f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
stres

Kamu Stres? Gapapa

Berbicara tentang mental health sangatlah luas. Namun hal terkecil yang sering menyelimuti kehidupan manusia adalah stres. Rasanya tidak ada manusia yang tidak mengalami stres. Manusia modern sepertinya memiliki ancaman yang tidak terbatas, mulai dari ujian akhir; putus dari pacar; ditinggal nikah mantan; bahkan korban ghosting. Semua hal tersebut bisa menyebabkan stres bahkan lebih parah lagi menyebabkan depresi. Namun yang menjadi pertanyaan adalah normalkah manusia mengalami stres?

Stres: Normalkah?

Tentu lumrah jika seseorang mengalami stress, karena stres itu sendiri hal yang sangat normal. Hanya yang membedakan bagaimana respon kita terhadap stres sehingga membentuk keadaan kita saat ini, entah tangguh atau rapuh, pesimis atau optimis.

Penyebab stres alias stresor berasal dari peristiwa yang netral. Respon kita terhadap stresor tersebutlah yang membuatnya bermakna. Dalam keadaan stres pun kita dituntut untuk memilih dalam merespon dan menghadapi stres.

Ketika suatu peristiwa atau kabar yang kita terima sebagai tantangan atau ancaman, maka stresor tidak lagi netral. Ada 2 jenis stres yang akan manusia alami yaitu eustress dan distress. Eustress adalah ketika stres yang kita terima membuat kita menjadi lebih tangguh dewasa dan ahli dalam sesuatu. Misalnya ketika seseorang/sekelompok orang meminta kita berbicara di depan khalayak ramai. Tentu kita akan merasa cemas, takut, berkeringat. Namun dengan adanya stres tersebut membuat kita akhirnya berani berbicara di depan banyak orang.

Berbeda dengan distress, yakni stres negatif yang menyebabkan seseorang sedih dan merasa tidak berdaya. Distress membuat seseorang tidak bisa berfungsi seperti biasanya. Misalnya ketika putus dengan pacar, kita mengurung diri, bahkan sampai tidak mau makan.  

Jika menganggap stresor sebagai eustress yang mendewasakan, tentu hidup akan terasa menyenangkan. Namun akan menjadi berbeda ketika menerima stresor sebagai distress yang tak kunjung henti. Maka akan tercipta sebuah kondisi bernama stres kronik bahkan depresi yang membahayakan diri kita. Namun setiap orang memiliki toleransi stres yang berbeda. Sesuatu yang membuat seseorang stres bisa jadi adalah hal biasa bagi orang lain.

Baca Juga  Sebuah Konsep Berpikir Tentang Letak Kebahagiaan Sesungguhnya
Respon Stres : Fight or Flight

Ketika stresor kiata anggap sebagai ancaman, dalam seperkian detik tubuh akan memilih antara fight (lawan) atau flight (kabur). Jangan heran ketika kita menghadapi stress, tubuh akan mengalami gejala fisik seperti tekanan darah naik, jantung berdegup, nafas cepat, ataupun pupil membesar.

Hal tersebut adalah sebuah mekanisme tubuh dalam merepon stres. Bila menelisik apa yang terjadi pada tubuh manusia saat stres, kita harus mengenal kortisol. Ketika seseorang mengalami stres maka akan ada peningkatan hormon kortisol di dalam tubuh manusia. Hormon tersebutlah yang berperan penting dalam proses stres. Baik fight atau flight akan meningkatkan kadar kortisol dalam tubuh.

Ketika tubuh memilih melawan dan berhasil maka kadar kortisol akan turun. Kemudian  munculah hormon yang bernama serotonin di otak, yang mengindikasikan perasaan bangga dan senang karena telah berhasil melawan.

Depresi: Penyakit Nyata

Selain stress, kita mengenal juga istilah depresi. Depresi adalah kekacauan terkait aspek biopsikososial dan spiritual. Orang dengan depresi kebanyakan sangat lihai memakai topeng seolah-olah kondisinya baik-baik saja. Orang dengan depresi bisa tersenyum dan terlihat produktif bekerja padahal secara bersamaan sedang memikirkan betapa tidak berharganya dia.

