Kekerasan dalam Pacaran
Kekerasan dalam pacaran. Pembicaraan mengenai ini sudah wara siri di media sosial. Bahkan mungkin lingkungan terdekat kita sendiri malah mengalaminya. Karena kekerasan ini ternyata bukan hanya sebatas kekerasan fisik yang bisa dilihat oleh mata tapi lebih luas lagi daripada itu, ternyata bisa menyerang psikis, seksual bahkan sampai kekerasan ekonomi.
Kalau pacaran atau beautiful Line itu konsepnya seperti apa sih? Kekerasan dalam pacaran itu sebenarnya kekerasan yang terjadi pada relasi di bawah tempahan. Jadi pada saat pacaran atau pendekatan sekalipun, juga sudah sudah masuk pada kekerasan dalam pacaran. Komnas Perempuan pertama kali mencatat KDP cukup tinggi di tahun 2020 yaitu angkanya di 1.074 dan daerah tertinggi adalah DKI Jakarta, angka ini bahkan melebihi angka KDRT pada masa itu.
Salah satu yang kurang disadari adalah kekerasan sosial, misalnya berupa pembatasan aktivitas. Kita sering mendengar seseorang dikekang oleh pasangan atau pacar, sebenarnya ini jenis kekerasan berlapis karena menimbulkan efek secara emosional pada korban. Pasti tidak nyaman menjalin relasi dengan seseorang yang merasa punya kuasa lebih tinggi pada orang lain.
Mungkin ini terasa ‘lucu’,’melindungi’, tapi bayangkan kita dengan potensi sebagus ini tak boleh memiliki circle baru, tak boleh bertemu dengan teman, atau bahkan tak boleh menjalin komunikasi dengan keluarga, semua itu ditekankan setiap hari oleh orang yang kita cintai atas nama kebaikan kita sendiri. Semua itu, sebab ia merasa punya hak untuk mengatur hidup kita.
Kita mungkin tidak mengalaminya, tapi jika seseorang dalam circle kita mudah gusar secara emosional, perilakunya berbeda dari biasanya, tiba tiba berhenti merawat diri, tiba tiba cuek padahal biasanya detil, mungkin ia sudah mengalami kekerasan dalam pacaran. Jangan percaya pada feeds & instagramnya yang indah, buket bunga yang mampir dan caption romantis. Kadang ini hanya momen sekian menit dari puluhan jam di mana siklus kekerasan ini berlangsung.
Korban kekerasan dalam pacaran biasanya hobi mengisolasi sendiri. Hal ini disebabkan karena korban merasa bingung dengan dirinya sendiri, karena sebagian besar hidupnya terrenggut begitu saja. Salah satu lainnya yang berada di wilayah abu-abu adalah pemaksaan kehendak seksual. Di mana pasangan dituntut untuk melakukan aktivitas seksual. Meskipun bertajuk pemaksaan, kekerasan ini tidak selalu dibawah ancaman namun sebaliknya, berupa bujuk rayu, saat korban menolak maka pelaku memanipulasi korban sedemikian rupa agar bersedia melakukan keinginannya. Kita sering membaca mengenai spill tea di sosial media, kebanyakan korban pada awalnya menolak dan akhirnya tidak berdaya karena bujuk rayu, serta beberapa komentar dibawahnya menyatakan bahwa aktivitas tersebut hanya kontak fisik biasa. Padahal, kekerasan seksual tidak memiliki batas berupa penetrasi. Sepanjang dilakukan dengan tidak berkesadaran & dipaksakan, maka kegiatan tersebut merupakan kekerasan.
Apakah Pasangan yang Melakukan Kekerasan Bisa Sembuh?
Tentu saja bisa, dengan komitmen yang kuat. Kebanyakan pelaku kekerasan tidak menyadari bahwa yang dilakukan olehnya adalah sesuatu yang berbahaya bagi mental orang lain. Hal ini karena dirinya mempelajari kekerasan dari lingkungan sejak dini. Ia terbiasa dengan bentakan, cacian, bahkan baku hantam fisik sebagai bentuk komunikasi yang dianggap efektif dan wajar dilakukan. Butuh waktu dan kesadaran diri untuk melakukan pemulihan.
Selanjutnya adalah kekerasan ekonomi yang juga asing di telinga kita semua. Bagi sebagian orang, sudah biasa untuk melakukan sharing ATM, pin online banking, dan akun ekonomi lain. Sayangnya ini sering dijadikan celah untuk melakukan pencurian oleh pasangan sendiri. Kasus lain yang sering dilakukan Adalah saat pasangan memaksakan membeli barang tertentu sebagai bukti cinta, menanggung hidup terus menerus tanpa dibarengi kesadaran, hingga menjadikan nama pasangan sebagai jaminan hutang.
Sering kita dengar saat seseorang menghentikan relasinya, yang tertinggal bukan hanya kenangan melainkan rentetan hutang dengan beberapa aplikasi pinjaman online. Sayangnya beberapa orang luput melakukan advokasi, tapi malah menganggap korban terlalu naif karena cinta.
Beberapa jenis kekerasan ini sering kita jumpai dan anggap sebagai sesuatu yang biasa. Kita selalu menganggap bahwa semua jenis kekerasan ini mudh ditangani. Nyatanya tidak, beberapa korban kekerasan biasanya mengalami kekerasan berlapis saat buka suara tentang pengalamannya. Oleh publik biasanya ia dianggap cinta buta, tidak logis, bahkan tak punya logika sebab terlalu percaya pada pasangannya.
Penelitian yang dilakukan di University College London dan diterbitkan dalam NeuroImage menemukan, baik cinta romantis maupun cinta kepada ibu menghasilkan efek yang sama pada otak. Rasa cinta tersebut menekan aktivitas saraf yang terkait dengan penilaian sosial kritis terhadap orang lain dan emosi negatif sehingga hanya rasa suka yang ada. Maka, tingginya angka KDP adalah hilir yang sesungguhnya perlu kita antisipasi. Kita bisa melakukan upaya penyadaran kepada semua orang mengenai asertifitas diri, upaya self love, dan bagaimana membangun hubungan yang sehat.
Activist on issues of comprehensive reproductive health and social rights

Hamid
Oleh sebab itu tidak ada istilah pacaran dalam Islam