Kaffir Leaves yang Mahal Harganya
Langit sangat cerah pagi itu. Matahari mengawali rutinitas tugasnya membagi kehangatan pada mayapada nan elok beserta seluruh isinya. Kubuka tirai jendela penginapan dengan perasaan bahagia bercampur haru dan tidak bisa kuungkapkan meski hanya lewat kata-kata ataupun sebait puisi.
Bak anak kecil yang tengah diajak orang tuanya piknik, aku merasakan itu. Kami, aku dan putriku, pergi ke pasar yang cukup terkenal di Negeri Gajah Putih yaitu pasar Chatuchak. Untuk menuju ke sana, kami naik busway lalu jalan kaki yang lumayan jauhnya. Mungkin karena terlalu bersemangat sehingga kakiku tak merasakan lelah sedikitpun.
Di sepanjang jalan menuju pasar, banyak kujumpai pemandangan dan suasana yang tidak jauh berbeda dengan suasana di tanah air. Ada pengamen dan sejumlah pedagang kaki lima yang menjajakan dagangan mereka dari jenis pakaian, pernak pernik, buah-buahan, minuman ringan dan berbagai barang lainnya. Saking ramainya suasana membuat aku lupa sedang berada di mana.
Menemukannya Di Negeri Orang
Antara sadar dan tidak, sampailah aku di pasar yang konon sudah termashur seantero jagad ini. Rasa haus dan lapar tak mampu kututupi meskipun sebelum berangkat kami sudah sarapan sekeping roti. Apalagi ketika ada jajanan khas yang sempat menggelitik lidahku untuk segera bergoyang. Ketan dan mangga. Yah, beberapa potong mangga manis dipadu dengan ketan putih bersantan. dan dimakan bersamaan.
Ada sensasi beda lantaran mangganya lumayan harum dan manis ditambah ketan yang pulen dan empuk . Hemmm …
Tidak sulit membuat camilan mangga ketan seperti itu karena di tanah air Indonesia tercinta, ketan dan manga sangat melimpah. Tapi entah mengapa ketika menikmati hidangan tersebut di negeri orang rasanya kok nikmat banget dan berharap begitu pulang ke rumah ingin segera mencoba membuatnya.
Seperti yang kita tahu ada beberapa perempuan yang senang masuk pasar. Entah itu hanya sekedar cuci mata atau memang benar-benar mau belanja Berbagai ragam pedagang dari yang menjual barang murah meriah, agak mahal dan mahal ada. Kebetulan setiap menanyakan harga hampir semua pedagang bisa berbahasa Inggris walau ada yang patah-patah. Kebiasaan menawar harga pun segera kupraktekkan dengan lancar dan menyenangkan.
Kaffir Leaves
Hampir tiga jam keliling pasar, belum ada separuh area yang terrjelajah oleh kami. Maklumlah ada kurang lebih 15.000 kios dipasar ini.
Musik keroncongan di perut menyadarkan kami untuk minta segera diisi kembali. Rupanya sekeping roti dan ketan mangga belum berarti kalau belum makan nasi. Sengaja kami cari halalfood yang ada di dalam pasar dan menu-menunya ternyata cukup familiar di lidah. Mengisi perut sambil merehatkan sejenak kaki yang sudah mulai pegal-pegal.
Tak terasa matahari sudah condong ke barat, kami masih di dalam pasar, padahal masih ada beberapa barang yang harus dibeli demi memenuhi harapan teman-teman yang sebelumnya sempat nitip.
Dari sekian kios yang sempat kami hampiri, ada kios yang menjual bahan jamu tradisional dan bahan bumbu masakan yang sudah dikeringkan (sejenis empon-empon). Pandanganku sempat terpusat pada sebuah kemasan plastik yang bertuliskan Kaffir Leaves. Daun jeruk kering harganya kok mahal sekali, kira-kira apa ya?
Harga Kaffir Leaves yang Mahal
Setelah kupegang, kuraba dan kuterawang isinya, ternyata daun jeruk kering. Wuih, daun jeruk kering semahal ini? Aku tak habis pikir. Malah sempat berhayal, andai aku mampu akan kukirim beberapa truk daun jeruk yang sangat melimpah ruah di tempat asalku. Sambil ngedumel dalam hati aku berkata, pantas saja kuliner di sini mahal, lha wong cuma daun jeruk kering saja harganya bisa selangit.
Aku tak pernah tahu sejak kapan, tepatnya sejak abad keberapa daun jeruk dimanfaatkan oleh manusia. Kalau kita cermati faedah daun jeruk sebenarnya banyak sekali. Untuk berbagai resep masakan dia sebagai penyedap, penggurih, pengharum dan pengurang bau anyir.
Pernah ada kejadian tak terduga ketika pada suatu hari diadakan lomba membuat nasi goreng di sebuah sekolah dasar. Hampir semua peserta lomba, murid-murid SD klas 5,menggunakan micin sebagai penyedap masakan. Mungkin yang mereka tahu penyedap adalah micin. Ternyata ada salah satu peserta yang hasil masakannya lain dari yang lain. Rasanya lebih nendang dan menjadi rebutan para juri, ibu-ibu guru, untuk mencicipi.
Usut punya usut ketika ditanya juri, sang siswa menjawab tak memakai penyedap tapi hanya menambahkan daun jeruk yang sudah diiris halus. Wah…, ini bukan bermaksud meremehkan micin lho! Tapi penemuan mutahir dari seorang bocah klas 5 ini patut diacungi jempol. Dia menambahkan irisan halus daun jeruk menjelang nasi goreng diangkat. Alhasil gurih dan lezat.
Daun yang Melimpah
Daun jeruk sangat melimpah di negeri kita. Pun daun-daun lain yang tak terhitung jumlah dan jenisnya. Tidak diragukan lagi manfaatnya bagi kehidupan manusia sehari-hari sebagai bumbu masakan maupun bahan obat-obatan.
Suara alarm adzan asar di hpku samar terdengar seakan tertelan suara hiruk pikuk keramaian pasar Chatuchak. Selama perjalanan, kami sengaja meqashar dan menjama’ sholat. Untuk mencari masjid atau musholla di negeri yang mayoritas Budhis ini tak semudah kita mencari di tanah air. Gugelmaps sebagai andalanku dan demi menunaikan sholat, kamipun terpaksa naik Tuk-tuk angkutan khas di Thailand karena lokasi masjid jauh.
Sekian, ceritaku.

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.

Bu Guru Wiendy
Pengalaman travelling yg lain boleh dong dibagikan..