Mengais-Ngais Hal Kecil Untuk Disyukuri
Oleh: Lya Fahmi*
Gratitude therapy atau terapi kebersyukuran, adalah salah satu intervensi psikologi yang kerap digunakan oleh psikolog untuk membantu klien dalam mengatasi permasalahannya.
Saya pribadi sering menerapkankan terapi ini pada klien-klien dengan permasalahan kronis.
Jika saya bilang ‘permasalahan kronis’, maka stress yang dialami juga kronis. Tak jarang, klien dengan karakter permasalahan seperti ini sudah tidak mampu lagi melihat solusi dari permasalahan yang mereka hadapi.
Dalam kondisi tersebut, klien cenderung memandang dunianya serba gelap dan buntu.
Persoalannya, benarkah secara objektif hidup mereka memang gelap dan buntu? Jawabannya, tidak.
Lebih sering perasaan gelap dan buntu itu lahir dari konsep diri maupun persepsi negatif klien terhadap dirinya sendiri.
Tak jarang klien tidak adil dalam melihat dan menilai dirinya sendiri. Kekurangan dirinya dibesar-besarkan dan kelebihannya diabaikan.
Entah mengapa, banyak orang sensitif terhadap hal-hal buruk yang menimpa dirinya, tapi memandang biasa saja pada hal-hal positif yang mereka miliki.
Terapi kebersyukuran digunakan untuk membuat klien mampu memandang hal-hal positif itu, hal-hal yang selama ini mungkin mereka anggap biasa saja atau bahkan tidak disadari keberadaannya.
Terapi ini mengajak klien untuk menyadari bahwa dalam pekatnya permasalahan yang mereka hadapi, selalu ada sisi lain yang tetap bisa mereka syukuri.
Klien-klien yang merespon baik terhadap terapi kebersyukuran biasanya terkejut di akhir sesi, mengapa selama ini ada banyak hal positif yang mereka abaikan? Mengapa banyak hal positif, sekecil apapun, terasa biasa saja?
“Bersyukur itu adalah keterampilan. Namanya keterampilan, untuk menguasainya pasti membutuhkan latihan. Tanpa pernah berlatih menghargai hal-hal kecil yang ada dalam diri kita, hidup rasanya selalu berat saja,” jawabku pada mereka.
Ya, bersyukur memang soal keterampilan. Namun, ajaran bersyukur yang kita dapatkan selama ini lebih banyak disampaikan melalui kata-kata dibandingkan supervisi. Seolah-olah keterampilan bersyukur itu sudah kita miliki dan tinggal diingatkan saja ketika lupa. Ucapan-ucapan seperti, “Makanya, hidup itu harus bersyukur,” seolah menempatkan semua dari kita mampu bersyukur secara otomatis.
Kita telah lama memandang agama dalam kerangka dosa dan pahala. Maka dari itu, ajakan bersyukur yang disampaikan kepada kita lebih sering terdengar seperti tuntutan untuk fit in dengan norma agama.
Sebagaimana kita tahu, bersyukur merupakan salah satu ajaran dalam agama Islam. Dalam QS. Ibrahim: 7, Allah SWT bersabda, “Barangsiapa mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Ku tambahkan nikmat baginya. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmat-Ku, sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.” Dalam menghindari adzab yang pedih, kita merasa bersyukur bisa dilsayakan secara instan.
Dalam ayat tersebut, memang tersurat adanya ‘ancaman’. Tapi, satu hal yang tidak boleh kita lupa bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Sebagai suatu keterampilan yang membutuhkan proses untuk menguasainya, Allah SWT akan memaklumi kita yang masih dalam perjalanan untuk menjadi pribadi yang mudah bersyukur, yang masih berproses mengais-ngais hal kecil untuk disyukuri.
Ajakan bersyukur semestinya disampaikan dalam bentuk dukungan dan empati, bukan teguran yang menyudutkan.
***
Ngomong-ngomong tentang hal kecil yang pantas disyukuri, saya menemukan satu dalam hidupku akhir-akhir ini.
Beberapa minggu lalu, saya katakan pada suami bahwa kondisi kulitku membaik selama pandemi. Kulitku bersih tanpa bercak merah, apalagi nanah. Hal yang belum pernah terjadi selama dua tahun terakhir ini.
“Emang apa hubungannya psoriasis dengan corona?” Tanya suamiku sangsi.
Saya mengangkat bahu. Rasanya, memang tak ada hubungan antara psoriasis dan corona. Tapi, hari ini saya menemukan hubungannya. Saya menemukan penjelasan yang masuk akal mengapa saya menjadi lebih sehat selama masa pandemi ini.
Sebagai seseorang yang membawa penyakit psoriasis, saya musti menjaga kondisi dengan meminimalisir stress dan banyak beristirahat. Dan, pandemi ini membuatku banyak beristirahat. Ada banyak kegiatan yang dibatalkan. Ada banyak aktivitas rutin yang terkurangi. Praktis, stress harianku pun berkurang.
Disisi lain, pandemi ini menambah waktu bermakna yang dilalui bersama keluarga. Memasak setiap hari, menemani Bilqis belajar, dan ngobrol lebih lama dengan suami menimbulkan gelombang emosi bahagia.
Singkat kata, pola hidup yang melambat akibat pandemi justru cocok dengan desain tubuh ringkihku ini. Pola hidup baru ini terasa nyaman secara fisik dan nyaman secara emosi, setidaknya itulah yang kurasakan untuk sementara ini.
Pengalaman unik ini memberiku kesadaran bahwa tak ada SELALU dan SEPENUHNYA di dunia ini. Tidak ada selalu sedih dan tidak ada selalu bahagia. Tidak ada sepenuhnya sedih dan tidak ada sepenuhnya bahagia. Semua datang bergantian, bahkan bisa terjadi sekaligus dalam waktu bersamaan. Tinggal sejauh apa kita menyadarinya dan aspek mana yang lebih kita beri perhatian?
Kebahagiaan dan kesedihan bukan soal kejadian dan peristiwa, tapi soal bagaimana kita memaknainya.
*Penulis, influencer dan Psikolog

Penulis, psikolog di Sleman.
