f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
epistemologi

Urgensi Epistemologi; Pengantar Manusia dan Tuhan

Epistemologi adalah ilmu yang mempelajari cara manusia memperoleh pengetahuan. Epistemologi Isam memberi tawaran bahwa manusia bisa mendapatkan pengetahuan dengan campur tangan Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan terlibat langsung dalam proses manusia memperoleh pengetahuan.

Lalu apa pentingnya kita mengetahui hal tersebut? Epistemologi akan mempengaruhi pandangan dunia manusia. Setiap manusia memiliki pandangan dunia yang berbeda, pandangan dunia adalah cara manusia melihat dunia dan alam semesta.

Misalnya seorang pebisnis akan melihat segala sesuatu yang ada di depannya sebagai peluang bisnis. Sedangkan seorang sufi akan melihat sesuatu yang ada di alam ini adalah tarian Tuhan. Maka pandangan dunia pebisnis adalah tentang profit dan cuan, sedangkan pandangan dunia sufi adalah tentang Tuhan.

Pandangan Manusia Perhadap Epistimologi

Pandangan dunia ini akan melahirkan ideologi. Seseorang yang memiliki pandangan dunia material akan memiliki ideologi material (materialisme). Seseorang yang tidak pernah menganggap Tuhan itu ada akan memiliki ideologi material dan tidak mempercayai hal-hal yang non material.

Ideologi ini nantinya akan mempengaruhi tujuan dan cara hidup manusia. Jika seseorang memiliki pandangan dunia material, maka tujuan hidupnya adalah tentang material. Misalnya, bagaimana memperoleh untung sebanyak-banyaknya meski harus mengorbankan kehidupan banyak orang.

Sebagai contoh jika kita lihat Amerika yang menjadi penyebab peperangan di Timur Tengah, ideologi mereka adalah material. Mereka berpikir tentang mengeruk minyak sebanyak-banyaknya serta menjual senjata agar mendapat keuntungan. Mereka tidak segan mengorbankan banyak nyawa demi kepentingan segelintir orang.

Sebaliknya jika epistemologi mampu menjelaskan bahwa Tuhan terlibat dalam proses manusia memperoleh pengetahuan, maka pandangan dunia manusia bersifat ilahiah. Pandangan dunia ilahiah melahirkan ideologi iahiah. Dan ideologi ilahiah mempengaruhi tujuan dan cara hidup manusia (amal perbuatan) selanjutnya akan kita sebut aksiologi.

Dengan demikian tujuan hidup manusia adalah tentang Tuhan, cara yang dipakai adalah cara yang disukai Tuhan. Dalam hal ini epistemologi berarti teorinya sedangkan aksiologi adaah praktiknya, kelak berkembang ilmu filsafat teoretis dan filsafat praktis.

Baca Juga  Teologi di Balik Tangisan Manusia (2)
Urgensi epistemologi Isam

1. Jawaban Bagi Empirisme dan Materialisme

Bukankah sejak dulu pun tujuan hidup kita sudah Ilahiah, lantas kenapa masih harus dipelajari? Untuk apa membuktikan bahwa Tuhan itu terlibat dalam cara manusia memperoleh pengetahuan? Benar sekali, hal ini berlaku bagi kita yang hidup dalam lingkungan Islami.

Namun ada banyak orang yang hidup dalam keraguan, pertanyaan, dan penasaran dengan hakikat alam semesta. Ada pula kaum empiris yang harus membuktikan sesuatu secara empiris (indrawi), ada pula kaum agnostik yang selalu ragu dengan keberadaan Tuhan dan kesulitan saat mencari pembuktian.

Jika kita tak punya argumen yang kuat dan jelas, serta pemikiran yang mandiri (bukan karena doktrin) kita justru mudah tergelincir dengan pemikiran mereka. Mereka tampak memiliki argumentasi yang kuat dan masuk akal. Alih-alih memberi pencerahan pada mereka, kita justru malah bisa terbawa arus pemikiran mereka.

Sedang kita masih terus saja berdebat tentang Tuhan yang boleh dan tidak boleh dibahas. Kita mengatakan bahwa Tuhan terlalu luas, tinggi, dan besar hingga manusia yang rendah ini tak mampu menjangkaunya. Cobalah sampaikan hal ini pada kaum empiris, maka mereka hanya akan menganggap kita tak punya argumen.

2. Keyakinan saat Putus Asa

Memahami bahwa Tuhan terlibat dalam proses mendapatkan pengetahuan berarti sekaligus membuktikan Tuhan secara ilmiah. Jika kita mampu membuktikan Tuhan secara ilmiah, maka hal ini semakin memperkuat keyakinan kita terhadap Tuhan.

