Kesetaraan Perempuan di Parlemen, Belajar dari Sosok Hj. Ineu
Menurut World Bank, Indonesia menepati urutan ke 7 se-Asia Tenggara dalam proses keterwakilan peran perempuan di parlemen. Tentu, hasil yang dirilis tahun 2021 ini menjadi catatan penting bagi kita semua agar terus berupaya perempuan dewasa kini bisa terlibat menjadi aktor kebijakan.
Salah satu momen menarik ialah ketika kami bertemu dan berbincang dengan mantan ketua DPRD Jawa Barat perempuan pertama, bernama Dr. Hj. Ineu Purwadewi Sundari., S.Sos., M.M., atau bisa akrab dengan sapaa Hj. Ineu. Sosok yang satu ini bisa kita jadikan insprasi bagaimana keterwakilan perempuan merupakan bagian terpenting proses pengambilan kebijakan publik.
Sebelum melangkah lebih jauh, saya mengutip perkataan seorang politisi dari India bernama BR Ambedkar, “Kemajuan sebuah negara serta kemajuan sebuah bangsa dapat diukur dengan kemajuan kaum perempuannya. Sebuah negara tak dapat dikatakan maju jika perempuan di negara itu tidak maju.”
Syahdan, di tengah kemajuan teknologi India seorang BR Ambedkar hadir memberikan kritik bahwa sebuah negara tidak bisa maju hanya karena teknologinya. Namun negara itu tidak bisa dikatakan maju jika mayoritas perempuannya tidak maju di ruang publik. Apalagi hampir semua negara saat ini memiliki jumlah perempuan hingga separuh dari populasi. Ambedkar di India menekankan pentingnya untuk memperhatikan kemajuan kaum perempuan di ruang publik dan pentingnya gender equality.
Terkait dengan hal ini, perkenankan penulis menyampaikan beberapa teladan dari sosok Hj. Ineu penyandang penghargaan IJTI sebagai perempuan tokoh perempuan inovatif di era pandemi. Kesadaran ini hadir di tengah budaya perilaku masyarakat yang masih melanggengkan ketimpangan gender. Isu gender sendiri lahir karena adanya fakta ketidakadilan gender di tengah relasi antara pria dan perempuan, dan isu inilah yang memotivasi banyak kaum perempuan untuk memberdayakan khususnya sesama perempuan, dan juga termasuk kaum pria.
Keteladanan ini tertera dalam beberapa poin. Pertama, aspek pendidikan. Dalam pandangan Amina Wadud perempuan adalah manusia yang sama-sama punya derajat setara dengan manusia-manusia lainnya. Mereka berhak mendapat keadilan, ketenangan, kenyamanan, dan kepuasan dalam menjalani kehidupan. Pun demikian dengan keadilan dalam proses pencarian ilmu pengetahuan. Kondisi perempuan yang terkerangkeng dalam sangkar emas dan keterbatasan untuk mendapat akses pendidikan sudah harus diputus secara masif.
Berkaitan dengan hal ini, Hj. Ineu telah menyelesaikan pendidikanya dan bergelar doktor. Tentu ini menjadi hal menarik, sebagai perempuan Hj. Ineu telah rampung menyelesaikan pendidikan S3 menjadi bukti kaum perempuan berhak dan mampu mendapatkan akses pendidikan setinggi-tingginya. Dia pun memiliki keberpihakan pemerataan pendidikan bagi perempuan.
Kedua, aspek politik. Sebelum ini, ada tokoh bernama Cory Aquino beliau adalah Presiden Filipina tahun 1986 -1992. Dia juga wanita Asia pertama yang tampil sebagai presiden wanita di dunia. Bukan hanya itu, Megawati pun demikian. Dalam ruang lingkup daerah tingkat II Hj, Ineu terpilih sebagai perempuan pertama yang memangku jabatan Ketua DPRD Jawa Barat. Hj. Ineu juga seorang ibu rumah tangga biasa yang awalnya jauh dari gegap gempita politik.
Kisah ini menurut saya sama halnya dengan presiden Cory, dalam buku Current Biography Yearbook (1986) bahkan melukiskannya sebagai Classical Oriental Wife, seorang ibu rumah tangga tipe tradisional Timur. Suaminya memang seorang politikus ulung, gubernur, dan senator termuda dalam sejarah Filipina. Namun jika suaminya diibaratkan panglima perang, Cory hanya merawat pedang dan menjaga kendaraan perang panglima. Hj. Ineu lahir dari keluarga PDI Perjuangan, ayahnya politikus ulung, tugas awalnya merawat nilai-nilai ideologis, bahkan dalam perjalanan hidupnya Hj. Ineu sempat bekerja terlebih dahulu di dunia perbankan. Namun seiring berjalanya waktu beliau turut ikut terlibat dalam agenda politik.
Sosok Hj. Ineu sangat diperlukan di ruang publik, perempuan yang satu ini mewarnai dinamika parlemen dan konsen menyuarakan gagasan kesetaran gender. Tanpa mengesampingkan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, Hj Ineu juga sosok ibu yang penuh kasih sayang, peduli dan selalu meluangkan waktu bersama anak-anak tercinta. Baginya kesuksesan dalam membangun rumah tangga tak menutupi perempuan berkiprah dalam membangun ruang publik yang lebih luas lagi
Dalam suatu kesempatan saya merasa kagum bagaimana Hj. Ineu menceritakan dalam suasana menjadi ketua parlemen diberi tanggung jawab oleh Allah dalam keadaan mengandung. Namun dalam kondisi demikian beliau tetap bersikeras menjalan amanat yang pada saat itu ia pegang. Berdasarkan penuturanya, pada saat tahun 2017 beliau mengandung anak ketiga. Belum lagi, hal yang berat menurutnya peran ibu tidak boleh mengesampingkan kasih sayang kepada anak.
Karenanya, tak jarang Hj. Ineu membawa anak kesayangan dalam beberapa agenda parlemen. Selain mengenalkan anaknya kepada pekerjaan ibu tercinta, menurutnya itu waktu yang bisa diisi dengan membangun komunikasi. Hj. Ineu meyakini bahwa pertumbuhan anak atau masa anak-anak jangan terlewatkan begitu saja terutama ketika anaknya menginjak usia tujuh tahun. Beliau mengesampingkan rasa malu demi pertumbuhan yang sehat bagi keluarga.
Jika kita berkaca kepada konsep keluarga Nick dan De Frain ada beberapa hal yang perlu diutamakan, di antaranya : 1. Terciptanya kehidupan berkeluarga dalam keluarga, 2. Tersedianya waktu dalam keluarga, 3. Interaksi segi tiga (ayah, ibu dan anak), 4. Saling menghargai interaksi ayah, ibu dan anak, 5. Jika keluarga mengalami krisis, maka prioritas utama adalah keluarga. Melihat rangkaian di atas, ada beberapa nilai keteladan dan spirit yang dapat kita ambil dari sosok Hj. Ineu salah satunya memprioritas masalah keluarga termasuk anak.
Demikian tulisan saya rajut semoga dapat bermanfaat.

Pengelola Tambo Pustaka, Taman Baca Rumah Ilmu dan Mahasiswa jurusan Falsafah & Agama
