f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan peran publik

Perempuan yang (Sulit) Sukses dalam Peran Publik

Aku punya beberapa lingkaran pertemanan yang cukup akrab. Dalam lingkaran-lingkaran pertemanan tersebut, jumlah laki-laki dan perempuan berimbang. Dari situ aku memahami dan berkesimpulan bahwa teman-temanku yang perempuan itu keren dan rajin.

Kesimpulan ini ditambah dengan pengalamanku pribadi di keluarga. Aku anak kedua dari lima bersaudara, tiga di antara kami adalah perempuan. Kami berlima dekat sekali dengan keluarga besar dari Ibu. Ibu kami adalah anak pertama dari enam bersaudara, yang mana lima di antaranya perempuan.

Bisa dibilang, keluarga kami adalah keluarga strong woman. Perempuan-perempuan di keluarga kami mandiri dan mengenyam pendidikan sampai bangku kuliah. Ingat, 20-30 tahun yang lalu, kuliah adalah barang mewah. Sampai saat ini pun kurang dari 10% total penduduk Indonesia lulusan perguruan tinggi.

Dari pengalaman pribadi ini juga aku belajar bahwa di era modern, perempuan punya kualitas individu sama atau lebih baik dari laki-laki. Ditambah lagi para perempuan cenderung lebih rajin dibanding laki-laki. Mungkin hanya skill-set kepemimpinan (e.g. pengambilan keputusan, komunikasi, positioning, dan negosiasi) yang masih perlu dikuasai oleh para perempuan agar dapat berperan di ruang publik secara maksimal.

Tetapi ternyata di dunia yang kompleks ini, memiliki kualitas individu serta skill-set kepemimpinan saja nggak cukup. Aku mempelajari dari banyak referensi di berita, di buku, jurnal, sampai media sosial. Tapi aha moment-ku menyadari fenomena ini datang dari dosenku, Bu Evita. Beliau dosenku di mata kuliah Geografi Ekonomi dan Ketenagakerjaan. Beliau juga mengajar satu mata kuliah dalam studi S2-ku, menjadi salah satu alasanku dalam proses pendaftaran S2.

Aku masih ingat bahwa di salah satu kelas Geografi Ekonomi, Bu Evita menjelaskan bahwa perempuan secara umum sulit bersaing dengan laki-laki di pasar kerja. Dahulu memang karena kualitas individu perempuan kalah dibanding laki-laki, tetapi keadaan beberapa waktu belakangan berbeda. Perempuan secara umum kalah bersaing karena punya double burden (beban ganda).

Apa itu double burden? Penjelasan sederhananya adalah perempuan memiliki peran ganda dalam kehidupan sosial. Perempuan dituntut untuk bekerja, sekaligus juga dituntut untuk menjalankan peran domestik secara maksimal; menjadi istri penurut dan menjadi ibu yang baik. Kenapa ini disebut beban ganda? Karena laki-laki nggak dituntut beban domestik yang sama beratnya dengan perempuan. Dalam bahasa medsos, ini tergambarkan dengan kata-kata semacam:

Baca Juga  Mengapa Al-Qur’an dan Hadis Lebih Sering Membicarakan Laki-Laki?

Perempuan dianggap harus memilih jadi ibu atau mengejar mimpi. Sementara laki-laki nggak menemui pilihan serupa.

Perempuan ditanya mau jadi wanita karir atau ibu rumah tangga, sementara laki-laki nggak ditanya pertanyaan tersebut.

Data Soal Kualitas Individu

Kembali lagi ke soal kualitas individu, perempuan saat ini sebenarnya punya keunggulan. Angka partisipasi sekolah misalnya, menunjukkan bahwa lebih banyak perempuan menyelesaikan sekolah sampai setidaknya bangku SMA. Artinya akses pendidikan untuk anak-anak perempuan saat ini semakin baik. Ini juga membuka indikasi bahwa anak anak perempuan lebih semangat bersekolah dibanding anak laki-laki.

