Solusi Corak Relasi Suami Istri Patriarki
Tanpa disadari corak relasi suami istri patriarki telah mendominasi kehidupan. Hal ini dapat kita lihat dari kebanyakan peran istri yang selalu identik dengan ranah domestik. Di mana semua pekerjaan rumah tangga adalah tugas istri. Klaim ini didukung dengan doktrin bahwa istri hanya berhak di kasur, sumur dan dapur. Sedangkan suami yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga dianggap suami takut istri atau dunia terbalik. Bagi masyarakat yang tumbuh dalam budaya patriarki hal ini mungkin dianggap lumrah, namun tidak bagi kaum feminisme. Sehingga perlu adanya pandangan mubadalah atau ketersalingan untuk menyikapi isu ini.
Menghapus Isu Dunia Terbalik
Dunia terbalik adalah istilah yang diberikan kaum patriarki bagi suami yang melakukan pekerjaan rumah tangga. Anggapan ini muncul karena suami digadang sebagai pemimpin yang tak pantas berkecimpung dalam ranah domestik. Sehingga suami yang melakukan pekerjaan rumah tangga dianggap menyalahi kodrat. Bahkan tak jarang istri yang dipandang buruk jika suami melakukan pekerjaan rumah tangga.
Adanya isu dunia terbalik kerap kali menutup akses rasa kepedulian suami terhadap istri. Jika kita telusuri, mungkin tak sedikit suami yang telah mengerti bahwa pekerjaan rumah tangga adalah tugas bersama. Namun ketika para suami ingin terjun dalam ranah domestik masih masih terisolasi rasa gengsi atas pandangan masyarakat patriarki. Gengsi jika dipandang sebagai suami takut istri yang nanti dijadikan bahan ejekan dalam pergaulan masyarakat.
Untuk menghapus isu dunia terbalik kita tidak bisa mengubah langsung pemikiran masyarakat. Namun corak patriarki ini dapat kita kikis sedikit demi sedikit mulai dari pemikiran kita sendiri. Bahwa mengenai peran dan relasi suami istri itu ada konsep mubadalah. Di mana ketersalingan itu timbul termasuk dalam ranah domestik. Mengurus rumah tangga bukan hanya tugas istri, namun kerja sama antara suami dan istri. Misalnya si istri masak suami menyapu dan sebagainya. Saling kerja sama dan memback up tugas serta peran masing-masing.
Menjadi Saling Bukan Merasa Paling
Corak relasi suami istri patriarki menimbulkan sentralisasi tugas domestik pada istri. Hal ini memicu istri merasa paling capek karena melakukan semua pekerjaan rumah tangga sendiri. Di sisi lain pembebanan nafkah pada suami tak jarang membuat suami merasa paling lelah karena bekerja. Adanya perspektif sepihak sebab merasa paling, merupakan celah yang dapat memicu konflik dalam rumah tangga.
Menghapus kata paling menjadi saling adalah kunci keharmonisan suami istri. Dari yang sebelumnya merasa paling berusaha menjadi saling berusaha menunjukkan adanya kerjasama. Dengan ini akan timbul rasa saling menghargai antar pasangan, Sehingga tidak ada yang merasa paling unggul. Karena relasi suami istri layaknya roda yang saling beriringan tanpa ada rasa untuk mendahului.
Implementasi kata saling oleh suami istri dalam rumah tangga dapat dianalogikan dengan sebuah kapal yang berlayar. Memang suamilah yang menjadi nahkoda namun di samping itu ada istri sebagai kompas. Untuk menentukan ke mana tujuan mereka berlabuh tentu perlu ada kerja sama bukan?. Sebab nahkoda akan terombang ambing tiada tujuan tanpa arah yang jelas dari kompas. Pun sebuah kompas tak mungkin bisa mencapai tempat berlabuh tanpa kendali dari nahkoda. Oleh karena itu adanya ketersalingan untuk kerja sama adalah jalan mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Relasi suami istri dengan corak patriarki tidak untuk dinormalisasi sebab menimbulkan anggapan yang keliru dalam masyarakat. Dunia terbalik, suami takut istri dan doktrin pro patriarki lainnya dapat dihapus dengan sudut pandang ketersalingan. Sejalan dengan Q.S Al Baqarah ayat 187 bahwa suami istri itu layaknya pakaian yang saling melindungi dan melengkapi. Tafsir jalalain juga menjelaskan bahwa makna pakaian adalah saling dekat, saling mengayomi dan saling membutuhkan. Ada ketersalingan dan kerja sama untuk mencapai tujuan dalam rumah tangga.
Ketersalingan tak hanya merujuk pada kerja sama namun juga berlaku pada hukum tabur tuai. Bahwa apa yang kita berikan kepada pasangan itulah yang akan kita dapat. Hal ini didukung oleh Q.S Al Isra ayat 7 bahwa saat kita berbuat baik kepada orang lain sebenarnya kebaikan itu untuk kita sendiri. Ada timbal balik antara apa yang kita beri kepada pasangan dengan apa yang kita terima. Saling memberikan yang terbaik akan membuat pasangan merasa lebih diapresiaisi dan dihargai.
Perlu kita ingat bahwa dalam relasi suami istri jangan pernah ada yang merasa paling. Sebab kehidupan rumah tangga bukan tentang siapa yang unggul namun tentang bagaimana saling merangkul. Setiap pasangan pasti memiliki rasa lelah . Saling memahami adalah kunci agar rumah tangga tetap tenang. Ada kalanya emosi atau capek, itu wajar karena kita adalah manusia. Namun jangan jadikan manusia lain sebagai pelampiasan
