f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ibu sekolah pertama

Salah Tanggap Mengenai Ibu sebagai Sekolah Pertama bagi Anaknya

Pagi ini ketika saya sedang menyapu teras rumah, saya dibuat terkejut dengan kegaduhan yang terjadi di halaman depan. Setelah saya perhatikan, ternyata itu suara tetangga saya yang sedang memarahi dua anak kecil di hadapannya. Tangan kanannya di samping pinggang dengan tangan kiri yang menunjuk-nunjuk dua anak kecil itu ia berkata, “Anak siapa kamu? Siapa Mamamu? Gak dikasih tahu ya kalau musala itu tempatnya salat?”

Suaranya yang lantang membuat saya tidak sengaja mendengar apa yang sedang ia katakan. Rupanya tetangga saya ini merasa terganggu melihat dua orang anak kecil yang berlarian di dalam musala. Tidak hanya berlari namun mereka juga berteriak memanggil nama satu sama lain. Suasana sekitar yang saat itu sedang lengang ditambah dengan adanya dua anak kecil bermain di tempat yang tidak seharusnya itulah yang menjadi penyebab terpancingnya amarah tetangga saya ini.

Tidak ada yang salah dari kejadian tersebut, namun ada sesuatu yang mengganjal dalam hati saya. Benar maksud tetangga saya mengingatkan anak-anak itu tentang musala bukanlah tempat untuk bermain. Musala adalah tempat beribadah, namun yang mengganjal di hati saya adalah mengapa tetangga saya ini harus sekali mempertanyakan tentang siapa ibunya? Siapa orang tuanya? Apakah ia bermaksud menyinggung tentang bagaimana cara ibunya mendidik?

Nyesek saya mendengarnya, membayangkan setiap kesalahan yang anak akan perbuat selalu kembali lagi pada bagaimana cara seorang ibu dalam mendidiknya. Benar adanya bahwa ‘Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya’, namun sadar atau tidak jika kita pahami kembali akan terlihat jelas bahwa banyak tempat untuk seorang anak itu belajar. Karena semua yang anak itu tangkap melalui indranya adalah sebuah proses ia dalam belajar.

Baca Juga  Fenomena Sungkan Menyapa Orang Lain

Dua anak kecil yang sedang berlarian itu, ia adalah seorang anak SD yang baru berumur 9 tahun. Menurut teori psikologi, seorang anak berusia 9-10 akan cenderung membangun relasi berdasarkan kepentingan atau minat yang sama, daripada perasaan yang menunjukkan kedekatan. Namun terlepas dari semua pembenaran, tetap saja banyak orang menyalahkan orang tua atas kesalahan yang sang anak perbuat, lebih-lebih ibu.

Ibu digadang-gadang menjadi sosok pertama yang menanamkan benih-benih akhlak dan teladan di dalam bersikap. Seorang ibu akan menjadi figur dan contoh bagi anak-anaknya. Itulah mengapa dalam suatu hadis yang juga seorang penyair kutip, mengatakan bahwa al-ummu madrasatul ula yang berarti bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Namun di saat anak itu sudah beranjak dewasa, apakah peran ibu tetap berpengaruh pada tumbuh kembang dan caranya bersikap?

Sebagian orang akan menjawab iya, begitu pula dengan saya. Saya mempercayai betul bahwa orang tua, terlebih ibu mempunyai peranan penting itu. Dengan hal mendasar inilah muncul banyak opini dalam masyarakat bahwa apabila seorang anak melakukan kesalahan, itu semua sebab kesalahan figur ibu dalam mendidiknya. Contoh saja seperti kenakalan remaja di awal pembahasan ini, orang tua akan tersorot, ibu pun akan ikut menjadi bulan-bulanan tetangga. “Anak siapa itu?”, “Astaga, apa ibunya tidak bisa mendidiknya?”, serta banyak lagi nyinyiran orang yang akan dilontarkan.

Saya menyetujui peran ibu tidak hilang saat anaknya dewasa, namun saya menolak keras mengenai banyak opini yang muncul dalam masyarakat. Seorang anak akan menghabiskan masa kecilnya memang bersama orang tua namun ketika beranjak remaja ia akan membangun banyak relasinya sendiri. Yang mana berarti bahwa lingkup pembelajarannya tidak hanya sebatas orang tua dan keluarga. Namun semakin melebar pada lingkungan dan kawan bermainnya. Mungkin jika masyarakat jeli pada poin ini, maka mereka tidak akan dengan mudahnya menghakimi ibu sebagai seorang yang gagal menjadi sekolah pertama bagi anaknya.

Baca Juga  4 Jam Kehilangan Ibu

Mungkin akan saya singgung sedikit mengenai sebuah nasihat yang berbunyi “jika kamu berteman dengan penjual minyak wangi maka kamu akan tertular wanginya, dan apabila kamu berteman dengan seorang pandai besi maka kamu akan mendapati badan atau bajumu yang terbakar dan bau besi yang tidak enak”. Nasihat itu berarti bahwa seorang anak atau individu harus pandai-pandai memilih kawan bermainnya. Hal itu bukan tidak mendasar, bahkan nabi sendiri yang bersabda,

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” Begitulah kiranya.

Saya simpulkan lagi bahwa tidak semua kesalahan yang seorang anak lakukan di usia anak-anak atau remaja itu merupakan dampak dari ketidak mampuan orang tua dalam mendidik anak. Apalagi sampai ada yang menghujat dan mempertanyakan siapa ibu atau orang tuanya. Hal seperti ini akan menyakiti hati ibu dan sang anak, di mana ibu merasa gagal mendidik anaknya dan seorang anak yang merasa terus-terusan disalahkan tanpa pembenaran yang menasehati.

Berhenti menjadi masyarakat yang kolot. Lindungi serta didik anak-anak dengan baik. Bukan hanya tugas seorang ibu, namun keluarga dan lingkungan juga harus turut mengambil andil dalam hal ini. Al-ummu madrasatul ula jangan lagi disalah artikan, ibu adalah sosok pertama yang mengajari anak diwaktu kecil, lalu di saat remaja? Lingkunganlah yang mempengaruhi cara belajarnya. Walau berbeda cara, semua ibu pasti memberikan pendidikan yang terbaik untuk buah hatinya.

Bagikan
Post a Comment