Manusia Punya Rencana, Tuhan Punya Kehendak
Beberapa hari menjelang ramadhan, saya termenung dalam diam. Mengingat sosok perempuan yang begitu spesial dan sangat saya cintai, ibu. Ya, ibu adalah sosok perempuan tangguh yang sangat saya rindukan. Rindu akan sentuhan kasih sayangnya, rindu dengan omelannya, rindu akan semua tentangnya. Ibu, sosok perempuan yang tidak tergantikan oleh perempuan manapun, selamanya ibu akan tetap ada di dalam hati.
Sejak kecil saya memang hidup terpisah dengan orang tua. Saya tinggal bersama nenek dan paman di Ende. Sementara orang tua dan saudara kandung saya bertempat tinggal di Kupang. Kami hanya bertemu pada saat momen liburan tiba. Tiga belas tahun yang lalu adalah momen terakhir bertemu dengan ibu dan saudara kandung saya, itu pun dalam keadaan duka karena kami semua harus berkumpul pada acara pemakaman ayah. Ya, ayah saya meninggal dunia di saat kami, anak-anaknya masih berusia sangat muda.
Rencana Berkumpul di Bulan Ramadan
Bertahun lamanya berpisah dengan sosok ibu yang mengandung dan melahirkan saya, selalu ada keinginan untuk bisa berkumpul bersamanya, apalagi di bulan Ramadan. Ibu memang mempunyai rencana agar saya bisa berkumpul bersama ibu dan saudara kandung saya pada Ramadan tahun ini.
Anak mana yang tidak merasa bahagia, ketika bisa berkumpul bersama ibu, dan saudara kandungnya? Bahagia, itulah yang saya rasakan ketika pertama kali ibu memberitahukan keinginannya. Rasanya ingin segera bulan Ramadan itu datang, kalender pun mulai saya coret-coret untuk menghitung mundur datangnya Ramadan.
Selalu Memberi Kabar
Setelah ibu menyampaikan keinginannya, tidak seperti biasanya ibu rutin memberi kabar. Biasanya seminggu-dua minggu sekali atau ketika awal ramadan, lebaran, mengikuti ujian, dan ada hal penting lainnya baru mendapat kabar dari ibu. Tetapi kali ini saya merasakan hal yang berbeda, hampir setiap hari ibu selalu memberi kabar. Sekedar menanyakan keadaan, menasihati dengan ucapan’’selalu menjaga kesehatan, jangan lupa sholat, doa buat almarhum bapak, makan teratur, kuliah yang rajin” dll. Hal itu lah yang selalu di bahas oleh ibu ketika beliau mengabariku.
Menyadari akan hal itu, saya tidak ingin bertanya kepada ibu kenapa akhir-akhir ini ibu sering menghubungiku. Dalam benak pikiran saya, mungkin ini adalah hal wajar ketika seorang ibu merindukan anaknya. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama.
Hilang Kabar
Sudah beberapa minggu, kira-kira enam minggu lebih, ibu selalu memberi kabar setiap harinya. Namun di minggu selanjutnya saya kembali merasakan keanehan, ibu sudah tidak rutin lagi memberi kabar. Sebenarnya ada sedikit kekhawatiran. “Ibu kenapa ya? Apakah ibu baik-baik saja? Apakah ibu benar-benar sibuk, sehingga tidak sempat memberi kabar?” itu lah pertanyaan-pertanyaan yang muncul dipikiran saya.
Namun segera pikiran-pikiran yang menghawatirkan saya buang jauh-jauh. Sayangnya semakin saya menghindar dari kekhawatiran terhadap ibu, semakin kuat pula rasa khawatir itu muncul. Hingga tiba suatu malam yang begitu tenang, tanpa ada suara bising, seolah semesta sedang bermuram durja, ingin menyapa seorang anak di kejauhan yang duduk termenung di pelataran masjid.
Kita Punya Rencana Tapi Tuhan Punya Kehendak
Manusia memang memiliki rencana yang bagus, tapi Allah mempunyai rencana yang lebih bagus dari manusia, Itulah nasihat yang ditanamkan oleh guru ngaji saya. Terkadang manusia begitu indah merencanakan suatu hal, namun sekali lagi saya tegaskan Allah lah yang mempunyai kehendak.
Bisa jadi apa yang kita rencanakan baik menurut kita, tapi belum tentu baik menurut Allah. Begitu pun sebaliknya, apa yang ditetapkan Allah menurut kita tidak baik, tapi dimata Allah itulah rencana yang terbaik untuk kita.
Setelah cukup lama tidak ada kabar dari ibu, masih dengan suasana malam yang begitu tenang. Tiba-tiba handphone saya berdering, “kring…kring…kring” bertanda ada panggilan masuk. Segera saya melihat siapa yang menelpon, terlihat jelas tertera bahwa panggilan itu berasal dari ibu. Tanpa menunggu lama saya mengangkat panggilan tersebut. Setelah mengangkat panggilan tersebut, saya menyadari tidak ada suara ibu yang terdengar, dari cara berbicara terdengar jelas bahwa itu adalah suara kakak kandung saya.
Ketika saya hendak mengucapkan salam untuk mengawali perbincangan, langsung dikejutkan oleh berita yang disampaikan oleh kakak saya. Kakak mengabarkan bahwa ibu telah berpulang ke rahmatullah. Seketika itu, saya tak sanggup membendung air mata. Sungguh, jika awalnya saya tau apa yang ingin disampaikan oleh kakak, saya tidak akan mengangkat telepon dari dia. Sebuah berita yang membuat saya rapuh, terpukul, bahkan saya merasa sudah tidak berguna lagi hidup di dunia ini.
Berita tersebut adalah berita yang tidak ingin didengar oleh anak manapun, sebuah berita yang membuat saya tidak dapat berkata apa-apa. Hanya diam dan termenung atas berita duka yang baru saja saya dengar.
Pada saat yang sama ada sahabat yang menasihati dan menguatkan saya, sehingga membuat saya sadar bahwa semuanya akan kembali kepangkuanNya. Akhirnya, manusia punya rencana tapi Tuhan punya kehendak. Saya menyadari beberapa hal bahwa yang datang akan pergi, lewat kan berlalu, ada kan tiada, bertemu akan berpisah. Itu lah perputaran roda yang akan dialami setiap manusia.
Mahasiswa PAI UAD, Kabid RPK PC IMM Bantul, Aktivis Pegiat Pendidikan Indonesia.
