangun kepercayaan kelompok perempuan pada Desember 2007 telah dirumuskan 10 prinsip keterlibatan laki-laki dalam gerakan perempuan. Yang intinya laki-laki memberikan dukungan, tidak mengambil alih ruang politik yang sudah dibangun gerakan perempuan dan tidak berorientasi hanya pada perubahan personal, namun struktural dan kultural.

Gerakan Laki-Laki Baru

Dalam webinar bertema “Gerakan Laki-laki Baru” di mana saya menggantikan kolega laki-laki, pertanyaan berputar pada apa itu laki-laki baru? Bagaimana menjadi apakah pelaku kekerasan seksual dapat berubah menjadi laki-laki baru yang mendukung penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Sebatas pada pengalaman dan bacaan, saya merujuk pada pengertian yang diberikan oleh Aliansi Laki-Laki Baru (ALB); bahwa laki-laki baru merujuk pada upaya untuk meninggalkan paradigma lama mengenai laki-laki dan bertransformasi menjadi individu yang sadar dan ikut memperjuangan kesetaraan gender, baik secara perilaku maupun kehidupan bermasyarakat.

Juga menyampaikan 10 ciri laki-laki yang dinilai transformatif dan bergerak bersama dalam penghapusan kekerasan berbasis gender, yang disusun oleh Gadis Arivia. Yaitu: memiliki rasa peduli,toleran, berbudaya, membebaskan, menggunakan bahasa positif, memahami pembagian kerja domestik, peduli hak reproduksi, menggairahkan dalam aktivitas seksual, transparan dan antipoligami. 

Rute Laki-Laki Feminis

Melalui buku ini saya menemukan bahwa untuk menjadi lelaki baru atau memenuhi 10 ciri laki-laki transformatif tidaklah mudah. Sama halnya dengan sulitnya untuk menerapkan etika feminis bagi seorang yang mengaku feminis. Secara jujur, Nur Hasyim berbagi pengalaman untuk bagaimana ia menempuh “Rute Laki Laki Feminis”, yang mencapai empat tahapan atau disebutnya dengan pemberhentian, (hal 39-51) sebelum berlanjut ke tahapan selanjutnya yaitu:

1. Membuka selubung privelese dan kuasa laki laki. Pemberhentian ini penting sebagai titik pemahaman dan kesadaran atas penderitaan korban. Lelaki menikmati perlakuan istimewa dari sistem sosial patriarkis, hingga pengalaman yang berbeda yang berdampak pada ketidaksetaraan dan ketidakadilan pada perempuan. Nur Hasyim memberikan rekomendasi pada tahapan ini dengan cara menghadirkan privelese dan kuasa laki-laki di hadapan laki-laki, termasuk laki-laki melakukan pertanyaan reflektif dan menemukan jawabannya. Kita dapat meminjam salah satu alat feminis yang ditawarkan Chimamanda Ngozi Adichie, dalam Manifesto Feminist, yaitu: “Dapatkah kau membalik X dan mendapatkan hal yang sama?”

Baca Juga  Pembacaan Emansipatoris Kisah Perempuan dalam Al-Quran (IV): Zulaikha

2. Mentransformasikan konsep maskulinitas patriakis. Sebagaimana kita tahu, ada dua komponen yang menopang patriarki yaitu maskulinitas hegemonic dan heteronormative. Struktur sosial patriarki memberikan gender ekpetasi terhadap laki-laki (maskulin, superior,dominan dll) yang belum tentu semua laki-laki dapat memenuhinya. Demikian halnya heteronormative menjadi alat kontrol dan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Dengan memahami dan mengakui dua komponen ini, laki-laki dapat berlanjut ke tahapan selanjutnya.

***

3. Menerapkan cara baru menjadi laki laki yang mencerminkan kesetaraan dan keadilan. Setelah memahami bagaimana patriarki merugikan laki-laki, selanjutnya adalah laki-laki berpikir tentang cara lain menjadi laki-laki, yaitu menjadi lebih manusiawi dan memanusiakan orang lain. Laki-laki berlatih baik cara bersikap, maupun berprilaku yang mencerminkan penghormatan dan penghargaan kepada sesama, komunikasi yang terbuka, memupuk empati, saling berbagi dan tidak melakukan kekerasan. Pendek kata menuju kepada sepuluh sikap laki-laki yang transformative seperti disebutkan di atas.

