Yakin Masih Mau Melakukan Self Diagnosis?
Pada zaman sekarang mungkin kamu sudah tidak asing lagi dengan self diagnosis. Self diagnosis ini sudah ramai disinggung oleh kalangan anak muda atau biasa disebut remaja. Hingga sekarang beranda di sosial media dipenuhi oleh para remaja yang melakukan self diagnosis terhadap kesehatan mentalnya.
Mereka menganggap bahwa melakuan hal seperti itu sebagai suatu yang menarik dan estetik untuk di publikasikan. Mereka seakan-akan sedang berlomba-lomba menunjukan kesedihan dan penderitaan agar orang-orang yang melihat postingan tersebut merasa iba lalu memberikan kepedulian.
Saat kamu merasa tidak enak badan, pernakah kamu mengeluhkan kepada teman dekatmu? Teman yang memiliki gejala sama dengan apa yang saat ini kamu rasakan. Lalu, teman kamu memberi tahu kamu tentang penyakit yang kamu rasakan dan kamu langsung mempercayai begitu saja tentang informasi yang ia berikan. Hati-hati ya teman-teman, itu merupakan fenomena self diagnosis.
Apa itu Self Diagnosis?
Sebenarnya apa sih self diagnosis itu? Self diagnosis adalah mendiagnosis diri sendiri mengidap sebuah gangguan atau penyakit berdasarkan pengetahuan diri sendiri atau informasi yang didapatkan secara mandiri. Kemudian, menurut White & Horvitz (2009) mendiagnosa diri sendiri adalah upaya memutuskan bahwa diri mengidap suatu penyakit berdasarkan informasi yang diketahui tau pengetahuan yang berkaitan dengan pengalaman yang dirasakan.
Kecenderungan mencari informasi mandiri melalui internet juga tidak dapat dianggap benar. Sebab, tidak sedikit dari kita kurang paham tentang diri kita sendiri dan kondisi yang sebenarnya terjadi pada diri kita. Self diagnosis sebenarnya tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan terjadinya diagnosis yang salah dan pengobatan yang tidak tepat.
Jadi sudah paham belum nih mengenai self diagnosis atau masih kurang paham? Oke sekarang aku kasih contoh aja mengenai self diagnosis. Tidak sedikit dari individu merasakan moodnya berubah-ubah atau tidak stabil lalu mengklaim diri sendiri terkena gangguan bipolar. Contoh lain, saat kamu merasa pusing tidak karuan sehingga kamu mencoba mencari informasi di internet mengenai apa yang kamu rasakan itu. Kemudian, dari hasil pencarian kamu menemukan bahwa kamu terkena tumor otak. Oleh karena itu, anda merasa khawatir dan cemas yang berlebihan.
Dampak Negatif Self Diagnosis
Ternyata ketika kita melakukan self diagnosis itu memiliki dampak-dampak yang akan terjadi lhoo.. Yaitu dapat menyebabkan kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu terjadi dan dapat membuat masalah kesehatan mental tertentu menjadi tidak terdiagnosis. Salah mengkonsumsi obat-obatan, memicu berbagai gangguan kesehatan yang lebih parah lagi, dan salah melakukan perawatan. Itu juga termasuk dampak- dampak yang akan terjadi ketika kita melakukan self diagnosis.
Kalau dilihat-lihat dari dampak yang akan terjadi setelah melakukan self diagnosis itu bahaya juga ya teman-teman. Jadi gimana nih? Masih mau nekat melakukan self diagnosis atau berhenti aja sampai di sini? Semoga teman-teman bisa bijak dalam mengambil keputusan yaa…
Ciri-Ciri Self Diagnosis
Bagaimana sih ciri- ciri orang yang melakukan self diagnosis ini? Kenali dulu yukk ciri-ciri self diagnosis agar tidak terjebak ke dalam fenomena tersebut. Ciri- ciri self diagnosis yang pertama adalah menyangkal kesehatan mental.
Self diagnosis, sendiri sesungguhnya membuatmu tidak memahami secara pasti tentang berbagai penyakit apa yang sesungguhnya kamu alami. Kamu hanya menebak berbagai kemungkinan yang tidak pasti kebenarannya. Sehingga pada akhirnya menyepelekan berbagai kondisi yang bisa jadi sesungguhnya serius.
Kedua, tidak mau berkonsultasi dengan ahli. Orang yang sering melakukan Self diagnosis juga kerap menemukan berbagai informasi dari hasil searching internet, setelahnya ia merasa tidak perlu lagi untuk berkonsultasi ke psikolog.
Ketiga yaitu panik. Self diagnosis dapat memicu kepanikan yang kemudian akan menimbulkan stress terhadap seseorang. Kamu yang melakukan Self diagnosis juga cenderung mengalami berbagai kepanikan yang tidak seharusnya.
Nah, dari ketiga ciri- ciri tersebut adakah teman, keluarga, saudara atau siapapun yang berada di lingkungan sekitarmu melakukan self diagnosis? Atau jangan-jangan kamu sendiri nih pelakunnya. Jangan diteruskan ya teman-teman karena bahaya untuk diri sendiri.
Baik, jika sudah tau tentang self diagnosis, dampak-dampak atau bahaya yang kemungkinan akan terjadi setelah melakukan diagnosis, sampai dengan ciri-ciri orang yang melakukan self diagnosis. Sekarang aku akan bahas mengenai cara mengatasi self diagnosis.
Cara Mengatasi Self Diagnosis
Bagaimana sih cara mengatasi self diagnosis? Cara mengatasinya yaitu dengan menghindari mencari tahu penyakit melalui internet, menghindari tes mental melalui daring, tidak menjadikan penderita gangguan mental lain sebagai rujukan dan tidak ragu untuk pergi ke psikolog atau psikiater.
Sudah paham ya teman-teman? Jadi, sebaiknya jangan lah menjadi dokter untuk diri sendiri dengan melakukan self diagnosis. Jika kamu mengalami gejala kesehatan tertentu segeralah tanyakan pada ahli medis atau dokter mengenai penyebab gejala kesehatan yang kamu alami.
Mahasiswi semester 4 jurusan Psikologi Islam di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulunganggung. Memiliki hobi travelling sambil kulineran. Add me on FB: Bungadivv. Follow me @bungadivv.
