Totalitas Cinta
Makna-makna Cinta
Imam al-Ghazali mengungkapkan bahwa cinta merupakan kecenderungan tabiat kepada sesuatu, karena sesuatu itu nikmat baginya (al-Ghazali, 2014: 493). Ibn Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa cinta adalah dasar dan sekaligus pemicu dari segala gerak (al-Jauziyyah, 2009:52). Cinta menurutnya merupakan motivasi utama manusia berbuat, bertindak, dan berperilaku. Ketika manusia menumbuhkan rasa cinta di dalam hatinya, maka cinta yang bersemayam itu akan menumbuhkan semangat untuk hidup dan berbuat. Cinta itu sendiri bersumber dari Allah, karena Dia disebut Maha Cinta (ar-Rahman). Segala cinta bersumber dariNya karena sifat Allah Swt. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (ar-Rahman dan ar-Rahim). Allah sebagai Cahaya di atas cahaya (Qs.[24]:35) menurut Imam al-Ghazali menurunkan cahayaNya itu ke dalam hati manusia berupa kasih-sayang atau ar-Rahman Allah (al-Ghazali, 2017).
Sifat ar-Rahman dan ar-Rahim itu begitu agungnya hingga Allah mewajibkan membaca surah al-Fatihah dalam setiap salat, baik wajib maupun sunnah. Di dalamnya dibuka dengan kalimat bismillahirrahmanirahim dan diulang kembali di ayat berikutnya dengan arrahmanirahim. Maka setiap jiwa muslim dididik dan diajarkan oleh Allah dan dimintaNya untuk membuka hidupnya, membuka setiap hari yang akan dilaluinya dengan sifat kasih-sayang. Maka al-Fatihah sebagai surah pembuka dalam Qur’an yang bersifat wajib menunjukkan kepada manusia bahwa Allah Swt penuh kasih-sayang atau cinta.
Salah satu surah yang terdapat al-Qur’an adalah Surah ar-Rahman, disini kembali Allah Swt. menunjukkan sifatNya berupa kasih-sayang atau cinta. Bahkan rasa Cinta Allah melampaui dan melebihi murkaNya (HR. Bukhari-Muslim), bahkan Allah Swt. mengampuni segenap dosa manusia karena Dia memiliki sifat kasih-sayang (Qs.[39]: 53-54). Disinilah manusia seyogyanya menempatkan dan menyebarkan rasa kasih-sayang dalam setiap perbuatannya. As-Syaikh Imam Qusyairi an Naisabury menjelaskan bahwa cinta adalah sebuah kondisi mulia yang telah disaksikan Allah Swt melalui cinta itu bagi hambaNya, dan Dia telah mempermaklumkan cintaNya kepada si hamba. Dan karenanya Allah Swt. disifati sebagai Yang Mencintai hamba, dan hamba disifati sebagai yang mencintai Allah (an-Naisabury, 2016).
Sikap cinta kepada Allah oleh seorang hamba dimaknai sebagai sebuah cinta yang tak berselang, tidak berpaling kepada cinta yang lain, selain hanya cinta kepada Allah. Prinsip cinta ini menghubungkan antara hamba dengan Tuhannya, sehingga ia tunduk dan patuh, membenci segala hal yang menghalangi cinta hamba kepada Tuhannya (Rajab, 2017). Cinta kepada Allah Swt menurut Rabiah al-Adawiyah lebih tinggi tingkatannya dibanding ketakutan (khauf), dan harapan (rodja) bahwa cinta hamba kepada Allah bersifat murni. Sebuah syair yang ditulis Rabiah al-Adawiyah menunjukkan sebuah kualitas cinta yang murni: Sekiranya Engkau usir aku dari hadapanMu, aku tidak akan pernah pergi, karena cinta padaMu telah memenuhi hatiku (Wasalmi, 2014).
Cinta dan Totalitas Penghambaan
Cinta menjadi sebuah tanda, sebuah mesin yang menggerakkan sekaligus secara rasional menyadarkan apa dan mengapa seorang hamba menyembah Tuhan. Motivasi dan dorongan cinta atau mahabbah seorang anak manusia menjadi sebuah landasan yang paling logis untuk mendekat dan tidak pernah ingin ditinggalkan olehNya. Seorang hamba adalah pecinta, ia akan selalu gelisah ketika ia kehilangan yang ia cintai. Seorang kekasih akan kehilangan semangat hidup, bahkan rela untuk kehilangan segalanya dibandingkan ia kehilangan kekasih yang amat dicintainya. Gambaran totalitas cinta hamba kepada Tuhannya dapat diilustrasikan dalam kisah Layla Majnun, sebuah kisah roman yang ditulis oleh seorang ulama tasawuf as-Syaikh Nizamudin Abu Muhammad Ilyas bin Yusuf atau lebih dikenal dengan nama pena Nizami Ganjavi (w.1209 M.). Layla seorang gadis yang begitu dicintai oleh Qays yang dikenal nama Majnun, seorang pemuda yang menjadi gila karena cinta.
Qays atau Majnun adalah gambaran bagaimana manusia mencintai secara murni dan penuh totalitas terhadap apa yang ia cintai, sehingga ia menjadi kehilangan kesadaran. Cinta yang terdapat dalam dirinya telah memalingkan dirinya terhadap selain apa yang ia cintai. Inilah hakikat cinta dalam beribadah, cinta menjadi fondasi dalam beribadah kepada Allah. Bahkan seorang walyullah pun akan lupa terhadap dirinya sendiri dan rela melakukan apapun untuk dapat beribadah kepadaNya (Azisi, 2021). Inilah kemurnian dan totalitas cinta hamba kepada Allah Swt, bahwa ia hidup, berbuat, bertindak, bersikap, semata didorong oleh sebuah rasa cinta yang begitu dalam kepada Allah Ar-Rahman.
