Ketika Allah Menyelamatkan Saya dari Maut
Sekira sebelas tahun lalu, sekitar tahun 2011. Saya masih duduk di bangku SMA kelas XI. Saya mengalami sebuah peristiwa yang sampai saat ini menjadi sebuah mukjizat bagi saya. Ya, Allah menyelamatkan saya dari begal. Begini kisahnya.
Hari itu selepas magrib, saya bergegas menuju warnet untuk mencetak cover karya ilmiah yang akan dipamerkan di provinsi keesokan harinya. Hari itu cuaca cerah, jalan menuju warnet memang tergolong sepi. Sebuah jalan antar desa yang diapit sungai dan sawah. Saya mengendarai motor milik bapak saya.
Sayangnya, di warnet langganan saya tutup. Maka saya harus pergi ke warnet yang ada di desa sebelah. Saya kembali melewati jalan sepi itu. Entah mengapa malam itu jalanan lengang, padahal belum begitu malam. Saya merasa agak was-was karena ada sebuah sepeda motor yang menguntit saya sejak keluar dari perkampungan.
Lalu, setelah melewati gang menuju rumah saya tiba-tiba motor saya ditabrak oleh pengendara motor yang sedari tadi mengikuti. Dua orang lelaki naik motor matic, satu orang turun dari motor menunjukkan sangkurnya.
Saya tertegun. Saya merasa akan percuma minta tolong kepada manusia. Ada rasa pasrah dan takut pada saat itu. Saya takut ibu akan memarahi saya. Dan ada rasa pasrah karena hanya Allah yang membersamai saya. Tidak ada siapapun di jalan itu. Bahkan ada sebuah motor yang lewat mengabaikan saya. Lalu, di saat yang bersamaan saya mengingat potongan hadis Nabi, “Rasulullah Saw. bersabda : Siapa saja yang gugur karena membela hartanya, maka ia mendapat derajat syahid.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Maka dengan keyakinan penuh saya bertakbir. Suara saya melebur dengan azan Isya yang berkumandang dari penjuru desa. Saya melihat pelaku merasa sedikit panik karena melihat saya yang bertakbir. Di saat itu, salah seorang pelaku yang duduk di atas motor mengatakan pada rekannya, “ Ojo ditusuk,” (jangan ditusuk).
Namun, rasa panik menyelimuti pelaku yang memegang sangkur. Ketika, saya hendak mengambil kunci motor lalu membuangnya ke sungai, bersamaan dengan itu pelaku menusukkan sangkurnya ke arah rusuk saya. Sempat kaget, saya memegang bekas tusukannya lalu saya di dorong ke dalam sungai.
Qodarullah, sungai dalam keadaan kering karena kemarau. Saya masih memiliki kekuatan untuk berjalan sampai pemukiman. Di depan rumah penduduk, saya duduk dan melihat darah mengucur. Kebetulan pemilik rumah tersebut mengenal saya, dia lalu menggendong saya menuju bidan terdekat.
Saya hanya bisa pasrah. Di atas dipan saya ditidurkan, dan dijahit oleh bidan. Bidan tersebut terus menangis sambil menjahit. Beberapa kali dia memanggil-manggil nama seorang mantri yang ahli dalam jahit menjahit. Tak berapa lama, mantri itu datang. Lalu bertanya apakah luka saya sudah ia bersihkan. Dan ternyata saking paniknya Bu Bidan lupa membersihkan luka saya langsung menjahitnya.
Saya pasrah. Di tengah suasana jahit menjahit. Saya menelpon anggota tim saya. Saya sampaikan permohonan maaf karena tidak bisa memenuhi amanat dari mereka. Tak berselang lama anggota Polsek pun datang meminta penjelasan kepada saya. Saya diminta menerangkan bagaimana wajah si pelaku. Sayangnya, saya melupakan wajah mereka.
Malamnya, paman hendak membawa saya ke rumah sakit. Tetapi saya menolak karena ditakut-takuti Ibu dengan jarum infus. Maka jadilah saya dipulangkan. Sesampainya di rumah, rumah sudah ramai dengan tetangga yang memutuskan untuk berjaga di rumah saya. Pak Mantri juga membawa beberapa alat untuk berjaga-jaga jikalau ada keadaan darurat.
Ternyata benar. Tak berselang lama, jahitan saya bocor. Darah mengalir kembali. Mantri pun merujuk saya ke rumah sakit. Di sepanjang jalan, bapak tidak berhenti menepuk muka saya, dia ingin saya tetap terjaga. Padahal rasanya ngantuk sekali.
Tiba di rumah sakit. Saya masuk di IGD, jahitan saya kembali dibongkar dan dijahit. Sembari menahan sakit, saya mendengar teriakan dari bed sebelah, seorang kakek yang kesakitan. Setelah selesai mendapat pertolongan, saya berpindah ke dalam ruangan (bangsal).
Malam itu bapak menemani saya di rumah sakit. Bapak bercerita ketika menjadi imam di musala. Tanpa sadar bapak memilih surat yang cukup panjang yang sering almarhum kakek saya baca. Ada rasa tenang saat beliau menjadi imam salat Isya.
Paginya seorang dokter menemui saya. Beliau menyampaikan saya harus dioperasi. Saya menangis, ada rasa takut di sana. Saya merasa tidak baik-baik saja. Lalu, saya berusaha menenangkan diri saya dengan mengingat Allah.
Alhamdulillah operasi pembersihan berjalan lancar. Dokter yang membedah saya merasa takjub dengan luka yang saya derita. Lukanya cukup dalam dan berada tepat di antara dua tulang rusuk. Pas dan tidak merusak tulang. Dokter pun bercerita lebih dalam sedikit saja, mungkin sudah tembus ke paru-paru. Saya tak henti mengucap syukur atas mukjizat Allah. Saya masih diberi keselamatan dan saya masih diberikan umur panjang. Hingga hari ini bekas luka masih ada. Dia terukir sebagai bentuk kenangan betapa Allah Maha Penyelamat. Tidak ada kekuatan yang bisa mengalahkan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ibu Rumah Tangga tinggal di Semarang. Bisa silaturahnmi via FB Anisa fitrianingtyas.