Selain faktor internal, faktor eksternal juga mendukung keterlibatan perempuan. Misalnya kebijakan afirmasi juga banyak yang mengakomodasi perempuan. Kalau ikut kegiatan di tingkat nasional dan internasional misalnya, banyak yang mengutamakan perempuan sebagai tie-breaker. Atau setidaknya memberikan kuota khusus perempuan.

Dari sisi prestasi, perempuan juga cenderung lebih tinggi. Saat ini mulai dari juara sekolah sampai ke IPK yang tinggi, didominasi oleh perempuan. Jurusan-jurusan kuliah favorit, juga semakin banyak diisi oleh perempuan.

Salah satu teman yang beberapa waktu lalu ikut tes CPNS juga bercerita pada suatu formasi di salah satu universitas negeri didominasi oleh pendaftar perempuan. Bahkan dari 20 pendaftar yang lolos tahap lanjut, hanya 2 orang laki-laki. Sementara empat orang yang lolos hingga diterima sebagai CASN, seluruhnya perempuan. Fenomena semacam ini pun semakin jamak terjadi.

Bicara soal keterlibatan perempuan, aku jadi ingat soal skripsiku. Salah satu kesimpulan dalam skripsiku adalah adanya peningkatan pekerja perempuan di sektor jasa. Data di Indonesia maupun global menunjukkan fenomena serupa, ini terjadi karena sektor jasa yang minim aktivitas fisik memang mengakomodasi perempuan daripada sektor pertanian dan industri. Maka kesempatan bagi perempuan makin terbuka lebar.

Beban Ganda Perempuan

Data-data di atas adalah perkembangan yang baik. Tapi rasa-rasanya data soal kualitas individu tersebut belum sesuai dengan kenyataan yang ada di sekitar kita. Mari kita ambil beberapa contoh.

Misalnya pertama, di sekitar kita masih terdapat banyak agenda yang melibatkan narasumber, didominasi oleh laki-laki. Istilahnya all male panels. Perempuan sebenarnya mulai mampu mengisi posisi-posisi tersebut, tetapi laki-laki masih sangat mendominasi. Apalagi jika agenda tersebut merupakan kegiatan keagamaan.

Kedua, pimpinan dalam organisasi (NGO, ormas, sampai pemerintahan) masih sangat didominasi laki-laki. Pegawai mulai banyak perempuan, kualitas individu perempuan juga meningkat pesat, tapi para pimpinan masih didominasi laki-laki. Di jabatan yang lekat dengan perempuan pun masih jamak diisi oleh laki-laki. Fenomena ini disebut sebagai glass ceiling (langit-langit kaca).

Baca Juga  Tak Ada Larangan Childfree; Itu Pilihan

Salah satu buktinya adalah minimnya jumlah menteri perempuan, saat ini hanya terdapat 5 dari 44 menteri perempuan (setara dengan 7,27%). Lalu pada kementerian yang dipimpin oleh perempuan hanya terdapat sedikit pejabat perempuan. Akhir tahun lalu publik juga sempat mengkritik keras ketika salah satu komisi di DPR (yang mengurusi urusan perempuan) seluruh pimpinannya adalah laki-laki.

Ketiga, minimnya keterlibatan perempuan di dunia politik elektoral. Aturan keterwakilan 30% caleg perempuan memang sudah ada, tapi dalam pelaksanaannya ternyata terjadi caleg perempuan berjumlah kurang dari 30%. Saat terpilih lebih parah lagi, sejak aturan 30% itu ada, caleg perempuan yang terpilih nggak pernah lebih dari 20%.

Keempat, rasio gaji perempuan dibanding laki-laki masih rendah. Rasio gaji atau gender gap ada di angka 0,76. Ini artinya secara rata-rata setiap 100 ribu rupiah didapatkan oleh laki-laki dalam peran yang sama, perempuan hanya diupah 76 ribu rupiah.

Dengan kata lain, perempuan digaji 24% lebih rendah dibanding laki-laki. Padahal capeknya sama, posisinya sama, persyaratannya sama, tapi gajinya berbeda.

