Lebaran dan Pesan Allah untuk Seluruh Anak
Ramadan adalah bulan yang istimewa, di antara yang menunjukkan keistimewaannya adalah nama-nama lain yang dimilikinya. Dr. Zain bin Muhammad bin Husain bin al-‘Aydarus Ba’alawy dalam kitabnya berjudul Ithaf al-Anam bi Ahkam ash-Shiyam bahkan menyebutkan ada 16 nama lain. Semua nama-nama yang disebutkan di dalamnya, menggambarkan hal-hal baik yang dikaitkan dengan bulan Ramadan.
Di antara sekian nama-nama lain, barangkali ada satu nama yang bisa ditambahkan untuk menggambarkan bulan Ramadan, yaitu bulan perpulangan. Istilah perpulangan ini diambil dari kebiasaan mudik warga Muslim di Indonesia. Mudik sendiri memiliki arti pulang ke kampung halaman yang kebanyakan dilakukan menjelang libur lebaran.
Jika mudik adalah pulang ke kampung halaman, maka bisa dipahami bahwa pemudik adalah para perantauan yang pergi meninggalkan rumahnya. Secara umum, barangkali perantauan tersebut dapat diwakili dengan kelompok para pekerja dan pelajar. Demi mendapatkan pendidikan dan penghasilan yang layak, banyak orang rela meninggalkan rumah dan keluarganya.
Masa-masa mudik lebaran adalah waktu di mana banyak pemberitaan-pemberitaan, atau mungkin konten-konten tentang para pemudik yang pulang ke kampung halamannya. Di antara fenomena yang bisa kita lihat secara langsung atau lewat media, adalah bagaimana orang-orang membawa begitu banyak bekal dan oleh-oleh untuk keluarga dan kerabat.
Di antara begitu banyak macam bawaan, bekal dan oleh-oleh yang akan diberikan kepada keluarga dan kerabat, ada satu bekal dan oleh-oleh yang sangat penting bagi seorang Muslim. Bekal tersebut adalah ilmu tentang adab kepada orang tua. Ya, bekal inilah yang akan mewujud menjadi oleh-oleh terbaik dari seorang anak.
Tulisan ini hanyalah catatan ringan sekaligus refleksi diri dalam bingkai tadabbur al-Quran. Sebagaimana telah disebutkan tentang adab kepada orang tua, maka penulis mengambil inspirasi dari surat al-Isra’ ayat 23-24 yang mengandung pesan tentang bagaimana seharusnya seorang anak memperlakukan orang tuanya.
Ihsan Terhadap Orang Tua
Ayat 23 dari surat al-Isra’ mengandung perintah untuk hanya menyembah Allah ta’ala semata. Pesan ini adalah pesan terpenting dalam keberagamaan seorang Muslim. Karena ia adalah penentu awal dalam ketetapan Allah terhadap seorang hamba-Nya tentang akhir perjalanan antara surga dan neraka. Perintah mengesakan Allah (tauhid) berarti juga larangan untuk menyekutukannya dengan apapun (syirk).
Pesan tauhid di atas kemudian dilanjutkan dengan pesan untuk berbuat baik (ihsan) kepada kedua orang tua. Secara ringkas, tingkatan tertinggi ihsan kepada orang tua adalah senantiasa menaatinya. Namun, ketaatan tersebut tidaklah berlaku, apabila orang tua memerintahkan anaknya untuk melanggar aturan Allah. Apalagi jika berkaitan dengan keyakinan yang mendasar (aqidah).
Di antara bentuk ihsan seorang anak yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ adalah dengan berlaku baik kepada teman-teman ayahnya. Anjuran ini sangat dekat dengan momentum lebaran. Di mana biasanya para ayah sering kali mengenalkan kepada anak-anaknya siapa saja kerabat-kerabat yang terhubung dalam nasab, juga siapa saja teman-teman yang ia kenal dan dekat dengannya.
*
Satu kisah teladan Abdullah bin Umar, yaitu ketika ia sedang dalam perjalanan bersama kawannya dan bertemu dengan seorang Badui. Melihat lelaki Badui tersebut, Abdullah bin Umar serta merta memberikan keledai dan surban yang biasa ia kenakan. Melihat kejadian tersebut, salah seorang kawan kemudian bertanya perihal tindakannya, maka dijelaskanlah bahwa lelaki Badui tersebut adalah anak dari sahabat ayahnya.
