Saya Calon Orang Tua, Gen Z, dan Galau: Catatan di Hari Anak Nasional
23 Juli yang jatuh pada hari ini diperingati setiap tahunnya di Indonesia sebagai Hari Anak Nasional. Tahun ini terasa berbeda bagi saya, karena untuk pertama kalinya saya merasa deg-degan menyambut hari itu karena akan menjadi calon orang tua. Ada yang berubah dalam cara saya memaknai peringatan ini. Bukan lagi semata-mata tentang kampanye bagaimana agar anak terlindungi dari kekerasan atau stunting, tetapi tentang perasaan riil yang muncul saat menyadari bahwa saya akan menjadi orang tua. Saya, generasi Z, ternyata akan melahirkan anak yang akan tumbuh sebagai generasi Alpha. Dan bersamanya, muncul daftar panjang kegalauan yang tak bisa saya abaikan.
Gentle Parenting vs Parenting VOC
Saya sering melihat perdebatan tentang gaya pengasuhan di media sosial. Parenting model gentle semakin populer, terutama di kalangan orang tua muda. Tapi di sisi lain, muncul narasi kontra yang menyebut bahwa generasi sekarang terlalu lembek, atau populer disebut sebagai “generasi stroberi” karena pola asuh yang terlalu memanjakan anak. Sebagian besar orang tua di Indonesia berpendapat bahwa pola asuh tegas ala zaman VOC dianggap lebih baik karena mampu membentuk karakter anak yang lebih kuat.
Sebagai calon orang tua, saya cukup bingung. Di satu sisi saya tidak ingin anak saya tumbuh dalam ketakutan atau trauma dengan pola pengasuhan yang menyeramkan. Tapi di sisi lain, saya sadar bahwa dunia yang akan ia hadapi kelak akan sangat keras dan penuh tantangan. Bagaimana agar ia dapat bertahan? Apakah gentle parenting dengan cinta, validasi, dan ruang aman cukup? Ataukah sesekali saya harus melatihnya menghadapi tekanan, kegagalan, bahkan penolakan?
Ah, daripada saya harus pusing memilih, saya mungkin akan lebih memilih untuk menerapkan prinsip pengasuhan menurut Konvensi Hak Anak saja, teknisnya akan menyesuaikan. Prinsip pengasuhan seperti non-diskriminasi, kepentingan terbaik anak, hak hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan, serta penghargaan terhadap pendapat anak menurut saya tetap menjadi pegangan terbaik alih-alih memperdebatkan gentle parenting atau parenting ala VOC.
Kapan Harus Mendaftar Sekolah Anak?
Kegalauan kedua datang dari hal yang tidak kalah menakutkan yakni soal pendidikan. Biaya sekolah semakin tidak masuk akal. Ada sekolah yang harus di-inden sejak anak masih dalam kandungan. Teman saya yang anaknya masih berusia 9 bulan, bahkan sudah mendaftar sekolah agar masuk ke kuota tahun ajaran 2031/2032. Bayangkan, anak sekecil itu sudah mengantre sekolah SD. Jika ini dianggap sebagai FOMO, saya mungkin akan menjadi bagian ke dalam ke-FOMO-an ini. Tentu saya ingin anak saya mendapat pendidikan yang baik, lingkungan yang sehat, kurikulum yang progresif, guru yang berwawasan inklusif, bebas dari kekerasan dan perundungan, tapi saya juga sadar bahwa tidak semua itu bisa didapat dengan mudah atau murah.
Sebagai pasangan yang sedang LDM, saya dan suami bahkan pernah menjadwalkan sesi diskusi zoom khusus untuk membahas, “Nanti anak kita sekolah di mana?”. Kami membuka website dan mendiskusikan testimoni orang-orang yang yang kami kenal. Topik ini bahkan tidak cukup di satu pertemuan. Tapi kemudian kami juga menyadari bahwa sekolah terbaik sekalipun tetap bukan jaminan masa depan cerah kalau di rumah tidak ada perhatian dan kasih sayang. Rumah tetaplah menjadi tempat sekolah pertama yang akan mempengaruhi tumbuh kembang di masa berikutnya.
Minat Bakat dan Prospek Masa Depan
Kegalauan berikutnya yakni mengarahkan minat dan bakat anak. Saya tidak ingin menjadi orang tua yang memaksakan mimpi saya ke pundaknya. Tapi saya juga tahu bahwa tidak semua minat memiliki prospek yang baik di masa depan. Dunia kerja akan semakin kompleks. Dulu saya teringat bahwa saya seringkali berganti-ganti cita-cita, mulai dari pegawai bank hingga sutradara film. Orang tua saya tidak mempermasalahkan minat saya yang sering berubah. Namun di dunia hari ini, ketika saya sudah bisa melihat kompetisi yang sesungguhnya, jika boleh, maka saya ingin anak saya bersiap sejak awal. Di sisi lain, saya juga ingin ia tumbuh fleksibel, tangguh, dan terbuka terhadap perubahan. Setelah saya berpikir kembali, saya menyadari bahwa sukses mungkin bisa punya banyak bentuk di masa depan, tugas orang tua adalah sebagai fasilitator.
Pada akhirnya, di tengah segala kegalauan hari ini, saya tetap memilih menjadi orang tua. Menjadi orang tua harus menjadi keputusan yang sadar untuk bertanggung jawab atas tumbuh kembang anak sepenuhnya, hingga ia bisa hidup mandiri dan mencintai dirinya sendiri. Bukan atas suatu keputusan yang dibiarkan datang dengan sendirinya.
Namun meskipun telah memutuskan dengan penuh kesadaran sekalipun, sangat wajar jika perasaan galau muncul. Tidak apa pusing memikirkan bekal apa yang mau dibawa anak besok atau khawatir tentang calon pasangan anak kelak. Mungkin memang tugas orang tua adalah untuk selalu khawatir. Tapi justru dari situ kita belajar mempersiapkan yang terbaik. Agar anak kita bisa tumbuh lebih baik dari orang tuanya. Agar kehadirannya di dunia ini bukan sekadar kebetulan, melainkan anugerah yang diperjuangkan dengan cinta dan kesadaran.
Selamat Hari Anak Nasional. Tidak sabar menantikan kehadiranmu di dunia. Tumbuhlah menjadi anak yang sehat, bahagia, dan sejahtera. Tugas kami sebagai orang tua adalah memastikan bahwa kehadiranmu tidak sia-sia.

Redaktur Rahma.ID, Ketua Bidang Ipmawati Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah 2021-2023

Mutholaah Syufaat
menjadi orang tua tugasnya menangung dan menjawab, klo memang tidak siap dengan keadaan dan tidak ingin menyiapkan diri , silahkan bergalau terus sebaliknya kalau mau tetap berada dalam suatu zaman ya kemampuan adaptasi yang harus dibangun supaya tetap survive, ga mungkin zaman akan bersahabat dengan kita krn zaman milik semua orang
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”