4. Menjadi sekutu bagi gerakan perempuan menandakan keadilan gender dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan menjadi komitmen politik laki laki. Dengan menjadi sekutu bagi perempuan, laki-laki pro feminis menegaskan perlawanannya terhadap penindasan yang dilakukan oleh laki-laki lain. Lebih lanjut, hal ini tidak menjadi komitmen individu, tapi menjadi gerakan terorganisir laki-laki, untuk bersama sama memperjuangkan masyarakat yang lebih adil dan nir kekerasan.

Membaca keempat tahapan tersebut, membuat saya merenung bahwa butuh kebesaran jiwa dan keberanian laki-laki untuk melangkah di setiap tahapannya. Namun, seharusnya keempat tahapan tersebut dilalui oleh perempuan. Bagaimanapun, perempuan dididik dengan nilai patriarki bahkan kerap menjadi agennya.

***

Lantas, bagaimana dengan pertanyaan bagaimana pelaku kekerasan seksual agar bisa menjadi laki-laki baru? Dalam webinar tersebut saya tidak memberikan jawaban. Selain tidak memiliki pengalaman, juga belum menjumpai keberhasilan pelaku kekerasan seksual yang bertransformasi menjadi sekutu penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Baca Juga  Adakah Ruang Aman Bagi Perempuan?

Namun, saya mengapresiasi langkah-langkah komunitas yang mengajak pelaku untuk melakukan refleksi, mendorong perubahan prilaku sekaligus memenuhi tuntutan korban sebagai bentuk pertanggungjawabannya.

Dalam buku ini, dengan nada pahit, dalam “Laki-Laki di Jalan Feminisme” Nur Hasyim menyampaikan kekecewaan terhadap kasus kekerasan seksual yang dilakukan laki-laki yang selama ini berada di garda terdepan membela hak-hak perempuan. Kekecewaan yang bisa dipahami, karena selain betapa sulitnya untuk bertransformatif, juga menjadi gerakan mundur untuk mendapatkan kepercayaan dari gerakan perempuan.

Namun, dengan merujuk pada pendapat Michael Flood, bagi laki-laki yang dituduh melakukan kekerasan seksual untuk: (1) mendengar, memperhatikan secara serius perasaan mereka yang mengalami pelecehan seksual dan menghindari pengingakran, meremehkan, apalagi menyalahkan korban; (2) Mengikuti proses hukum yang berlaku secara jujur dan sportif. (3) Melihat secara serius, secara dekat, hati-hati dan kritis terhadap perilaku sendiri.

Menunjukkan kekerasan yang sudah dilakukan dan akibat yang ditimbulkan dari tindakan tersebut; (4) mengambil tanggung jawab atas tindakan yang dilakukan dengan mencari pertolongan atau bantuan formal maupun nonformal,serta melakukan pembelajaran praktik berelasi yang setara  (hal 113-114)

****

Saya mendapatkan hal baru sekaligus semangat atas konsep-konsep kunci dari perpektif laki-laki pro feminis. Buku ini sangat direkomendasikan khususnya untuk laki laki yang ingin bertransformasi menjadi laki-laki baru, juga untuk kawan-kawan di gerakan perempuan bahwa kita bisa memberikan kesempatan kepada laki-laki untuk menjadi kawan seiring dan seperjalanan.

Terakhir, saya mengutip: “Bagi perempuan memperjuangkan keadilan gender dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan adalah masalah hidup dan mati. Sementara bagi laki-laki, memperjuangkan keadilan gender dan penghapuam kekerasan terhadap perempuan adalah pilihan” (hal 115). Saya yakin melalui buku ini, Nur Hasyim menegaskan bahwa menjadi lelaki pro feminis adalah pilihan yang menjanjikan untuk kemanusiaan kita. Rahmania, jangan ragu memilih jalan sunyi ini, kita wariskan dunia tanpa kekerasan.

Bagikan
Comments
Post a Comment