Kebaikan yang Abdullah bin Umar berikan kepada lelaki Badui, adalah kebaikan yang ia kerjakan atas dasar sabda Rasulullah ﷺ tentang berbuat baik kepada orang tua. Maka selain mengenalkan orang-orang terdekat kepada anak, orang tua haruslah menyampaikan kepentingan dari hal tersebut. Yakni untuk mengamalkan sunnah Rasul ﷺ berkaitan dengan interaksi dan adab dalam keluarga.
Masa Tua dan Kesabaran Seorang Anak
Setelah memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, Allah ta’ala memerintahkan seorang anak untuk tidak berkata buruk walau hanya dengan ekspresi tidak senang, atau dengan ungkapan ‘ah’. Sebaliknya, seorang anak diperintahkan untuk selalu berkata dengan baik dan lemah lembut kepada orang tuanya.
Poin inti dari potongan ayat ini adalah tentang kesabaran seorang anak, terlebih ketika salah seorang atau kedua orang tuanya sudah semakin menua. Sebagaimana bisa diketahui dari surat ar-Rum ayat 54 bahwa manusia akan mendapati fase lemahnya di masa tua. Oleh karena itu, di masa tersebut peran anak dalam merawat dan memperhatikan orang tuanya akan semakin besar.
Selain perubahan fisik, ternyata orang tua juga bisa mengalami perubahan psikis yang bisa mempengaruhi mentalnya. Maka benar kiranya ungkapan yang mengatakan bahwa seseorang ketika masuk di masa tua, ia akan kembali seperti anak kecil. Oleh karena itu, boleh jadi seorang anak akan diuji dengan keinginan dan pemikiran orang tua yang mungkin akan banyak tidak sesuai dengan dirinya.
Kesabaran inilah yang barangkali menjadi sebab diberikannya balasan yang sangat besar, yaitu surga. Ajaran Islam pada asalnya menjanjikan pahala tak terbatas bagi orang-orang yang sabar (az-Zumar:10), maka kesabaran atas bakti kepada orang tua tentu semakin besar lagi. Benarlah celaan Rasulullah ﷺ kepada siapapun yang mendapati orang tuanya hidup di masa tua, tapi di akhirat ia justru tidak masuk surga.
Kerendahan Hati
Pesan selanjutnya yang terkandung pada awal ayat ke-24 adalah untuk merendahkan hati di hadapan orang tua. Kerendahan hati adalah akhlak mulia yang harus diterapkan pada siapapun. Para ulama banyak memberikan penjelasan dan kutipan-kutipan berharga berkaitan dengan akhlak ini. Maka sebagaimana akhlak ini diperintahkan untuk siapapun, tentu akan lebih ditekankan lagi untuk kedua orang tua.
Sebagai seorang anak, kiranya pesan ini memiliki konteksnya tersendiri untuk direnungkan. Bagi perantau yang pergi untuk belajar, boleh jadi mereka pulang membawa gelar dan ilmu yang tidak orang tuanya miliki. Begitu juga untuk kelompok pekerja, boleh jadi mereka pulang membawa penghasilan yang jauh lebih banyak dari orang tuanya.
Namun demikian, apapun pencapaian yang diperoleh seorang anak, hal itu tetap tidak akan bisa membuat dirinya lebih baik dan tinggi derajatnya dibanding dengan kedua orang tuanya. Seorang anak tetap diperintahkan untuk merendahkan hatinya, murni dan tulus karena kasih sayangnya kepada kedua orang tua, bukan karena maksud-maksud tertentu yang menguntungkan anak itu sendiri.
Doa
Pesan Allah kepada para anak di dalam ayat 24 dari surat al-Isra’ ditutup dengan perintah untuk mendoakan orang tuanya. Doa yang mengandung permintaan agar orang tua mendapatkan ampunan, rahmat, dan kasih sayang, sebagaimana ketika mereka mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang juga.
Inilah amalan yang sangat dibutuhkan oleh para orang tua dari anaknya, baik ketika mereka masih hidup atau telah meninggal dunia. Tentu kebutuhan tersebut berangkat dari keyakinan dan pemahaman terhadap agama, bahwa rahmat Allah dapat membawanya ke surga, dan ampunan-Nya dapat menghindarkan diri dari siksa neraka.
Referensi:
https://islam.nu.or.id/ramadhan/nama-nama-lain-bulan-ramadhan-3-habis-AZPhJ
https://www.halodoc.com/artikel/ini-alasan-usia-lanjut-psikologi-justru-seperti-anak-anak
Guru di MBS Pleret Yogyakarta dan Pendamping di Asrama Mahasiswa Raudhatul Huffadz Nitikan.
