Menjadi Laki-Laki yang Anti Gengsi
Allah Swt. menciptakan laki-laki dan perempuan dalam keadaan ahsani taqwim. Keduanya tanpa sekat pembeda memiliki tugas yang sama di hadapan Allah Swt. yaitu menjadi hamba yang baik dan gemar berorientasi pada kebajikan. Dalam hal ini Al-Qur’an mengajarkan kesetaraan ini sebagaimana yang tertuang dalam Quran Surat An-Nahl: 97,
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً…
“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik…”
Hamka dalam tafsirnya menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan itu sama-sama bertanggung jawab dalam hal mengerjakan kebajikan berupa iman dan amal saleh. Karena perbuatan ini, keduanya akan memperoleh dan merasakan hayatan thayyibah atau kehidupan yang baik.
Kehidupan yang baik sebagaimana yang dikutip Hamka, menurut Ibnu Katsir adalah “ketenteraman jiwa di tengah badai gangguan”, menurut ibnu Abbas adalah “rezeki yang halal dan baik”, menurut Ali bi Abu Thalhah adalah “rasa Bahagia”, menurut Ad-Dahhaak adalah “kepuasan beribadah kepada Allah serta lapang dada” dan menurut Al-Qasimi adalah “memenuhi hati dengan kesejukan”.
Untuk merasakan kehidupan yang baik tentu diperlukan kerja sama yang harmonis antar sesama baik kerja sama antar laki-laki dan laki-laki, antar perempuan dan perempuan maupun antar laki-laki dan perempuan. Terlebih diperlukan pemahaman yang komprehensif dalam membangun komunikasi dalam pencapaian tujuan, perlu memahami tugas dan peranan secara normatif maupun teknis dan mampu mendeteksi rasa gengsi.
Rasa gengsi sebagai suatu kehormatan dan harga diri yang dimiliki seseorang bisa berdampak positif dan bisa pula berdampak negatif. Gengsi yang positif merupakan gengsi yang sehat yang dapat memotivasi hal-hal yang baik. Demikian pula sebaliknya bagi gengsi yang berdampak negatif. Gengsi terjadi pada siapapun baik laki-laki maupun perempuan.
Rasa gengsi yang negatif pada laki-laki misalnya mampu berdampak pada kehidupan sehingga menjadi tidak sinergis dan harmonis. Tidak sedikit laki-laki yang gengsi mengerjakan pekerjaan rumah misalnya padahal perannya sangat dibutuhkan dalam kondisi tersebut sementara ia mampu mengerjakannya.
Dilansir dari IDNTimes.com, hal di atas terjadi karena berbagai faktor di antaranya adalah adanya stereotip di masyarakat bahwa hanya perempuan saja yang bertanggung jawab mengerjakan pekerjaan rumah. Selain itu ada ketakutan mendapat kritik dari masyarakat jika mengerjakan pekerjaan rumah. Terlebih perasaan berbangga atas kemaskulinannya membuatnya enggan mengerjakan pekerjaan rumah.
Poin-poin di atas merupakan bentuk gengsi yang perlu diperbaiki. Sementara di luar itu semisal karena kelelahan bekerja, merasa kurang mampu mengerjakan pekerjaan rumah atau mengalami kebingungan bagaimana harus memulainya merupakan hal-hal yang dapat dikompromikan.
Al-Qur’an telah mengatur bagaimana tugas dan peranan laki-laki dan perempuan untuk memperoleh hayatan thayyibah. Misal dalam QS. An-Nisaa ayat ke 34
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ…
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…
Sekilas dan secara literal, ayat ini menggambarkan bahwa laki-laki adalah pihak yang dianggap ‘lebih’ dari perempuan. Namun, seiring berkembangnya kebutuhan dan pemahaman, ayat ini menjadi solusi alternatif bagi persoalan relasi laki-laki dan perempuan. Ada dua penafsiran yang dapat kita dalami;
Pertama, dilansir dari ibtimes.id menurut Dr. Zaitunah, laki-laki atau ar-rijal dalam ayat tersebut tidak identik dengan jenis kelamin laki-laki saja. Akan tetapi lebih kepada peran sosiologis yang bersifat maskulin. Sementara maskulin diartikan sebagai pihak yang aktif mencari nafkah. Artinya seorang istri yang aktif mencari nafkahpun juga di kategorikan sebagai ar-rijal. Demikian pula perempuan atau an-nisaa yang berarti bersifat feminim dan pasif dalam sebuah tatanan.
Kedua, penjelasan yang dikemukakan Prof. Syamsul Anwar bahwa pemaknaan laki-laki dan perempuan bukan dipahami dari segi biologis. Akan tetapi juga dalam aspek esensi kepemimpinan dan perspektif sosiologisnya. Selain itu, qawwamuuna pada ayat tersebut tidak mutlak bermakna pemimpin, akan tetapi bermakna ‘mengimbangi dan menyokong’.
Atas dasar inilah maka menjalin relasi dengan sesama jenis dan lawan jenis bukan atas dasar gender, akan tetapi peran dan tugasnya sebagai sesama makhluk Allah Swt. yang ditugaskan untuk saling mengerti, bekerja sama dan bantu membantu. Selama hal yang dilakoni bukanlah tugas kodrati, maka siapapun bisa melakoninya.
Dalam kehidupan berumah tangga misalnya, maka antara suami dan istri harus saling mengimbangi dan melengkapi berbagai kekurangan yang ada. Misal ketika sang istri dalam keadaan lemah dan payahnya hamil, melahirkan, dan menyusui sehingga tidak mampu mengerjakan pekerjaan rumah, maka sang suami hendaknya tidak gengsi mengimbangi kekurangan yang ada, hendaknya mampu melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mencuci baju, mencuci piring dan lainnya. Atau jika dirasa tidak mampu, maka dapat meminta bantuan pihak lain.
Nabi Saw. dalam sebuah hadis juga membantu pekerjaan Aisyah. Dalam Hadis Bukhari dari Aisyah diceritakan;
كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba waktu sholat maka beliaupun pergi shalat”
Dengan demikian dengan memahami fungsi dan tugas manusia sebagai hamba Allah Swt. untuk beramal saleh, membangun relasi dan komunikasi yang baik serta keinginan untuk saling membantu, baik laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang sama untuk memperoleh hayatan thayyibah. Karenanya, bagi laki-laki dalam hal ini, mencoba hilangkan gengsi yang tidak baik itu perlu dilakukan. Terlebih dengan membantu tugas istri dan membuatnya bahagia akan Allah Swt. catat sebagai amalan yang besar ganjarannya. Wallahu a’lam
Pengajar dan Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Kasihan Bantul
Facebook : Nurun Nisaa Baihaqi
Instagram : nurun_nisaa_baihaqi
