Laki-Laki Memiliki Andil Menekan Stunting
Beberapa waktu lalu, sosial media gempar dengan berita seorang ibu muda yang memberikan anaknya kopi instan. Ibu tersebut memberikan alasan terkait kopi instan untuk anaknya, di sachet kopi tersebut, ada kandungan susu yang dapat menjadi pengganti susu. Mendengar alasan ibu, banyak perdebatan di sosial media. Semua warga internet memperdebatkan pendapat ibu tersebut dan membahas hingga permasalahan stunting. Sebelum kita memperdalam tentang stunting, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa itu stunting? Ibu Ninik Sukotjo selaku Spesialis Gizi UNICEF menjelaskan stunting tidak terjadi pada suatu individu, melainkan pada suatu populasi dalam daerah. Stunting terjadi apabila tumbuh kembang anak tidak optimal karena kekurangan gizi sejak dalam janin, hingga berumur dua tahun.
SSGI mengungkapkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia mengalami penurunan 24,4% pada tahun 2021 menjadi 21,6% di tahun 2022. Penurunan yang terjadi ini mengalami tren positif. Namun, bagi WHO angka stunting di Indonesia masih tergolong tinggi karena berada di atas 20%. Di sisi lain, kita mendapat sisi positif karena penurunan angka stunting, di sisi lain, masih banyak masalah-masalah lain yang seharusnya harus kita tangani.
Ada lima daerah di Indonesia yang prevalensi stuntingnya masih tinggi, di antaranya Aceh, NTT, Sulawesi Barat, NTB dan Papua. Daerah-daerah tersebut merupakan daerah dengan populasi masyarakat yang kecil, sedangkan Jawa dengan populasi masyarakatnya yang besar. Angka prevalensi lima daerah tersebut tinggi dengan populasinya yang kecill, sedangkan Jawa yang angka prevalensinya rendah dengan populasinya besar. Dengan angka dan populasi yang berbeda, maka beban yang dialami oleh daerah-daerah tersebut tidak bisa kita samaratakan. Walaupun anak-anak yang berada di Jawa juga berhak mendapatkan haknya untuk tumbuh secara optimal agar tidak stunting.
Penyebab Adanya Stunting hingga Pengaruh pada Tumbuh Kembang Anak
Lingkungan menjadi faktor pendukung kurangnya tumbuh kembang anak secara optimal.
Pertama, sanitasi air yang kurang bersih di beberapa daerah. Apabila sanitasi air tersebut buruk, maka, akan berdampak pada munculnya diare yang akan menimbulkan gizi buruk pada anak. Dengan demikian, Pemerintah dapat membantu dengan membangun jamban, adanya air mengalir, dan memastikan untuk cuci tangan menggunakan sabun. Pemerintah harus terus berupaya untuk mengubah perilaku masyarakat dengan hidup bersih dan sehat dengan menggalakkan cuci tangan menggunakan sabun.
Kedua, anak yang sering sakit (sakit-sakitan). Ketika kita tidak menerapkan hidup sehat dalam keseharian kita, maka, akan banyak penyakit yang menanti tubuh kita. Contohnya, seperti diare. Maka dari itu, pentingnya sanitasi air bersih dan penerapan perilaku hidup sehat sejak dini.
Ketiga, tidak melakukan imunisasi. Secara individu, anak harus mendapat layanan imunisasi. Peran TNI, di beberapa daerah terpencil sangat dibutuhkan. TNI memiliki Divisi Kesehatan yang dapat memberikan layanan imunisasi bagi anak-anak di daerahnya. Dengan adanya bantuan dari TNI, dapat membantu dalam memberikan pelayanan imunisasi di beberapa daerah.
Terakhir, anak yang tidak mendapatkan pengasuhan tepat dari orang tuanya. Makanan akan mempengaruhi terhadap kandungan gizi yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Dalam memilih makan untuk anak, kita tidak harus menggunakan bahan makanan yang mahal. Misal, ibu yang menilai tingginya kandungan omega yang ada pada ikan salmon. Kita sulit menemukan ikan salmon dengan harga terjangkau di Indonesia, maka, kampanye yang perlu kita lakukan dengan mengimbau untuk memakan ikan gabus yang tak kalah kaya protein daripada ikan salmon. Mengkonsumsi sayur-sayuran juga tak kalah penting bagi kesehatan ibu hamil dan anak. Memberikan anak ASI pada seribu hari pertama hingga usia anak dua tahun, salah satu upaya dalam memberikan pengasuhan yang tepat bagi anak.
Pada saat perempuan hamil, normal makan perempuan hamil sebanyak empat kali. Jika tidak terlaksana, maka tumbuh kembang anak sejak dalam janin tidak baik.
Upaya Memerangi Stunting dan Edukasi Pentingnya ASI Kepada Ayah
Permasalahan stunting yang tak kunjung usai hingga hari ini, bukan permasalahan antara perempuan dan anak saja, tetapi juga membicarakan peran laki-laki sebagai ayah. UNICEF selalu memastikan bahwa peran ayah selalu ada dalam setiap langkah pengasuhan. Literasi dan awareness kepada sleuruh masyarakat menjadi titik perhatian dalam memberikan informasi dan pengetahuan yang sama bagi keluarga, baik laki-laki maupun perempuan. Misalnya di Aceh, UNICEF memiliki program untuk bicara santai dengan memberikan edukasi gizi anak kepada ayah di warung kopi. Memberikan pelatihan dan edukasi bersama Komunitas Ayah ASI, tentang bagaimana seorang suami dapat mendukung istri dalam menyusui. Dalam proses pelatihan, daerah-daerah di Indonesia mendapatkan treatment yang sama. Treatment pelatihan yang dilaksanakan dengan mengumpulkan para ayah dalam suatu daerah dengan menjadikan laki-laki sebagai fasilitator untuk memberikan edukasi menyusui kepada ayah. Dalam pelatihan ini, perempuan atau ibu dilarang untuk ikut serta, sehingga seringkali mereka menitip pertanyaan terkait permasalahan menyusui saat pelatihan berlangsung.
Edukasi dalam keluarga tak kalah penting dalam memerangi stunting. Keterlibatan laki-laki sangat penting dalam tumbuh kembang seorang anak. Laki-laki saat mendampingi istri hamil melakukan pemeriksaan, hendaknya mereka juga ikut serta dalam mendengarkan dokter terkait kesehatan anak dan istrinya.
Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi konsentrasi Public Relations. Memiliki minat di bidang menulis dan public speaking
