Memilih Pasangan: Good Looking Belum Tentu Good
Seorang teman, ASN di salah satu kementerian atau lembaga pusat pusat, mengonfirmasi kepada saya kenapa teman kami menghapus semua foto bersama suaminya di platform media sosialnya. Kesimpulan kami sama, keluarganya sedang bermasalah.
Tapi kami urung berani bertanya kepada yang bersangkutan apa sebab musababnya. Suami dari teman kami tersebut juga seorang pegawai pemerintah.
Cerita keluarga tak rukun, baik karena masalah sepele sampai masalah besar, selalu ada di mana-mana. Mau dia ASN atau bukan. Semua orang tahu bahwa rumus rukun dalam berkeluarga adalah sabar dan syukur. Sabar kalau pasangannya berkekurangan dan bersyukur atas kelebihan pasangan dan bersyukur atas sekecil apapun pencapain mereka bersama.
Masalahnya adalah semua orang akan kesulitan untuk menerapkan bagaimana caranya agar sabar dan syukur itu menjadi bingkai dan nafas dalam mengarungi rumah tangga.
Adalah absurd jika maunya punya pasangan sempurna, sementara kesempurnaan dalam persepsi manusia selalu relatif. Ingat, ini soal perspektif, soal cara pandang, atau soal nilai. Bahkan, kalau kita kembalikan makna pasangan, maka rumus pasangan adalah bertemunya dua pasangan berbeda kemudian membentuk sebuah keserasian.
Sesuatu yang Berpasangan
Siang dan malam yang berbeda itu berpasangan. Kaki kiri dan kaki kanan atau tangan kiri dan kanan itu disebut pasangan. Bayangkan kalau bagian kaki atau tangan yang kanan sama bentuknya dengan yang kiri. Bukan hanya aneh secara tampilan tapi akan buruk secara fungsi.
Laki-laki dan perempuan yang bertemu juga disebut pasangan. Pasangan dalam istilah bahasa Arab dinamai zauj. Istilah tersebut khusus untuk menyebut sesuatu yang berpasangan.
Ada banyak cerita, pasangan cantik, tapi dia boros belanja kosmetik. Setiap akhir pekan waktunya dihabiskan ke salon. Sukanya ngelencer bersama komunitas gaulnya. Jadilah si suami kesal. Padahal gaji dan tunjangan juga terbatas. Keluarga menjadi retak.
Begitu juga dengan pasangan tampan, pintar dan tampak atletis. Jadilah si suami tersebut idola di kantornya. Bahkan tak jarang, teman-teman kantornya “gatelan” dan seolah mau menggaet hati suaminya. Cemburu meledak.
Jika si suami atau istri terperosok dalam godaan-godaan tersebut, maka perceraian di ambang mata. Apa yang dialami oleh teman saya di awal tulisan ini adalah contoh nyata. Mereka sedang proses persidangan menuju perceraian.
Jika perceraian terjadi, maka anaknya yang masih belia akan menjadi korban. Anaknya akan mendapatkan sejumlah kerugian atas apa yang terjadi dengan ayah dan ibunya.
Sementara nun jauh di sana, seorang pasangan tampak bahagia walau rumahnya tampak seperti gubuk yang sederhana. Mereka sangat ceria ketika bermalam minggu ke alun-alun kota dengan modal kendaraan roda dua yang berumur.
Dua puluh ribu rupiah cukup untuk membeli dua jagung bakar dan es teh gelas. Keduanya bercanda gurau melihat puluhan anak berlarian di lapangan terbuka.
Pasangan tersebut juga bukan berarti tidak ada masalah. Tapi mereka berhasil menyikapi beragam masalah dengan cara sederhana.
Berbeda lagi dengan cerita-cerita pasangan eksekutif di kawasan Menteng Jakarta, berkendara sedan baru, parkir pun harus bervalet, dan nilai outfit keduanya melebihi seratus juta tampak keduanya bersitegang. Saling mengklarifikasi isu orang ketiga dan keempat di tengah biduk keluarga mereka.
Institusi keluarga adalah organisasi tertua yang selalu punya masalah. Seperti curhatan seorang ASN lain saat acara halal bihalal komunitas ASN yang masih lajang, good looking itu belum tentu good.
Rekan ASN yang duduk di sebelahnya menimpali banyak para pencari jodoh melihat calon pasangan selalu bermula dari good looking. Akibatnya, tidak sedikit biduk rumah tangga kandas karena ternyata fisik yang good looking tersebut tidak lekang. Bahkan, tingkah laku mereka pun jauh dari good.
Iya saya setuju. Seseorang yang terlihat tampan, berharta, dan tampak sempurna belum tentu cakap dalam berumah tangga. Belum tentu penyabar, baik hati, dan pecinta sejati.
Bagi para lajang, mencari pasangan mestinya tidak melulu berpedoman pada yang good looking. Itu penting, tapi jauh lebih penting adalah mencari pasangan yang good, yang bisa bersabar, dan pandai bersyukur.
Satu hal lagi, para pencari pasangan harus mempunyai visi, rancangan hidup, dan tujuan yang jelas rumah tangga ideal seperti apa yang akan dibangun. Jika bangunan rumah tangga terbentuk dan disepakati kedua pihak, biduk rumah tangga niscaya akan lebih langgeng.
Bagi para pencari pasangan, semoga ikhtiar tak pernah berhenti demi menemukan pasangan sejiwa, pasangan yang good, pasangan yang kelak ketika berumah tangga mampu mengejawantahkan makna sabar dan syukur.
Coach ASN Menulis

Rahman
Setuju coach