Jika suatu saat nanti kita mengalami hal yang paling berat, kita tak akan berpikir bahwa Tuhan itu tidak ada. Kita juga tak akan mengambil tindakan bodoh dalam kondisi paling berat, karena kita sudah yakin bahwa Tuhan itu ada.

Baca Juga  Nyunggi Kitab Suci

3. Paham yang Tidak Rasional

Epistemologi Islam bisa menjaga kita dari paham yang tidak rasional. Misalnya tentang sedekah sebanyak-banyaknya dan nanti akan diganti sepuluh kali lipat oleh Allah. Padahal kita semua tahu bahwa dalam harta kita terdapat hak fakir miskin.

Artinya harta yang kita miliki itu bukan sepenuhnya milik kita, untuk mensucikan harta tersebut, kita wajib menyedekahkan. Berarti kita tak boleh mengharapkan balasan sekalipun itu dari Allah. Ikhlas berarti memberi tanpa mengharap balasan.

Jika ingin sedekah, maka sedekah sesuai kemampuan, bukan keseluruhan. Penuhi dulu makan dan kebutuhan diri baru sedekah. Bukan terkait nominal tapi terkait kemampuan. Sedikit atau banyak tak akan membuat kita menjadi kaya berkat sedekah. Tuhan akan memberi rezeki pada orang yang berusaha dan dikehendakiNya, baik dengan sedekah maupun tid

Begitu pula shalat dan ibadah lainnya, banyak nasehat agar kita shalat dan membaca Al Qur’an agar kita mendapat rezeki yang banyak. Padahal Mark Zuckerberg, Bill Gates, dan Steve Jobs tidak pernah shalat tapi kekayaannya melimpah.

Artinya shalat tak ada hubungannya dengan rezeki. Boleh saja kita berharap dan memohon rezeki dari Allah, tapi jangan jadikan rezeki dan kekayaan sebagai tujuan shalat. Shalat adalah makanan bagi ruh kita.

Manusia terdiri atas dimensi hewani dan malakuti, mereka adalah dimensi yang bertolak belakang. Dimensi hewani menyukai kegiatan makan, tidur, bermalas-malasan, dan tersiksa ketika harus berpuasa serta ibadah. Sedangkan dimensi malakuti menyukai puasa, shalat, diskusi, kajian, tersiksa ketika harus makan dan tidur.

Maka shalat bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ruh, bukan untuk tujuan lain. Pahaman ini menjadi salah jika kemudian orang-orang hanya sibuk melakukan ritual ibadah namun tidak bekerja. Ada sebagian orang yang sibuk beribadah di masjid, berpuasa, shalat malam, dan menghabiskan waktunya untuk menghadap Allah tapi tidak mau bekerja. Hal ini jelas paham yang salah karena keluarganya terlantar.

Baca Juga  Jodoh Itu di Tangan Tuhan, Kesadaran dan Pilihan yang Menentukan

4. Menentukan Benar dan Salah

Ada banyak kejadian di dunia ini yang membuat kita kebingungan dalam menentukan kebenaran. Epistemologi menawarkan bahwa kebenaran bersifat mutlak (absolut). Tidak ada kebenaran relatif, menurut mereka benar, menurut kita benar. Hanya ada satu kebenaran yang mutlak.

Misalnya kasus terorisme, bagi para teroris tindakan terorisme atau menyerang kaum non muslim dan berbeda dengan mereka adalah hal yang benar. Sedangkan bagi saya, terorisme adalah hal yang salah. Menyakiti orang lain adalah hal yang salah, apa pun agamanya.

Setiap manusia berhak hidup, dan hak hidup ini tidak boleh diambil oleh siapa pun. Tak ada yang berhak menjadi hakim atas kehidupan orang lain. Lebih jauh lagi, jikalau Tuhan tidak menghendaki adanya non muslim, tentu sejak awal Tuhan tidak menurunkan agama lain. Keadaan ini memang dikehendaki Tuhan, maka kita tak perlu menjadi Tuhan dan mengadili orang lain.

5. Insan Kamil

Pada akhirnya semua manusia hanya ingin menjadi insan kamil (manusia sempurna). Manusia sempurna berarti telah mencapai spiritualitas. Apa yang dilakukannya adalah kehendak Tuhan, dan apa yang dikehendaki Tuhan adalah yang dilakukannya.

Satu gerakan jari pun adalah kehendak Tuhan, dan ia tak akan pernah melakukan hal yang salah, apalagi bathil. Epistemologi Islam mengajak manusia untuk meningkatkan kesadarannya akan Tuhan. Tuhan tidak hanya  bersemayam di Arsy, Tuhan mengatakan bahwa Dia lebih dekat dari urat nadi kita. Jangan-jangan Tuhan ada di dalam diri kita sendiri?

Editor: Kholifatul Husna

Bagikan
Post a Comment