f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kapitalisasi pendidikan

Posisi Menghafal dalam Pendidikan Kita

Sampai sekarang, saya hidup di mana tataran konsep dan hafalan adalah sesuatu yang mutlak penting. Buat beberapa orang mungkin itu tidak relevan. Tapi menghafal memang mau tak mau saya harus lakukan. Bukan karena itu adalah sebuah tuntutan, tapi lebih kepada bentuk kekhawatiran saya tertinggal dengan kawan-kawan saya yang tingkat pemahamannya sudah lebih mapan. Saya juga bingung. Padahal nggak lagi balap-balapan, tapi kok saya merasa tertinggal.  

Selain tidak suka dengan buah durian, orang yang menyebalkan, dan tugas yang menumpuk, saya juga orang yang sangat tidak suka dengan hafalan. Setidaknya, sampai saya memutuskan untuk berkuliah di fakultas pendidikan.

Dulu, buat saya menghafal adalah kegiatan yang buang-buang waktu. Semasa sekolah dasar, saya sering mikir, “ngapain ya saya capek-capek menghafal?Wong di buku paket juga sudah tertera jelas informasi yang saya butuhkan.”

Sebagai anak-anak lucu kebanyakan, saat itu saya berfikir bahwa; harusnya di usia itu saya sedang asik main sepak bola, atau memanjat pohon cherry sambil teriak “Bang, beli!” lalu mengumpet saat pedagangnya lewat. Bukan malah menghafal rumus matematika atau menghafal nama-nama planet yang ada di tata surya.

Ketidaksukaan saya dengan menghafal bertambah ketika semasa SMA, yang kata orang, masa yang sedang indah-indahnya. Saya diminta untuk menghafal beberapa surat pendek untuk kemudian dijadikan syarat kelulusan. Nggak salah juga sebenarnya. Tapi barangkali itu bukan cara yang tepat untuk mengukur tingkat kereligiusitasan seseorang. Toh, menurut saya sebenarnya memang tidak bisa diukur karena itu urusan Tuhan.

***

Menghafal itu menyebalkan, tapi ada alasan logis mengapa bapak dan ibu guru SMA saya kekeuh minta anak-anaknya melakukan kegiatan menyebalkan itu.

Baca Juga  Seni Menulis Tangan Kian Menghilang

Dalam dunia pendidikan, ada cara untuk melihat kegiatan belajar—yang salah satu diantaranya adalah menghafal—dalam tataran kognitif dan kemampuan berpikir. Bapak dan Ibu guru yang sedang membaca tulisan ini mungkin akrab dengan Taksonomi Bloom.

Secara sederhana, taksonomi ini dikelompokkan berdasarkan sasaran dan tujuan pendidikan yang kemudian dibagi menjadi tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam ranah kognitif tadi, ternyata terdapat 6 tingkatan lagi yaitu mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Dari sekian banyak tahap itu, ternyata tingkatan level kognitif paling dasar kita, adalah mengingat.

Ini artinya, sebelum kita sampai pada dimensi pengetahuan metakognitif, terlebih dahulu kita harus menguasai dimensi pengetahuan faktual. Sebelum bisa tau cara mensintesis alkohol, maka kita juga harus tau dulu apa itu alkohol, siapa saja penyusunnya, dan lain-lain.

Menghafal, kegiatan yang selama ini tak pernah saya suka, ternyata masuk kedalam tingkatan mengingat. Sekalipun menghafal bukanlah satu-satunya cara yang ada dalam tingkatan mengingat itu, tapi kita tidak boleh kita menutup mata bahwa menghafal ternyata masuk ke dalam tingkat paling dasar dalam ranah kognitif.

Sebagai bagian dari dimensi pengetahuan, tingkatan mengingat ini menjadi penting; karena tingkatan-tingkatan setelahnya membutuhkan sebuah dasar yang konkret untuk kemudian dapat dijadikan pijakan berpikir selanjutnya.

***

Bayangkan, bila ada seorang chef yang tidak bisa membedakan kapan harus menggunakan minyak, dan kapan harus menggunakan margarin saat memasak karena tidak pernah tau masing-masing fungsi keduanya. Bayangkan lagi, ketika ada seorang guru PAUD yang lagu-lagu anak saja ia tidak hafal, terus gimana ia mengajar? Atau bayangkan kembali, misalkan anda diminta menyebutkan maksud dari pancasila sementara anda tidak tahu karena tidak hafal. Semua problematika tadi paling tidak bersumber pada satu hal. Tingkatan mengingat dan memahami yang belum tuntas.

Baca Juga  Kejahatan Seksual: Perempuan Selalu Menjadi Faktor Tunggal

Masyarakat kita hari ini berharap luar biasa besar pada pendidikan. Tidak sedikit orang yang mau merogoh kocek agak dalam supaya anak-anaknya bisa dapat pendidikan yang layak. Harapan lebih lanjutnya pasti supaya kelak bisa dapat penghidupan yang juga layak.

Pendidikan kita hari ini bergerak amat dinamis. Ia dituntut untuk senantiasa relevan dengan tumbuh kembang masyarakat. Kalau dipikir-pikir, harus diakui bahwa dalam beberapa kasus, pendidikan di Indonesia masih terlampau kaku. Bahkan dalam beberapa kesempatan, kurikulum kita disebut sebagai kurikulum hafalan.

***

Tapi, jangan salah sangka. Bukan artinya menghafal itu tidak penting. Ia tetap harus ada dalam tiap tataran pembelajaran walaupun harus juga diperhatikan bahwa tidak melulu menghafal itu menyelesaikan persoalan. Pendidikan yang menuntut relevansi tidak akan pernah tercapai kalau melulu stuck di tingkat kognitif mengingat. Tingkat paling dasar dalam Taksonomi Bloom.

Terlalu banyak menghafal juga tidaklah baik. Ini yang mungkin membuat pendidikan kita kaku. Kita terlalu berpaku pada sesuatu yang melulu bersifat faktual dan gagal mengembangkannya sampai bersifat menganalisis konteks. Terlalu banyak menghafal dapat membuat kemampuan berpikir kita tumpul. Ini berbahaya. Ini yang kemudian juga menyebabkan timbulnya pendidikan yang “Mohon Arahan”. Membuat kita tidak mandiri dan tidak percaya dengan kemampuan analisis kita sebagai manusia. Menghafal itu perlu, tapi bukan segalanya.

Sudah saatnya kita beranjak dari pertanyaan dan tugas-tugas hafalan kepada sesuatu yang lebih progresif.

Oh, iya. Ngomong-ngomong, saya juga jadi curiga. Jangan-jangan waktu Pak Jokowi bertanya nama-nama menteri dan nama-nama ikan saat bagi-bagi sepeda itu adalah upaya beliau untuk menguji apakah tingkat berpikir kita dalam tataran mengingat sudah tuntas atau belum.

Baca Juga  Saya Calon Orang Tua, Gen Z, dan Galau: Catatan di Hari Anak Nasional

Editor: Ananul Nahari Hayunah

Bagikan
Post tags:
Comments
  • Niningg

    Waaa,, keren bangett tulisannya ka Cocok banget buat membuka pikiran kita yang benci dengan hafalan. Ditunggu karya² berikutnyaa kaa..

    September 29, 2020
Post a Comment