Depresi dapat menjangkit semua kelompok usia, hasil Riskesdas 2018 menunjukkan gangguan depresi sudah mulai terjadi sejak rentang usia remaja (15-24 tahun), dengan prevalensi 6,2 %. Data Institute For Health Metric and Evaluation (IHME) 2017 menyatakan depresi menduduki urutan pertama menjadi kontributor beban penyakit di Indonesia.

Banyak gejala yang dapat terlihat ketika seseorang sedang depresi. Misalnya suasana hati yang selalu berubah, kehilangan minat, penurunan berat badan, insomnia, perasaan tidak berharga dan masih banyak lagi. Namun yang sering terjadi adalah depressed mood (merasakan suasan hati yang depresif atau tertekan).

Baca Juga  Gen Z dan Sedentary Lifestyle

Ada tiga kata yang sangat menggambarkan isi pikiran dan suasana hati seorang yang sedang mengalami depresi yaitu wortless (tidak berharga), hopeless (putus asa) dan helpless (tidak berdaya). Lebih sial lagi ketika depresi dibumbui dengan suicide ideation (pikiran bunuh diri) bahkan sampai  suicide attempt (melakukan percobaan buuh diri).

Orang dengan depresi, pikiran ingin bunuh diri bisa muncul begitu saja hampir setiap hari dalam bentuk yang beragam. Pikiran bunuh diri sesungguhnya dapat berubah menjadi aksi bunuh diri apabila seseorang merasa sudah tidak merasa berharga lagi. Ia menganggap kematian akan membuatnya terbebas dari beban.

Selain pikiran dan percobaan bunuh diri, orang dengan depresi juga rentan melakukan self harm (menyakiti diri sendiri). Orang dengan depresi akan merasakan beban berat yang disertai luka batin teramat. Kepalanya pusing karena diselimuti memori-memori negatif. Kesakitan emosi tersebutlah kebanyakan “dipindahkan” ke fisik dengan cara melukai diri sendiri.

Sialnya, Depresi Itu Kambuhan

Ketika seseorang dinyatakan hampir pulih bahkan sembuh dari depresi. Bukan hal yang tidak mungkin akan mengalami relapse (kambuh). Depresi bukanlah penyakit yang datang sekali lalu pergi. Ia bersemayam dalam tubuh penderita, bersembunyi dalam jiwa, dan menghancurkan kewarasan secara perlahan.

Depresi sendiri disebut lifelong debilating illness (penyakit yang melemahkan seumur hidup) karena risiko terulangnya episode depresi melebihi 80 %. Lebih menyakitkan lagi depresi yang timbul akan lebih berat dan lebih lama. Lantas menjadi pertanyaan banyak orang, mengapa bisa relaps?

Biasanya depresi menjadi kambuh ketika seseorang belum sembuh sepenuhnya. Orang dengan depresi merasa telah sembuh ketika sudah tidak mengalami gejala depresi yang mengganggunya. Namun tanpa ia sadari masih ada beban emosi yang tersisa dalam hatinya.

Baca Juga  Hati-Hati, Perasaan Kalau Dimanja Menyesatkan
Mari Amati Diri Kita  

Menurut hemat penulis untuk memiliki kesadaran akan kesehatan mental ini membutuhkan perhatian khusus dan kerjasama lintas sektoral baik pemerintah dan masyarakat. Namun yang lebih penting adalah mulai dari diri kita sendiri.

Tentu proses penyembuhan (recovery) dari depresi dan mental illness lainnya adalah proses yang unik. Sebagian orang dapat sembuh total dalam waktu singkat, tetapi tidak sedikit pula yang membutuhkan waktu yang lama. Di tengah proses penyembuhan, kadang penderita dapat terjatuh lagi dan mengalami full blow depression (mengalami semua gejala depresi).

Penting bagi kita untuk terus menikmati hidup sambil mengamati keadaan tubuh, pikiran dan perasaan kita. Kuncinya terletak pada penerimaan diri (self acceptance). Hanya dengan menerima, pada akhirnya kita akan sanggup melepas.

Kita selalu punya pilihan untuk menjadikan stres atau depresi sebagai guru yang membuat jiwa bertumbuh atau sebagai momok yang menggerogoti jiwa. Maka bukan pekerjaan egois ketika kita menyayangi diri sendiri untuk bermimpi, berkarya dan berbahagia.

Bagikan
Post a Comment