Terbawa Arus: Siapa Aku?
Terbawa arus kini menjadi salah-satu trend yang ramai netizen gunakan di media sosial. Pada awalnya trend itu netizen gunakan untuk menunjukkan perubahan dari hal baik menuju hal yang kurang baik. Namun beberapa justru sebaliknya, mereka menunjukkan perubahan dari hal buruk menjadi lebih baik. Bentuk perubahan yang mereka maksud juga beragam. Ada perubahan dari segi berpakaian, gaya hidup, usaha, dan sebagainya. Namun mayoritas trend ini berisi transformasi seseorang dalam berpakaian.
Dengan adanya trend ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang mudah berubah. Perubahan itu bisa membawa seseorang menjadi lebih baik atau juga lebih buruk. Sementara perubahan itu tidak ujug-ujug terjadi begitu saja. Pasti ada faktor yang memengaruhinya. Perubahan yang terjadi dalam diri kita juga dapat menimbulkan pertanyaan siapakah diri kita yang sebenarnya jika arus terus membawa kita. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas bagaimana seseorang bisa terbawa arus dan bagaimana agar kita tak terbawa arus.
Nilai yang Kau Anut
Pada dasarnya manusia menjalani hidup mereka berdasar nilai dan norma yang mereka bawa. Nilai dan norma itu dapat terbentuk dari identitas dan lingkungan mereka. Seorang muslimah misalnya, karena identitasnya muslimah maka ia menggunakan hijab. Kemudian, karena orang di lingkungannya terbiasa menggunakan hijab besar maka ia pun sama.
Manusia cenderung berpikir bahwa nilai yang ada di sekitarnya itulah yang normal terjadi. Maka saat seseorang berada di lingkungan dan identitas yang baru, maka cenderung sulit mempertahankan nilai yang ada sebelumnya. Lalu, perlahan mengikuti nilai lingkungan yang baru meski bertentangan dengan nilai yang mereka anut sebelumnya.
Mulai Terbawa Arus
Lingkungan seringkali menjadi faktor seseorang terbawa arus. Terlebih jika dalam lingkungan tersebut kita adalah minoritas dan tidak memiliki seseorang dengan nilai dan prinsip hidup yang sama. Menjadi minoritas terkadang membuat kita merasa terasingkan, belum lagi jika ada bumbu-bumbu pujian di dalamnya. Mari kita ambil contoh. Seorang muslimah yang terbiasa menggunakan hijab syar’i, serta tegas terhadap batasan antara perempuan dan laki-laki kemudian datang ke lingkungan yang menyepelakan hal tersebut. Karena tak memiliki teman seprinsip, merasa terasingkan, belum lagi tergoda dengan pujian ”Kamu cantikan tanpa hijab deh,” ”Kamu kerudungan gede kaya ibu-ibu,” ”Salaman sama cowo doang elah masa gaboleh” dan semacamnya. Jika iman tergoyah maka perlahan kita terbawa arus menyesuaikan lingkungan yang ada meski itu tidak baik.
Mengapa Terbawa Arus?
Selain faktor lingkungan dan identitas baru, apa yang kita lihat dalam keseharian juga memengaruhi kita. Apa yang kita tonton, apa yang kita baca di media sosial, dan apa yang kita biasa dengar. Terlebih dengan berbagai trend media sosial ataupun kehidupan nyata yang secara tidak langsung kita ikuti. Gaya hijab, gaya https://rahma.id/berdosa-demi-gaya-hidup-dan-gengsi/ make-up, fahsion style, jenis tontonan, dan trend-trend lainnya terus silih berganti seakan tidak ada habisnya.
Siapakah Aku?
Saat seseorang terbawa arus buruk sebenarnya mereka tahu bahwa yang mereka lakukan itu tidak benar. Saat menjalani kehidupan dengan arus baru, seseorang seringkali merenung dan mempertanyakan siapakah dirinya. Juga merasa mereka sudah melangkah terlalu jauh dan jauh dalam hati merasa itu tidak benar. Maka terjadilah pergolakan batin. Haruskah kembali ke ”jalan yang benar” atau lanjutkan saja hidup dengan mengikuti arus.
Lawan Arus dengan Arus?
Dengan pergolakan batin dan kesadaran bahwa sedang berada di jalan yang salah, maka seseorang sebenarnya merindukan diri mereka yang dulu. Namun saat sudah terbawa arus terlalu jauh, seseorang cenderung merasa sulit atau bingung bagaimana caranya kembali. Maka untuk meninggalkan terbawa arus buruk ini perlu dengan melawan arus dengan arus yang baik. Bagaimana maksudnya? Seperti yang sudah saya terangkan di awal, trend ini bukan hanya berisi perubahan baik menuju buruk, namun juga ada perubahan buruk menjadi lebih baik. Seperti arus buruk, netizen mengatakan arus baik yang mereka dapatkan juga berdasar faktor lingkungan. Maka jika lingkungan adalah faktor kita terbawa arus maka carilah lingkungan yang akan membawa arus baik. Jika circle kita justru membawa kita semakin jauh dari syariat Allah, maka carilah circle yang mendekatkan kita kepada Allah. Karena sekali lagi, lingkungan sungguh sangat berpengaruh. Seperti yang Rasulullah sampaikan dalam hadis berikut.
Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan bahwa Nabi bersabda,”Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang dijadikan sebagai teman dekat.” https://hadeethenc.com/id/browse/hadith/3122
Bunglon
Saat sudah menemukan lingkungan yang lebih baik mungkin bisa membuat kita sedikit lebih tenang. Namun jika masih terlibat atau bersinggungan dengan lingkungan yang membawa arus buruk akan sulit untuk istikamah, atau seringkali kita menjadi ”bunglon”. Untuk beberapa orang mungkin lebih memilih menjadi bunglon. Menjadi bunglon berarti menyesuaikan di mana dirinya berada. Saat berada di lingkungan orang taat, maka ikut taat. Namun saat sedang bersama lingkungan yang buruk, maka mengikuti juga, fleksibel. Maka inilah yang menjadi tanda seseorang krisis identitas, tidak tahu siapa dirinya.
Trend Buka Aib?
Setiap orang bisa melakukan kesalahan dan setiap orang memiliki aib. Namun yang terpenting adalah kita menyesalinya dan bertaubat. Sebenarnya ini juga yang menjadi permasalahan dalam trend terbawa arus ini, terutama terbawa arus baik. Di mana, seseorang yang sudah hijrah menjadi menunjukkan lagi dirinya yang belum hijrah di publik terutama persoalan aurat. Itu lah yang beberapa netizen sayangkan. Beberapa berpendapat bahwa Allah sudah baik menutup aib manusia, lalu justru dengan bangganya mereka membukanya.
Penutup
Itulah tadi sekilas mengenai trend terbawa arus yang sedang ramai saat ini. Sebagai seorang muslim, sudah sepatunya kita bangga dan merayakan hidup ini sesuai identitas kita. Semoga pembaca yang telah terbawa arus buruk dapat kembali ke jalan yang baik sebagaimana Allah perintahkan. Begitu pula pembaca yang telah terbawa arus baik, semoga dapat istiqamah dan tidak terbawa arus buruk.

