f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
vendor

Dua Kunci Emas Pelaksanaan GCG

Rahmania, sesuai judul artikel ini, mari kita memulai penerapan GCG. Are you ready? Nah, ini beberapa tips yang harus kamu persiapkan untuk memulainya.

Pertama-tama, kita harus mengetahui apa itu GCG.

Definisi awal menjadi penting agar kita semua mempunyai kesamaan sudut pandang. Definisi mana yang mau kita sepakati di dalam perusahaan menjadi sebuah nilai bersama.

GCG adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka.

Atau dengan kata lain, suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan. Tujuan GCG adalah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholders). (Forum for Corporate Governance Indonesia, 2006.)

One key element in improving economic efficiency an growth as well as enhancing investor confidence that involves a set of relationship between a company management, its board, its shareholders and other stakeholders and also provices the structure through which the objectives of the company, the means of attaining those objectives and monitoring performance (OECD, 2004)

GCG merupakan kumpulan hukum, peraturan, dan kaidah-kaidah yang wajib untuk dipenuhi. Yang dapat mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan untuk berfungsi secara efisien. Kegunaannya untuk menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat secara keseluruhan (Bank Dunia).

Kemudian, penulis mencoba mengadakan survey kecil-kecilan terhadap beberapa pegawai di lingkungan kerja penulis dan terhadap peserta workshop GCG untuk mengetahui apa pemahaman mereka terhadap GCG. Ini hasilnya:

GCG = Birokratis, GCG = Aturan Main berupa Sistem Prosedur, GCG = Konsep Pengawasan Perusahaan.

Sepakatkah anda dengan mereka? GCG merupakan konsep bagus yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Namun, tentu harus memenuhi prasyarat-prasyarat tertentu.

Baca Juga  Pandemi: Nasib Perdagangan Indonesia-China
Kunci Emas Pelaksanaan GCG

Kalau kita telaah lagi, ada 2 (dua) buah kunci emas pelaksanaan sukses/tidaknya GCG. Pertama adalah komitmen. Inilah kekuatan maha dahsyat untuk menentukan berjalan/tidaknya implementasi GCG di suatu korporasi.

Ada kisah menarik terkait dengan komitmen, mari kita lihat.

Seorang direktur bergabung dengan perusahaan di tahun 2009. Bergabungnya direktur ini karena kedekatan hubungan personal dengan pemilik saham mayoritas. 

Tentu saja, fit and proper test tidak dilakukan untuk yang bersangkutan. Rupanya, di masa lalu, beliau pernah menjadi direktur utama sebuah perusahaan yang kemudian salah kelola sehingga akhirnya bangkrut. Walaupun kebangkrutan perusahaan karena banyak faktor, namun ia memegang jabatan akhir yang pada akhirnya merugikan perusahaan.

Ketika ia bergabung dengan perusahaan saat ini, ia pun akan berhadapan dengan kewajiban menandatangani komitmen GCG direksi dan pakta integritas. Tanpa keberatan, beliau pun menandatangani kedua dokumen tersebut. Bahkan, kadangkala beliau mengatakan sangat mendukung implementasi GCG di perusahaan. 

…

Tapi…. tanpa disadari oleh direksi dan karyawan lainnya, sang direktur memiliki niat terselubung. Beliau melihat bahwa banyak potensi dan celah penyimpangan yang dapat dilakukan karena masih lemahnya sistem dan kontrol di perusahaan tersebut. Secara diam – diam beliau pun menguras uang perusahaan untuk kepentingan pribadi.

Awalnya hal ini berjalan secara lancar dan mulus tanpa ada kecurigaan. Berkat kecerdikan dan dukungan kawan-kawan, sang direktur selalu berhasil menutupi jejaknya. Hasil audit yang dilakukan oleh internal Audit selalu dapat ditepis. Sementara itu, beliau berhasil memainkan peran sebagai orang yang baik.

Namun, seperti kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Hal inilah yang terjadi pada sang direktur. Sepandai-pandainya menutupi kebusukan, akhirnya akan tetap tercium juga. Dan akhirnya, sang direktur pun harus berurusan dengan polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun sayang, perusahaan sudah terlanjut kehilangan banyak uang perusahaan.

Baca Juga  Cinta Beda Agama dalam Pandangan Islam

Cerita ini menggambarkan bahwa komitmen tidak dapat dilakukan dengan lips service belaka. Komitmen tidak semata indah diucapkan, namun harus ditunjukkan dalam perbuatan nyata dan dalam bentuk konkrit. Jika pimpinan perusahaan melakukan kampanye yang sebatas pada lisan, namun perbuatannya ibarat “jauh panggang dari api”, maka keberadaan implementasi GCG di perusahaan akan sia-sia. 

Bagaimana dengan Kunci Emas Kedua?

Kunci emas kedua menjadi syarat lanjutan terlaksananya GCG. Tanpa adanya hal ini, GCG hanya akan sebatas pada komitmen saja. Kunci emas ini adalah Konsistensi.

Coba simak cerita berikut ini:

Ketika implementasi GCG baru saja didengung-dengungkan tahun 2002, banyak perusahaan berlomba-lomba mengimplementasikan GCG. Mereka beramai-ramai melakukan assessment GCG, membuat GCG Code, Board Manual, Charter Komite Audit dan kebijakan-kebijakan lainnya. Mereka pun mengundang berbagai pembicara untuk menjadi narasumber sosialisasi/awareness GCG.

Dalam satu-dua tahun, selesailah penerapan GCG tersebut. Namun, ketika perusahaan merasa mereka sudah memiliki semua prasyarat GCG, mereka tidak melanjutkan GCG dan terjebak pada ketersediaan dokumen. Lebih parahnya lagi, pengukuran kinerja GCG ternyata lebih di titikberatkan pada pemenuhan dan ketersediaan dokumen sehingga banyak perusahaan memiliki nilai GCG yang tinggi.

Terjebak pada nilai tinggi hasil dari assessment tersebut rupanya membuat perusahaan berpuas diri. Mereka merasa bahwa penerapan GCG sudah bagus dan cenderung tidak melakukan improvisasi dan perbaikan terus menerus. 

Perusahaan tidak melanjutkan sosialisasi sampai kepada pihak eksternal. Juga tidak melakukan pengukuran kualitas informasi GCG maupun memiliki sarana pelaporan pelanggaran. 

Bahkan perusahaan pun tidak menempatkan seorang pejabat khusus untuk menangani GCG. Pekerjaan GCG menjadi pekerjaan tambahan dari salah satu unit kerja. Rahmania bisa membayangkan, akhirnya, GCG di perusahaan pun berjalan di tempat.

Baca Juga  Digital Detox di 10 Malam Terakhir: Mematikan Notifikasi untuk Menghidupkan Hati

Suatu ketika, penulis pun diminta bantuan untuk kembali menghidupkan GCG di perusahaan tersebut. Namun karena GCG-nya sudah lama mati, sesuai dengan kriteria yang penulis sebutkan di atas. Maka penulis pun menyampaikan bahwa penerapan GCG yang dilakukan perusahaan harus diulang kembali dari awal. Sangat disayangkan.

Jika 2 (dua) kunci emas ini dapat dilakukan di korporasi, maka pelaksanaan GCG akan dapat dilaksanakan. Selamat mencoba ya!

Bagikan
Post a Comment