Ini semua mungkin terjadi salah satunya karena perempuan diharuskan menguasai tugas domestik. Sibuknya perempuan aktivitas mengandung, melahirkan, dan menyusui ditambah dengan tugas-tugas domestik seperti memasak, mencuci, dan beres-beres rumah membuat perempuan kehilangan kesempatan di urusan publik. Kalaupun ingin sukses di urusan publik umumnya terjebak dengan beban ganda yang telah kita bahas di awal.

Menutup bagian ini, bayangkan seorang perempuan cerdas yang sekolah hingga lulus universitas di usia 22 tahun. Dalam 5 tahun setelah lulus, ia membangun karir dan peran di ruang publik. Pada usia 27 tahun, ia memutuskan menikah dan memiliki anak pertama di usia 28 tahun, lalu berhenti dari karirnya.

Pada usia 32 tahun, dia melahirkan anak kedua. Pengasuhan anak kedua hingga si anak berusia 5 tahun selesai di usia 37 tahun. Setelah usia 37 tahun, dirinya ingin kembali aktif bekerja penuh waktu. Tetapi yang terjadi kemudian ia justru merasa sudah jauh tertinggal dari para pekerja seusianya. Sementara posisi sebelum ia melahirkan anak pertama telah diisi oleh pekerja dengan usia 5-10 tahun lebih muda.

Baca Juga  Cara Menjalani Childfree atau Tidak Dengan Santai

Dari ilustrasi di atas, seorang perempuan yang sendirian mengurus urusan domestik akan kehilangan setidaknya 9 tahun dari pasar kerja dan peran publik. Sementara jika menjalankan urusan domestik sekaligus bekerja dan berperan pada peran publik, seorang perempuan harus berjibaku dengan beban ganda yang sungguh merepotkan—juga dapat berpengaruh pada kemungkinan keberhasilan mencapai puncak karir.

Tentu ini bukan faktor satu-satunya, tapi sangat berpengaruh dan mempersulit perempuan sukses dalam pekerjaan dan peran publik.

Apa yang Dapat Kita Lakukan?

Setelah membahas soal kualitas individu dan beban ganda perempuan, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Tentu saja sebagai perempuan maupun laki-laki.

Sebagai perempuan, perlu untuk memikirkan benar peningkatan diri dan jejaring dari sisi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Perlu dipikirkan bersama bagaimana tugas domestik jangan sampai menghalangi mimpi. Perlu dirancang baik-baik sehingga semua dapat berjalan beriringan.

Sebagai laki-laki, jangan hanya mengandalkan senjata patriarki untuk jadi lebih unggul dibanding perempuan. Laki-laki juga harus belajar dan berjuang lebih keras untuk memiliki kualitas individu yang baik.

Lebih dari itu, laki-laki juga penting untuk memberikan ruang dan dukungan bagi para perempuan. Mulai dari peran di organisasi sampai urusan pekerjaan. Laki-laki sebagai suami juga penting untuk memberikan dukungan bagi istri menjalankan peran publik, sekaligus berbagi peran domestik. Mempelajari soal beban ganda perempuan memperkaya perspektif laki-laki dalam memberikan ruang dan dukungan bagi perempuan.

Selain itu, perlu diperhatikan pula sebagai bentuk kesalingan, semua perlu diupayakan bersama. Perempuan bisa mendapatkan hak dan peran yang lebih baik tanpa mengesampingkan peran laki-laki. Dengan demikian laki-laki tetap dapat menjalankan perannya tanpa harus menunjukkan dominasinya terhadap perempuan.

Kesalingan ini juga perlu dimulai dari sadar bersama-sama. Menyadari bahwa ketidaksetaraan ini adalah masalah yang nyata. Menyadari bahwa jika ini ketidaksetaraan ini diatasi, akan membawa manfaat untuk semua pihak. Sekaligus menyadari bahwa untuk mengikis ketidaksetaraan hanya dapat dilakukan bersama-sama.

Selamat Hari Perempuan Internasional

Bagikan
Post a Comment