Ibu, Stimulan Pendidikan Toleransi Sejak Dini
Sewaktu kita kecil ketika mendapat sebuah masalah kita selalu mempunyai solusi, solusi tersebut adalah dengan memanggil nama “Ibu” sekencang-kencangnya. Dari sini kita bisa memahami bahwa dengan ibu kita selalu merasa dekat dan selalu menemukan apa yang kita mau. Ibu adalah perempuan yang sangat berperan penting dalam perkembangan peradaban. Dalam genggaman tanganya ia mampu membentuk manusia yang berkualitas dengan pendidikan yang ia berikan kepada buah hatinya.
Hal ini senada dengan syair Hafiz Ibrahim “al-ummu kalmadrasatul ula,, idza a’dadtaha a’dadta sya’ban tayyiban al-a’raq” . Ibu bagaikan madrasah pertama bagi anak, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi yang terbaik.
Ibu menjadi madrasah pertama karena indra pendengaran berfungsi ketika seorang anak masih di dalam kandungan. Anak yang masih dalam kandungan belajar melalui pembicaraan-pembicaraan ibunya sehingga otaknya mampu berkembang untuk pertama kalinya. Sebuah hal yang tidak mungkin bisa ayah berikan. Karena ayah tidak selalu berada di dekat bayinya yang masih di dalam kandungan.
Seperti kisah Borris Brott, seorang konduktor simponi terkenal. Ia menjelaskan bagaimana ia tertarik pada musik dan mampu memainkan beberapa lagu tanpa berlatih. Ternyata, Ibu Brott menyampaikan bahwa ketika Broot masih dalam kandungan, ibunya sering memainkan musik dengan suara tidak terlalu keras di dekat perutnya. Sehingga bunyi maupun getarannya dengan jelas dapat ia dengar dan rasakan oleh bayinya.
Dari yang awalnya bisa mendengar, bayi tersebut akan mengalami perkembangan cepat sehingga dapat mempelajari lingkunganya dengan waktu singkat. Penelitian F. Rene van de Carr dalam bukunya While You’re Expecting Your own Prenatal Classroom menunjukkan bahwa selama berada dalam rahim, bayi dapat belajar, merasa, dan mengetahui perbedaan antara terang dan gelap pada saat kandungan berusia 5 bulan (20 minggu). Kemampuan bayi untuk merasakan stimulus telah berkembang dengan cukup baik sehingga dapat memulai permainan-permainan belajar.
Autopilot Behavior
Setelah anak lahir barulah ia mempelajari lingkungannya menggunakan kelima inderanya. Seorang pakar biopsikologi bernama Bruce Lipton mengungkapkan bahwa 95% hidup kita berasal dari program kehidupan. Artinya 95% kegiatan yang selama ini kita lakukan berasal dari sebuah program yang sudah terancang sebelumnya. Program dengan sebutan Hypnosis ini terbentuk ketika seorang anak memulai awal kehidupannya sampai umur 7 tahun.
Anak mempelajari lingkunganya lalu menyimpannya di alam bawah sadar mereka. Untuk kemudian digunakan ketika program tersebut selesai dibuat. Misalnya seorang anak yang melihat ibunya makan sambil berdiri akan terus ia ingat. Lalu tersimpan di alam bawah sadarnya sehingga ketika program ini selesai terbuat anak tersebut akan lebih suka makan sambil berdiri.
Selain beperan penting terhadap pembuatan program kehidupan, ibu juga berperan banyak terhadap setiap program yang terbuat karena ia adalah orang yang mengandung, menyusui dan mengasuhnya sampai ia benar-benar bisa memahami lingkunganya. Salah satu program adalah sikap toleransi. Ibu yang memahamkan ke anaknya bahwa perbedaan adalah suatu keniscayaan akan membuat seorang anak tumbuh dengan sikap saling menghargai perbedaan pendapat, agama, suku dan ras.
Lanjutnya Bruce Lipton juga menjelaskan bahwa kualitas program yang TERbuat juga bergantung pada kualitas lingkungaNnya. Jika lingkunganya baik maka program akan baik, begitu juga sebaliknya jika lingkunganya buruk maka programnya akan buruk. Jika seorang ibu menstimulus anaknya di lingkungan yang heterogen dengan pendidikan toleransi maka anak tersebut akan mempunyai sifat toleransi tinggi. Begitu juga sebaliknya jika anak terdidik dengan sifat intoleransi maka anak tersebut akan mempunyai sifat intoleransi yang tinggi.
Program alam bawah sadar akan menjadi program utama untuk mengendalikan kegiatan anak sehari-hari sampai mereka dewasa. Perilaku anak ketika dewasa adalah cerminan dari program sewaktu mereka masih berumur kurang dari 7 tahun dan program ini sulit untuk berubah.
Ibu dan Pendidikan Toleransi
Dengan manusia yang sudah dewasa dan mempunyai programnya sendiri, mereka akan melakukan hal-hal sesuai apa yang mereka dapatkan ketika kecil. Mereka akan saling memahami perbedaan karena sedari kecil harus hidup berdampingan dengan lingkungan yang berbeda. Mereka tidak menganggap dirinya mempunyai hak eksklusif sehingga ia harus diutamakan.
Menurut Robbiyah dalam jurnalnyaPengaruh Pola Asuh Ibu terhadap Kecerdasan Sosial Anak Usia Dini di TK Kenanga Kabupaten Bandung Barat, “Pola asuh ibu yang tepat akan membentuk anak yang memiliki kecerdasan sosial yang positif. Kemampuan mengolah emosi dan sosial dengan baik pada diri sendiri dan orang lain, menggunakan perasaan-perasaan itu untuk memandu pikiran dan tindakan”.
Sejalan dengan itu dalam penelitian Rizki Nur Safitri dengan judul Pengaruh Nilai Toleransi Keluarga Dan Tingkat Pendidikan Ibu Terhadap Karakter Toleransi Anak bahwa 50,8% karakter toleransi anak mendapat pengaruh Ibunya. Terlebih jika ibunya berkualitas maka maka anak yang terdidik pun akan semakin berkualitas juga. Artinya, jika ibunya adalah orang yang mempunyai pendidikan matang maka anak yang didiknya pun akan semakin bagus dalam memahami sikap dan sifat perbedaan dalam kehidupan.
Simpulan
Sampai sini kita dapat memahami bahwa sorang perempuan yang kita sebut sebagai Ibu adalah tokoh penting dalam toleransi. Ibu mendidik anak mulai dari kandungan sampai anak memahami lingkunganya. Ia membuat program otomatis pada si anak untuk digunakan sampai mereka dewasa.
Salah satu program tersebut adalah program toleransi. Sebuah program yang jika diterapkan di lingkungan masyarakat maka masyarakat tersebut akan mengalami ketentraman. Program yang bersifat tetap ini tidak akan goyah hanya karena perbedaan agama, suku dan ras apalagi hanya karena perbedaan pendapat belaka.
Modern ini, peradaban yang terbentuk di atas paham toleransi tentu didasari oleh seorang ibu yang berkualitas. Seperti syair di atas, “Ibu bagaikan madrasah pertama bagi anak, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi yang terbaik”. Maka dari itu, perempuan sebenar-benarnya adalah orang yang paling penting dalam membangun peradaban, membangun sumber daya manusia yang matang, manusia yang memiliki jiwa toleransi tinggi.
Manusia-manusia dewasa yang memahami toleransi hari ini adalah anak-anak yang dididik toleransi di masa lalu oleh seorang perempuan bernama Ibu.
IG : @afifazis1799
