f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
manusia

Mega Proyek Manusia Modern; Menjadi Tuhan Di Bumi

Pada abad 21, dunia memasuki era baru, yakni di mana manusia tidak ingin lagi menjadi manusia melainkan keinginan kuat untuk menjadi Tuhan di bumi. Bukan tanpa alasan, hal ini karena kemampuan manusia dalam mengembangkan teknologi dan mahir melakukan berbagai macam rekayasa, tujuannya satu yakni mencapai imortalitas. Atau dengan kata lain manusia-manusia modern dengan kepongahan dan tinggi hati melakukan berbagai macam penentangan terhadap kematian. Barangkali, sampai kata “kematian” tidak lagi ada dalam kamus kehidupan manusia, yang ada hanyalah keabadian hidup di dunia.

Dalam agama, kematian sejatinya menjadi sebuah keniscayaan bagi manusia. Manusia manapun tidak ada yang bisa menghindari kematian. Sebagai sebuah keyakinan, Islam memandang kematian sebagai akhir dari kehidupan duniawi dan sebuah awal kehidupan baru yang kekal dan abadi di alam akhirat. Pada kehidupan tersebut manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan semasa hidup di dunia.

“Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Haqqah: 27).

***

Pun dalam keyakinan umat Kristen, kematian sudah menjadi suratan takdir manusia. Kristen memandang bahwa kematian merupakan mati bersama Kristus dengan harapan besar akan bangkit bersama kristus. Hal ini selaras dengan yang tertuang dalam kitab perjanjian baru, “Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia.” (2 Timotius 2:11).

Budha menganggap kematian bukan dari akhir dari kehidupan, melainkan akhir dari tubuh dengan penghuni roh kemudian berpindah ke alam lain. Tujuan akhir dari agama Budha adalah mencapai kehidupan mutlak yaitu Nibbana (surga). Demikian pula dengan agama Hindu. Yang meyakini bahwa jiwa menjalani kehidupan yang berbeda dan mengalami kematian hingga mencapai pembebasa moksa (kebebasan dari ikatan duniawi).

Baca Juga  Teologi di Balik Tangisan Manusia (2)

Sebuah ajaran universal Hindu yang tertuang dalam bhagadwita menyebutkan, “semua yang dilahirkan harus mati, semua yang mati harus dilahirkan kembali dan Anda tidak perlu khawatir tentang peristiwa ini”.

***

Berbeda dengan agama, sains modern memiliki pandangan sendiri tentang kematian. Mereka sama sekali tidak mengaitkan kematian dengan misteri metafisik, melainkan sebuah persoalan teknis yang bisa mendapat penyelesaian. Meskipun tidak pernah ada kepastian kapan hal tersebut bisa terpecahkan. Harari berkali-kali menyinggung bahwa sains modern senantiasa menegasikan hal-hal metafisik.

Sumber kematian bukan karena Tuhan telah mencabut manusia lewat utusannya malaikat pencabut nyawa. Melainkan manusia mati selalu oleh kesalahan teknis, jantung yang berhenti memompa darah, terinfeksi virus, batu ginjal, gula, dan berbagai hal teknis lainnya.

Manusia modern benar-benar telah terjebak dalam angan-angan immortal, menjadi abadi adalah tujuan yang harus tercapai, banyak waktu dan uang yang mereka investasikan demi tujuan tersebut. Dengan kepongahan, secara terang-terangan mereka menantang kematian, bahkan keinginan besar untuk membunuh kematian sehingga manusia dapat hidup abadi di dunia.

Dalam catatan Harari, Ilmuan serba bisa Ray Kurzweil terpilih menjadi direktur di Google yang meluncurkan anak perusahaan dengan nama Calico yang membawa misi “mengatasi kematian”. Pada 2009, Google menetapkan pemercaya immortalitas lainnnya, Bil Maris, untuk memimpin perusahaan pengelola investasi Google Venture. Pada sebuah wawancara (Januari/2015) Maris menyampaikan, “jika anda tanya saya hari ini apakah mungkin hidup sampai 500 tahun, jawabannya adalah ya” tidak sekedar kata-kata, bukan main lewat Google Ventur Maris menginvestasikan 34 persen dari portofolionya yang bernilai $2 miliar pada sejumlah start-up yang menekuni sains kehidupan.

Analogi sepak bola Amerika di pakai Maris, “Kami tidak berusaha memenangi beberapa meter, kami berusaha memenangkan pertandingan, karena lebih baik hidu daripada mati” (Harari, 2019: 27).

Baca Juga  Skincare: Berawal Gengsi Berujung Korupsi
***

Namun anehnya, impian menjadi immortal diamini banyak orang, salah satunya pendiri PayPal, Peter Thiel, membusung dada dengan penuh percaya diri menyampaikan bahwa ia ingin hidup selamanya. “Saya pikir ada tiga pendekatan utama dalam hal kematian, anda bisa menerimanya, mengingkarinya, atau melawannya. Saya pikir dominan masyarakat akan memilih menerima dan mengingkarinya, dan saya memilih untuk melawan.”

Tidak berhenti di situ, propaganda soal immortal juga kerap muncul lewat industri perfilman. Pada tahun 2012, film tentang kiamat hadir. Menceritakan tentang manusia yang mampu menghindari bahkan menentang kiamat dengan kecanggihan teknologi ciptaan manusia. Sebuah kapal canggih berkapasitas 100.000 orang yang mendapat klaim mampu menyelamatkan manusia dari akhirnya sebuah dunia. Dengan begitu manusia dapat terselamatkan dari bencana besar (teknis) yang dapat membunuh manusia.

Pada tahun 2015, sebuah film yang berjudul “Self/Less” muncul ke khalayak umum. Film dengan sutradara Tarsem Singh menceritakan tentang seseorang yang kaya raya yang menderita kanker stadium akhir. Sampai kemudian ia bertemu dengan seorang ilmuwan bernama Profesor Albright. Professor tersebut menawarkan proses pengobatan yang cukup ekstrem dengan memindahkan kesadaran manusia dari tubuh yang sakit ke tubuh lain yang lebih sehat. Tubuhnya memang telah mati, namun kesadaran sepenuhnya telah berpindah ke tubuh yang lebih sehat. Film ini cukup menghipnotis bagi siapa saja yang menontonnya.

Lihatlah kepongahan manusia modern ini. Diciptakan oleh Tuhan kemudian ingin menjadi Tuhan, hal ini sebenarnya telah dilakukan pada masa lampau, Firaun. Seseorang yang berkuasa penuh, memiliki segalanya, mengklaim diri sebagai Tuhan yang dapat mengendalikan kehidupan dan kematian. Namun pada akhirnya mati juga.

Terakhir penulis ingin sampaikan bahwa penulis bukan anti-sains yang kemudian menolak sebuah kemajuan. Penulis hanya ingin mengataan bahwa ada unsur-unsur yang tidak dapat terjangkau oleh sains. Kepongahan manusia modern ini jangan sampai menjerumuskan kita ke suatu hal yang utopis sehingga melupakan hal-hal yang lebih realistis. Ini bukanlah ungkapan pesimis, tetapi sebuah ungkapan sadar akan keterbatasan manusia.

Bagikan
Post a Comment