Menakar Seberapa Tinggi Derajat Keikhlasan dalam Beribadah di Bulan Ramadan
Kita patut bersyukur kepada Allah karena kembali dipertemukan dengan Ramadan tahun ini. Ramadan adalah momentum yang tepat untuk menempa diri serta mengukur seberapa tinggi derajat keikhlasan kita dalam beribadah kepada Allah.
Ibnu Athaillah Assakandari membagi sifat ikhlas manusia ke dalam tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah ikhlasul abidin atau ikhlasnya seorang hamba atau seorang ahli ibadah. Kedua ikhlasul muhibbin atau ikhlasnya orang yang cinta kepada Allah. Dan tingkatan ketiga sebagai tingkatan tertinggi adalah ikhlasul arifin atau ikhlasnya orang yang sudah sampai pada taraf ma’rifatullah.
Di antara ketiga tingkatan tersebut, kita berada di level yang mana? Untuk mengukurnya, mari kita coba uraikan satu per satu.
***
Tingkatan pertama adalah tingkatan ikhlas terendah dari seorang hamba, yaitu ikhlasul abidin. Ikhlasul abidin ini ditandai oleh seseorang yang beribadah kepada Allah karena keinginan mendapatkan pahala dari Allah. Atau motivasi beribadah yang didorong oleh ketakutan akan siksa Allah. Ujung-ujungnya adalah mendapatkan surganya Allah dan terhindar dari nerakanya Allah.
Tidak ada yang salah dengan tingkatan ikhlas abidin ini. Tetapi, ini adalah tingkatan ikhlas yang paling rendah. Dalam berhubungan kepada Allah, orang yang masih berada pada level ini tidak sepenuhnya ikhlas. Dia masih berharap imbalan dari Allah, berupa pahala dan surga. Bahkan dalam beberapa kasus, imbalan ini juga bisa mengarah pada hal-hal yang bersifat duniawi, seperti rajin salat duha agar rezekinya lancar, rutin membaca Al Waqiah agar cepat kaya, dan amalan-amalan lainnya.
Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan tingkat keikhlasan ini. Tetapi, level ini masih rentan terhadap godaan. Hubungan yang dilandasi oleh motivasi transaksional rentan menjadikan kita tergelincir. Adanya pamrih yang menjadi dorongan dalam beribadah bisa menyebabkan putus asa. Seperti misalnya ketika kita merasa sudah rajin salat duha tetapi kita merasa rezeki yang diberikan Allah masih biasa-biasa saja, keikhlasan kita bisa tergerus secara tiba-tiba.
***
Setelah sampai pada derajat ikhlasul abidin, kita harus berpikir untuk meningkatkan level keikhlasan kita pada tingkatan yang kedua, yaitu ikhlasul muhibbin. Ikhlasnya orang yang cinta kepada Allah. Ibadah yang dilandasi oleh perasaan cinta kepada Allah setingkat lebih baik dibandingkan ibadah atas dasar penghambaan. Rasa cinta menumbuhkan ketulusan, pengabdian tiada henti, dan kerelaan untuk berkorban tanpa pamrih. Rasa cinta yang tulus tidak menuntut balasan apa pun, kecuali keridaan dari yang kita cintai.
Maka, tatkala kita melandaskan diri untuk beribadah atas dasar rasa cinta, kita tidak lagi mengharapkan balasan pahala atau surga. Satu-satunya yang kita harapkan adalah ridanya orang yang kita cintai. Dalam hal ini, ridanya Allah kepada kita. Jika Allah sudah rida kepada kita, masa iya Allah tidak akan memberikan kebahagiaan kepada kita? Maka, urusan pahala, surga, atau neraka itu bukan lagi domain kita. Bukan lagi urusan yang harus menghalangi hubungan kita dengan Allah. Hubungan kita dengan Allah harus benar-benar murni, tanpa pamrih apa pun.
***
Tingkatan paling tinggi adalah ikhlasul arifin, yaitu ikhlasnya orang-orang yang sudah berada pada level makrifat. Pada tingkatan ini, seseorang sudah tidak lagi memikirkan keridaan Allah apalagi hanya sekadar iming-iming surga atau pahala. Bahwa dia hidup itu semata-mata karena Allah. Dia kuat beribadah pun juga karena Allah. Dengan demikian, di dalam dirinya selalu tumbuh kesadaran bahwa tidak ada kekuatan yang bisa menggerakkannya melainkan kekuatan dan kuasa Allah.
Ikhlasul arifin melahirkan peribadatan yang penuh dengan ketakwaan. Sebab, orang dengan level ini selalu merasa diawasi oleh Allah, cinta kepada Allah, dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah. Dalam beribadah, kita akan merasa sangat dekat dengan Allah sehingga momentum beribadah selalu membuatnya ingin kembali. Hamba seperti ini sudah akan benar-benar rida dan tunduk akan semua perintah Allah.
***
Pada bulan Ramadan ini, kita sepatutnya menakar, di level ikhlas yang manakah kita berada? Jika masih berada pada level ibad, kita akan merasakan ibadah puasa ini sebagai sesuatu yang berat. Kita tetap menjalankan ibadah puasa dengan baik, mengerjakan salat tarawih, tadarus, dan amalan-amalan lainnya. Tetapi semua itu dilakukan karena iming-iming pahala berlipat ganda yang menanti kita.
Memang, itu tidak salah. Tetapi kita terlalu fokus pada hal-hal yang bukan domain kita. Pahala atau balasan kebaikan yang diberikan Allah itu adalah hal yang sudah niscaya. Tanpa kita pikirkan pun itu semua sudah akan jadi hak kita. Ketika kita melakukan ibadah dengan ketulusan dan keikhlasan, tentu semua itu akan berujung pada berolehnya kita pada pahala.
Beda cerita dengan orang yang murni dan tulus beribadah kepada Allah. Semua amalan yang dilakukan itu dilandasi oleh rasa cinta, tidak semata-mata demi pahala atau surga. Orang dengan level keikhlasan seperti ini jauh lebih tangguh. Hubungannya tidak lagi transaksional tetapi atas dasar rasa tulus cinta yang suci. Puasa dengan seperangkat amalannya akan terasa ringan karena dorongan rasa cinta (mahabbah) tersebut.
***
Namun, di level ikhlas mana pun kita berada, kita tetap harus bersyukur karena Allah masih mempertemukan kita dengan bulan penuh keberkahan ini. Kita masih diberi kekuatan untuk menjalankan amalan-amalan kebaikan selama ramadan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan momentum ini untuk menaikkan level keikhlasan kita, agar hubungan kita dengan Allah tidak sebatas surga dan neraka, tetapi hubungan yang dilandasi oleh perasaan cinta dan rida. Wallahu a’lam bisshowab.
Pengajar di Solo.
