f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
intelektualisme

Perempuan Itu Sukma Intelektualisme

Dalam catatan historis, perempuan pernah mengalami stigmasisasi dari masyarakat bahwa perempuan hidup dalam tiga hal, yakni sumur, dapur, kasur. Urusan kerumahtanggaan dan urusan suami adalah hal-hal yang boleh dilakukan oleh perempuan. Tatkala, ruang gerak perempuan menjadi sempit. Apalagi, dilarangnya untuk berpendidikan tinggi bagi perempuan, hal itu membuat perempuan menjadi semakin merasakan kemunduran.

Pendiri Muhammadiyah, Kyai Dahlan sangat memperhatikan perempuan sebagai generasi penerus umat Islam. Oleh sebab itulah, kata Kyai Dahlan, perempuan haruslah bersekolah layaknya laki-laki. Walau rintangan dan halangan yang ditempa Kyai Dahlan dalam memperjuangan peran perempuan, hal itu tidak menyulutkan semangatnya dalam pemberdayaan perempuan. (Prakoso, 2020) Salah satu wujud nyatanya, dengan dibentuknya organisasi Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah sebagai komitmen dan spirit Kyai Dahlan bersama istrinya, Nyai Walidah untuk melindungi hak-hak perempuan.

Perempuan Itu Sukma Intelektualisme

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sukma diartikan sebagai nyawa. Sementara intelektualisme merupakan seseorang yang memaksimalkan daya pikirnya dan melakukan pencarian sesuatu berdasarkan ilmu. Atau, dalam makna ini, adalah orang yang berilmu, dan memiliki kecerdasan. Artinya, perempuan-perempuan juga mengafirmasi secara positif bahwa dirinya (perempuan) juga merupakan seorang intelektual yang membawa perubahan-perubahan peradaban.

Ialah mereka (kaum perempuan) yang berpangkal pada religiusitas dan memiliki kepribadian moral-etis. Senantiasa peka pada lingkungan sekitar. Bertansformasi sosial dengan membangun afirmasi positif (keyakinan/optimisme secara positif bahwa dirinya adalah makhluk Allah yang berdaya dan makhluk Allah yang juga dapat sama-sama berdakwah dan membangun spirit kebermanfaatan untuk orang lain). Senantiasa melakukan refleksi dan mawas diri. Serta, mengaksentuasikan ide gerakan dakwah secara konstruktif-solutif untuk kemajuan di masa depan.

Ciri karakter perempuan memiliki sukma intelektualisme adalah mereka yang membangun profil kepribadian yang baik. Selalu berjalan di atas syariat Allah, selalu meningkatkan kualitas iman dan takwanya, dan menjaga auratnya. Kemudian, menjadi Ibu yang baik untuk anak-anaknya, tidak mengumbar aib orang lain, rendah hati, santun, selalu memantaskan diri. Senantiasa meningkatkan kualitas pendidikan keislamannya dan pendidikan umum. Selalu belajar untuk senantiasa berakhlak, dan peduli pada lingkungan sekitar.

Baca Juga  Refleksi Kader: Menjadi Penerus Nyai Walidah

Di sisi lain, perempuan adalah al-ummu madrasatul ula, ibu adalah madrasah utama bagi anak-anaknya. Ia mampu melahirkan generasi-generasi terbaik, dari pendidikan agama nya yang baik, kasih sayang & cinta yang tulus, itulah seorang perempuan yang nanti akan menjadi ibu untuk anak-anaknya.

Ibu juga penerang (ilmu) untuk anak-anaknya. Baik ilmu agama, kebiasaan, akhlak, dan nilai-nilai kehidupan lainnya. Maka, amat penting bahwa anak tidaklah boleh durhaka, dan menyakiti hati seorang ibu. Perjuangan ibu dalam melahirkan anak yang kurang lebih sembilan bulan, merawat dari kecil hingga sang anak tumbuh dewasa, rela bangun malam-malam untuk mengganti popok anak, dan segudang aktivitas lainnya yang dengan tulus, ikhlas, dan cintanya untuk kebahagiaan sang anak.

Pentingnya Moral, Kepekaan Sosial, dan Intelektual

“Universitas berlabel Islam merupakan bagian yang sangat sentral bukan hanya dalam menghasilkan lulusan yang berilmu tetapi juga mencetak Muslim bermoral dan memiliki kepekaan sosial.” Begitulah ungkapan aktivis perempuan yang banyak menginspirasi, Ai Fatimah Nur Fuad dalam pengantar buku Sukma Intelektualisme (2020).

Ai Fatimah menegaskan bahwa perjalanan akademik, di kampus Islam seyogianya dapat melahirkan seorang cendekia dan aktivis yang tidak hanya sekadar lulus sarjana, melainkan bermoral dan memiliki sensitivitas sosial. Kepribadian dengan moral dan kepekaan sosial menjadi keharusan yang tak boleh diabaikan bagi segenap aktivis, begitu untuk aktivis laki-laki maupun perempuan.

Nilai moral, kepekaan sosial, dan intelektual dalam aktivis, sejatinya termanifestasikan dengan bijak dalam pikiran, dan tindakannya. Betapa indahnya jika ketiga hal ini dapat ada dalam diri perempuan-perempuan dan laki-laki. Selain itu, mereka (laki-laki dan perempuan) dalam aktivisme nya juga dapat saling bekerjasama dalam mengentas berbagai persoalan di masyarakat. Dalam kehidupan muamalah, aktivis perempuan punya peran sama dengan aktivis laki-laki.

Baca Juga  IMMawati dan Generasi Strawberry: Bagaimana Nasib Penerus Nyai Walidah dan R.A Kartini?

Maka, sekali lagi, perempuan bisa! Perempuan memiliki spirit yang sama dengan laki-laki dalam hal membangun hal yang baik (amar ma’ruf) dan mencegah perilaku yang munkar (nahi munkar). Nalar intelektual aktivis adalah nalar intelektual yang diorientasikan pada kepentingan transformasi, keberpihakan pada kaum terpinggirkan, dhuafa dan mustadh’afin. Wallahu a’lam bishawab.

Referensi:

Prakoso, B. (2020). Sukma Intelektualisme: Afirmasi, Refleksi, dan Aksentuasi Ide Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Bandung: LeKKaS.

Bagikan
Post a Comment