f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
intoleransi

Perempuan Melawan Intoleransi melalui Literasi

Seputar Intoleransi

Data Februari 2022, memperlihatkan bahwa 73.7% penduduk Indonesia adalah pengguna aktif internet; tidak berbeda jauh dari data tahun lalu. Durasinya sekitar sembilan jam. Pemakaian internet selama itu akan sulit menghindari mal-information, seperti: leaks, harassment, dan hate speech.

Kaum radikal sering menyebarkan ujaran kebencian dengan kata-kata yang mengejek atau merendahkan pada forum keagamaan. Padahal forum-forum ini menjunjung tinggi nama Tuhan dan nilai-nilai kemanusiaan. Hal tersebut menjadi tantangan besar yang layak terus kita lawan karena intoleransi adalah pintu menuju radikalisme yang berujung pada terorisme.

Saat ini,  terorisme berada pada gelombang ke empat. Ciri-cirinya adalah sentimen keagamaan yang melibatkan perempuan dan anak-anak. Alat perang utamanya bukan senjata api tapi informasi. Berita-berita bohong yang meruntuhkan toleransi.

Globalisasi dan perkembangan teknologi semakin memudahkan teroris membanjiri dunia maya dengan  hoax ketiadaan tenggang rasa. Informasi yang simpang siur di media sosial menambah ketidaknyamanan semua umat beragama.

Dukungan akan Toleransi di Indonesia

Keberagaman di Indonesia wajib kita syukuri sebagai anugerah. Meskipun, berpotensi konflik. Sadar adanya keberagaman dan perbedaan akan melahirkan sikap toleran. Sikap yang akan memperkuat kebangsaaan, kebinekaan, dan kebersamaan dalam bingkai Pancasila; pemersatu bangsa yang majemuk, heterogen, dan multikultural.

Kebinekaan adalah hal yang niscaya sehingga perlu kita jaga dengan membuang faktor pemicu ketidakharmonisan, yaitu: keangkuhan, ketidakpedulian, dan keserakahan. Setiap warga negara wajib menciptakan kehidupan yang selaras bagi kemajuan bangsa.

Deklarasi HAM pada peringatan Hari HAM 10 Desember 2021 menegaskan kembali nilai nilai Pancasila. Terutama nilai Ketuhanan yang maha esa yang mengajarkan welas asih dan menghargai martabat kemanusiaan. Hal ini berlaku pada semua agama dan kepercayaan.

Baca Juga  Pilah-Pilih Pasangan untuk Lanjut ke Jenjang Pernikahan

Setiap orang yang meyakini Tuhan pasti akan mencintai sesamanya dan memperlakukan semua orang sebagai saudara. Ajaran belas kasih yang menghadirkan kebaikan, keadilan, kejujuran dan cinta kasih bagi orang lain. Oleh karena itu, kultur penghormatan martabat manusia harus menjadi habitus bangsa.

Kontribusi Perempuan dalam Menyuarakan Kebenaran

Perempuan di Indonesia hampir setengah jumlah penduduk (BPS, 2021). Akan tetapi, relatif masih sedikit yang mau ikut ambil bagian dengan menjadi agen toleransi.  Entah karena budaya menomorduakannya atau psikis sebagai makhluk yang selalu menerima apa adanya; pantang melawan.

Langkah kecil yang dapat perempuan lakukan adalah memberi teladan dalam menerapkan tenggang rasa pada kehidupan bermasyarakat. Apa yang dialami di tuang ke dalam bentuk tulisan. Tulisan yang bagus biasanya perihal pengalaman pribadi, seperti menceritakan perbedaan persepsi melalui perjumpaan diri sendiri dengan orang-orang yang berbeda suku dan agama; hidup dalam keberagaman. Keterlibatan dalam kontra narasi intoleransi dapat dimaksimalkan melalui kampanye dan aktif menulis di media.

