f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
iman kebahagiaan

Pondasi Kebahagian dalam Pernikahan

“Menemukan kebahagian adalah tentang dampak yang telah kita berikan kepada kehidupan, jika yang kita berikan positif maka akan di dapat hal positif, namun jika yang kita berikan negative maka yang akan di dapat hal negatif,”. Begitulah yang dikatakan oleh W. Doyle Gentry dalam bukunya yang berjudul The Four Basic Ingredients of Happiness.

Banyak yang tidak kita ketahui tentang di mana letak sebuah kebahagiaan, sebenarnya kebahagiaan itu terletak dalam keimanan setiap manusia. Seorang yang tidak memiliki keimanan tidak akan menemukan jawaban-jawaban yang penting, jawaban-jawaban dari semua pertanyaan dalam kehidupan. Seperti halnya beberapa pertanyaan yang sering kita dengar dari para ustaz dalam berbagai ceramah ; “Dari mana kita berasal?”, “Untuk apa kita diciptakan?”, atau “ke mana kita setelah meninggal?”.

Seorang yang di dalam dirinya tidak memiliki keimanan akan kebingungan mencari jawaban dari pertanyaan tersebut; bahkan akan mengalami kegelisahan, karena tidak memiliki iman dan tidak menemukan jawaban yang dapat memuaskan akal pikiran.

Seorang manusia akan bahagia dalam menjalani kehidupan jika sudah menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan yang tidak bisa ditemukan kecuali dengan iman. Manusia saat ini, jika tidak menemukan jawaban pasti akan melakukan berbagai cara untuk mencari jawaban dari sebuah kebahagiaan, bisa jadi akan mencari atau menyususn suatu argument, membuat teori dan menciptakan logika. Namun semua yang mereka bangun dan cari tak akan bisa memberikan ketenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan, apabila tidak berlandaskan keimanan.

Tanpa Iman Hancurlah Kebahagiaan

Pada abad ke-18 ada seorang ahli filsafat bernama Friedrich Nietsche yang berasal dari jerman. Semasa hidupnya tak pernah percaya akan Tuhan, bahkan di dalam dirinya tidak ada yang namanya iman. Semakin mengingkari keimanan, akan semakin jauh pula dari kebahagiaan. Mari kita lihat kegelisahan yang dialami oleh Nietsche yang berujung kegilaan.

Baca Juga  Menyusupi Kubangan Perbedaan Menuju Kemaslahatan Pernikahan

God is dead. God remains dead! yang berarti “Tuhan telah mati Tuhan tetap mati”. Demikian teriak Nietsche menggambarkan kegelisahan dan pengembaraan absurd yang ia lakukan sebelum akhirnya ia sendiri mengalami kegilaan total sampai saat ajal menjemputnya tahun 1900. Itulah yang didapatkan oleh manusia yang menolak keimanan. Bukan kebahagiaan, bukan ketenangan, justru kegelisahan yang mematikan. Karena iman yang memiliki jawaban. Iman yang memberi ketenangan dan kebahagiaan. Juga iman yang menuntun seseorang ke jalan yang benar, jalan menuju kebahagiaan.

Iman Pengendali diri

Demikian pun dalam kehidupan pernikahan serta berumah tangga. Pernikahan tanpa iman, bisakah? Rumah tangga tanpa keimanan, seperti apa? Bagaimana menjawab pertanyaan fundamental: mengapa menikah, untuk apa menikah, bagaimana menikah? Jika tak ada keimanan, pernikahan adalah permainan. Jika tanpa iman, rumah tangga adalah canda belaka. Tak ada yang sakral, tak ada yang harus dijaga. Lalu bagaimana bisa bahagia?

Jika tidak ada iman, seseorang tidak akan takut kepada Allah. Jika kepada Allah saja sudah tidak takut, hal apa yang bisa menjaga kebaikan seseorang? Tentu sudah tidak ada lagi. Seorang suami akan mudah melakukan tindakan apa pun, jika tidak memiliki rasa takut kepada Allah. Seorang istri bisa melakukan perbuatan apa saja, jika tidak takut kepada Allah. Tak ada yang bisa mengontrol tindakan, apabila tidak ada keimanan. Rumah tangga akan cepat karam apabila tidak ada lagi manajemen risiko, tak ada lagi kontrol perbuatan, semua orang boleh berbuat semaunya.

Inilah sebabnya, kebahagiaan harus berlandaskan keimanan. Mengapa iman bisa memberikan kebahagiaan? Karena iman adalah pokok kebajikan, sebagaimana terkandung dalam Al Qur’an:

لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ

Baca Juga  Proses Adaptasi Pasangan: Upaya Memperkuat Pondasi Rumah Tangga

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke barat atau ke timur itu suatu kebaikan, akan tetapi kebaikan itu adalah kamu beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…” (QS. Al Baqarah: 177).

Bagi orang beriman, kita menikah karena tuntutan iman. Maka hiduplah dengan sepenuh iman, dalam menjalani seluruh kegiatan. Hidup berumah tangga dengan iman, berbisnis dengan iman, berkegiatan sosial dengan landasan iman, berkegiatan politik dengan pondasi iman, berkegiatan kenegaraan pun dengan landasan iman. Semua menjadi indah karena ada kontrol perilaku terhadap orang-orang yang beriman. Dengan iman, akan memberikan kebahagiaan.

Bagikan
Comments
  • Kurnia zawal

    Subhanallah syukron Ust. Berkah ilmunya

    September 23, 2021
Post a Comment