Musim libur sudah berakhir. Bagaimana hari libur kemarin? Menyenangkan, atau justru sebaliknya? Libur sekolah menjadi salah satu momen emas bagi seorang anak. Di musim libur, anak-anak bisa lebih membangun bonding dengan kedua orang tuanya.
Seperti yang terjadi dalam hari libur saya. Hampir setiap sore saya sibuk di dapur dengan tepung, minyak, dan bahan-bahan makanan yang lain untuk membuat jajanan. Ya, meski banyak yang tidak sesuai harapan hasilnya, tetapi itu menyenangkan, dan selalu ingin membuat kreasi jajan yang baru esok hari.
Bukan apa-apa, meskipun jajan hasil kreasi saya banyak yang tidak sesuai harapan, tetapi selalu dirindukan. Memangnya ada yang merindukan kreasi jajan yang gagal? Ada dong, bapak saya, hehe. Bapak tidak pernah menghakimi meski rasanya tidak masuk di lidah. Kadang pagi-pagi bapak sudah bertanya akan membuat olahan apa hari itu. Hanya sekali beliau berkomentar, itu juga saya yang memulai karena sadar diri memang rasanya sangat tidak masuk di lidah.
Sikap bapak ini lalu membuat saya bertanya-tanya, adakah sosok lain di luar sana yang sebaik bapak? Apakah anak perempuan di luar sana juga begitu saat libur tiba, selalu antusias membuat aneka olahan makanan setiap hari? Adakah ayah yang juga selalu menunggu hasil jajanan anak perempuannya meski rasanya tidak pernah masuk di lidah?
Saya lalu berselancar di internet, mencoba mencari sosok ayah di luar sana yang juga penuh cinta. Muncullah jajak pendapat yang Populix lakukan, platform survei online self-service yang menunjukkan adanya fenomena fatherless. Sebanyak 714 responden dari 2295 responden, atau 31,1% mengaku mengalami fatherless.
Jajak pendapat ini dilakukan setelah ramai perbincangan isu Indonesia sebagai fatherless country ketiga. Meski setelah ditelusuri, belum ada data pasti siapa yang menyematkan klaim tersebut.
Fatherless merupakan kondisi ketidak hadiran ayah dalam kehidupan seorang anak. Kepala Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM, Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog., dalam laman berita UGM menyatakan “Fatherless ini menjadi fenomena yang sudah dirasakan bersama di mana peran ayah bisa dikatakan minim.”
Diana juga menyebutkan, dalam mengasuh anak peran orang tua haruslah berimbang. Hal ini berarti tugas mengasuh anak tidak hanya dibebankan kepada ibu saja, akan tetapi ayah juga harus terlibat di sana. Sayangnya, umumnya ayah tidak banyak terlibat dalam mengasuh anak. Menurut Diana, fenomena ini lazim terjadi, salah satunya karena faktor budaya.
Budaya patriarki di Indonesia memang masih cukup melekat. Sosok ayah adalah seorang kepala keluarga, yang mencari nafkah. Karena itu, ada anggapan ayah tidak perlu ikut mengasuh anak karena sudah lelah dengan pekerjaannya. Mengasuh anak itu urusan ibu. Kondisi inilah yang akhirnya membuat ayah lalai mencurahkan cinta kasihnya kepada anak-anaknya.
Selain itu, fatherless juga bisa disebabkan karena perceraian. Rentetan ketidakharmonisan yang terjadi, hingga mereka berpisah ternyata menimbulkan luka batin dalam diri anak. Tidak terkecuali anak perempuan. Kondisi psikis mereka terguncang ketika menghadapi perpisahan orang tuanya.
Menurut jurnal Ketidakhadiran Ayah Bagi Remaja Putri, Universitas Negeri Mataram, kehilangan sosok ayah karena perceraian menimbulkan trauma bagi anak perempuan. Mereka merasa sedih dan kecewa. Mereka mengalami gangguan emosi, gangguan perilaku seperti berani menggunakan obat terlarang, melakukan perkelahian di sekolah, hingga seks bebas.
Melansir dari laman Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak, pada tahun 2022 angka permohonan perkawinan dini mencapai 55 ribu. Penyebabnya, kehamilan di luar nikah dan dorongan orang tua yang melihat anaknya sudah berpacaran. Mereka yang hamil di luar nikah salah satunya karena tinggal di keluarga yang rentan, serta kurangnya kemampuan dalam pengasuhan.
Sentuhan seorang ayah ternyata sangat penting dalam tumbuh kembang seorang anak. Anak yang tumbuh tanpa sentuhan dari ayah akan mengalami father hunger atau lapar ayah. Kondisi ini memicu anak untuk mencari pelampiasan termasuk mencari sosok pengganti figur ayah dalam hidupnya. Hal ini dapat membahayakan mereka.
Anak-anak dengan father hunger memiliki rasa penghargaan diri yang rendah atau self-esteem karena kondisi psikologisnya yang tidak matang. Mereka lebih mudah mengalami kecemasan, selalu muncul rasa tidak aman dalam setiap langkahnya, dan sulit mengambil keputusan dengan baik.
Dalam hasil studi lain di laman Institute for Family Studies, How Fathers Influence Their Daughters’ Romantic Relationships, kehadiran sosok ayah terutama bagi anak perempuan memberikan harapan berupa hubungan yang romantis. Terlebih saat ayah mampu menunjukkannya dalam hubungannya sendiri (dengan istri). Anak akan belajar bagaimana, membangun, menjalin, dan menjaga kepercayaan dalam berhubungan dengan orang lain. Ayah mempengaruhi persepsi anak perempuan tentang menjalin hubungan dengan orang lain.
Dalam pembentukan karakter anak, ayah berperan untuk membentuk rasa percaya diri anak. Pola asuh ayah yang unik dan eksploratif membuat anak memiliki jiwa yang lebih tangguh. Sedangkan ibu yang lebih perasa mengajarkan anak tentang berempati. Mereka yang mendapat sentuhan dari ayah mampu menunjukkan performa yang lebih baik dalam sisi akademisnya.
Sosok ayah yang setiap anak rindukan termasuk anak perempuan nyatanya belum sepenuhnya terwujud. Masih banyak dari mereka yang tidak mendapat kasih sayang yang berimbang dari orang tua. Menjadi ayah juga ternyata tidak mudah. Bukan hanya wajib menafkahi keluarganya, tetapi juga berperan mengatur serta memilih kurikulum terbaik dalam mengasuh serta mendidik anak-anaknya. Maka dari itu, sudah selayaknya untuk mempersiapkan diri menjadi ayah atau orang tua secara umum, bahkan jauh dari sebelum berumah tangga.
Banyak literatur telah menyebutkan kehadiran ayah dalam hidup anak bisa dimulai dengan lebih banyak meluangkan waktu untuk bermain dengan anak. Mengajak anak berlibur, menjalin pembicaraan, menemani mengerjakan PR dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjukkan kasih sayang seorang ayah.