Peningkatan kemampuan literasi sangat diperlukan perempuan. Dapat dilakukan dengan mulai membiasakan diri membaca hingga tuntas, jangan hanya melihat judul berita. Selain itu, bersikap skeptis terhadap apa yang dibaca, dan berani belajar tata bahasa; untuk mencintai Bahasa Indonesia. Kecakapan yang mumpuni menjadi modal untuk menulis kebenaran sebagai tandingan berita bohong.

Kebenaran isi berita layak menjadi prioritas. Pembuat berita di media sosial, termasuk penyebar dan penerima, perlu mengutamakan kebenaran sebagai bentuk tanggung jawab moral. Mengingat dampak negatif dari hoax sudah banyak, bahkan sampai menyangkut nyawa. Menghentikan hoax dengan mengabarkan berita yang benar adalah tugas mulia.

Perempuan Melawan Hoaks Intoleransi

Bentuk pertentangan perempuan terhadap ketiadaan tenggang rasa, juga dapat dilakukan dengan aktif melawan hoax dan provokasi. Caranya, dengan menyaring berita sebelum menyebarkan dan melakukan report pada akun yang menyebarkan informasi yang tidak benar. Selain itu, tidak membuka hoaks sehingga engagement-nya rendah. Mengurangi pemakaian internet sebagai upaya membentengi diri agar tidak terpengaruh berita negatif dan hoaks juga perlu dijalankan.

Baca Juga  Pentingkah Pendidikan Toleransi dalam Keluarga?

Menurut, penulis best seller “Panglima Damai di Poso” (2021), Khoirul Anam, hoax dibuat dengan menohok sisi emosional sehingga mematikan rasional. Hoax dalam bentuk tulisan mudah dikenali dari tata bahasanya yang berantakan karena dibuat dalam kondisi emosional dan terburu-buru.

Semua pihak perlu mendorong perempuan yang mahir menulis di story dan update status untuk menulis keberagaman. Mereka harus fokus pada narasi yang berguna dan membanjiri dunia maya dengan konten-konten yang positif. Hal tersebut akan membatasi informasi yang tidak bertanggung jawab; memicu intoleransi.

Kemudian, perempuan juga perlu meredam kegilaan pada kamera dan menyingkirkan mental ingin cepat terkenal. Baru tahu sedikit, namun ujug-ujug muncul di media sosial seolah dirinya adalah ahli. Orang-orang seperti ini, mengutamakan ketenaran daripada kepintaran dan sering menjadi acuan sikap masyarakat. Kebanyakan perempuan yang pintar/ahli menjauhi kamera dan memilih diam; silent majority. Tidak memberi ruang untuk selebgram-selebgram yang tidak jelas kontribusinya adalah bentuk dukungan pada kampanye “Stop Making Stupid People Famous”.

Bersama Untuk Indonesia

Webinar “Perempuan Merawat Persahabatan (Tinjauan Agama-agama)” (18/07/2020) menghadirkan enam narasumber perempuan yang menjadi tokoh setiap agama di Indonesia. Mereka semua memberi gambaran jelas bahwa pada dasarnya, makhluk Tuhan yang berakal budi menghendaki hidup dalam jalinan persahabatan yang harmonis. Untuk itu, kaum perempuan perlu aktif di organisasi dan mampu berkolaborasi, serta berprestasi.

Karunia Tuhan menghadirkan perempuan dan laki-laki untuk bergerak dan berjalan bersama serta berdampingan. Dengan demikian, pembinaan toleransi umat beragama di Indonesia menjadi tanggung jawab sosial bersama. Budaya positif yang perlu dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Kerja sama dan kreativitas yang terpacu menyatu tanpa melihat gender akan membangun kepedulian dan keterbukaan. Saling melengkapi untuk satu tujuan, menjadi yang terbaik untuk NKRI; mewujudkan Indonesia Maju!

Baca Juga  Falling in Love atau Standing in Love?

Penulis : Rosita Sukadana (Pemerhati masalah sosial dan ekonomi perempuan dan anak. Pendiri Lembaga Red and Green)

Bagikan
Post a Comment