As Syaikh Ibnu al-Dabbagh (w.696 H.) mengungkapkan bahwa cinta dapat bersifat non esensial. Sebuah cinta yang didorong oleh sebuah hal di luar dari objek yang ia cintai. Sebagai contoh jika seseorang mencintai orang lain karena kebaikan yang ia miliki, maka ia akan mencintai orang itu karena kebaikan-kebaikan sebagai sifat yang ada di dalam diri orang itu. Tetapi hal ini dapat berpotensi ia kehilangan cinta terhadap objek yang ia cintai itu, yaitu ketika orang itu tidak lagi bersifat baik atau tidak lagi mencintainya seperti yang selama ini ia kenal. Maka seseroang akan kehilangan cinta terhadap objek itu karena perubahan yang terjadi (al-Dabbagh, 2011: 75).
Cinta esensial adalah sebuah contoh cinta yang hakiki, di mana seseorang mencintai atas dasar sesuatu yang tidak dapat dinalar oleh akal. Inilah sebuah cinta seorang hamba kepada Tuhannya, di mana seorang hamba dapat berada dalam posisi mabuk cinta bahkan kehilangan kesadarannya sendiri. Ia akan memiliki kecondongan hati secara penuh kepada yang dicintainya, dan berpaling dari selainnya. Segala perhatian yang dimilikinya haya tertuju kepada yang dicintainya. Cintanya begitu menggelora, membuncah, meluap, menguasai jiwanya, dan menggiringnya ke arah kerinduan yang teramat sangat. Ia tidak sanggup berbicara kecuali hanya tentang yang dicintainya, ia telah menjadi tawanan dari cintanya (al-Dabbagh, 2011: 77-83).
Inilah hakikat cinta tertinggi manusia, di mana ia hanya tertuju pada Allah, ia tenggelam dalam lautan cinta yang tak bertepi. Inilah hakikat dari ar-Rahman, bahwa manusia menyerap rasa cinta yang berasal dari Cahaya ar-Rahman Allah. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kecenderungan cinta manusia kepada sesuatu yang bersifat indrawi merupakan tingkatan cinta yang paling rendah, karena ia tidak sama dengan hewan. Kecintaan tidak hanya tertuju pada sesuatu yang bersifat indrawi. Cinta juga ditujukan kepada setiap hal yang bersifat non indrawi, yang hanya dapat ditangkap oleh mata-hati. Maka tidak ada yang lebih berhak untuk dicintai selain Allah Swt. Karena Dia adalah pokok dari segala hal (al-Ghazali, 2014: 494-495).
As-Syaikh Ibn Qayyim al- Jauziyyah mengungkapkan bahwa tujuan penciptaan makhluk adalah menghamba kepadaNya, dan penghambaan itu menunjukkan kesempurnaan cinta kepadaNya. Menurut beliau, terdapat 3 faktor yang memotivasi lahirnya dorongan cinta, yaitu: citra atau gambaran tentang kekasih dengan segenap pesona keindahannya, perasaan cinta terhadap kekasihnya, kecocokan antara pecinta dengan yang dicintai (al-Jauziyyah, 2009: 63). Citra atau penampakan tampilan serta pesona seorang kekasih akan menumbuhkan cinta bagi yang memandangnya. Seseorang akan terpesona akan penampilan sang kekasih, tetapi pada satu sisi tertentu pesona yang muncul tidak menumbuhkan rasa cinta yang hakiki. Ia hanya tertawan oleh pesona keindahan sang kekasih tetapi tidak memunculkan rasa cinta hakiki. Untuk itu mengapa aurat ditutup adalah untuk menghindari munculnya cinta yang semu dan tidak hakiki.
Menurut as-Syaikh Ibn Qayyim kecocokan menjadi akan menumbuhkan rasa yang satu kepada yang lain. Bagi seorang pecinta sejati, kecintaan muncul bukan semata karena kecantikan dan keindahan melainkan sesuatu yang menyatukan jiwa. Walau bagaimanapun dan apapun, cinta kepada Allah adalah tak berbanding dengan apapun jua. Cinta kepadaNya menuntut untuk mendahulukanNya sebagai Sang Kekasih di atas apapun. Cinta semacam ini tak dapat dibandingkan dengan cinta kepada makhluk. Maka Allah Swt tak ingin diduakan cintanya oleh makhlukNya berupa tindakan menyekutukan Allah (al-Jauziyyah, 2009: 207). Inilah hakikat Tauhid, bahwa tauhid adalah totalitas cinta kepada Allah Swt semata tanpa ada yang menandingiNya.
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (Qs. Ali Imran [3]: 31).
Dosen Program Magister Hukum
Universitas Al Azhar Indonesia

Syafruda
Terima kasih Foky
mantap👍👍Bermanfaat🙏
Syafruda
Terima kasih Pak Foky
mantap👍👍Bermanfaat🙏
Andjar Setyo P
Terima Kasih pak fokky penjelasan anda mudah di mengerti atas sesuatu bahasan yang sulit di jabarkan..