f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
jihad

Jihad untuk Keluarga

Dava keluar dari masjid. Ia berhenti sejenak, menatap langit malam nan memesona. Namun, pikirannya bukan sedang mengagumi keindahan alam itu. Ia justru terngiang dengan materi pengajian Ustaz Kautsar barusan.

“Ada apa, Mas? Kok belum pulang?” Suara barusan meruntuhkan lamunan Dava. Pandangannya segera menuju sumber suara. Dava sedikit terkejut saat melihat orang yang menanyainya.

“Eh, Ustaz! Tidak ada, Ustaz. Ini, saya cuma mau menikmati keindahan langit malam sebentar,” jawab Dava yang berusaha menghapus rasa canggung dengan terlihat ramah.

“Subhanallah!” Ustaz Kautsar merespons dengan senyum.

Dava merasa sedikit tak nyaman dengan kehadiran Ustaz Kautsar. Ia lantas segera undur diri. “Maaf, Ustaz! Saya mau pamit pulang dulu. Assalamu’alaikum,” Dava memasang wajah penuh senyum.

“Oh, begitu. Hati-hati ya, Mas!”, Ustaz Kautsar balas tersenyum.

Dava pun segera melangkahkan kaki menuju rumah. Menyusuri jalan yang kini telah penuh dengan lampu. Tak seperti dulu, di mana jalan di desanya begitu gelap setiap malam. Saking gelapnya, hampir tak pernah ada orang yang berlalu-lalang lagi selepas salat Isya. Sekarang semua telah jauh berubah. Kondisi jalan di desa tak sesepi dahulu.

***

Ketika telah sampai di rumah, Dava disambut mesra seperti biasa oleh istrinya. Tebersit keinginan dalam hati Dava untuk menceritakan apa yang Ustaz Kautsar sampaikan di masjid tadi. Namun, Dava merasa bahwa sekarang bukan waktu yang tepat. Apalagi sekarang kondisi anaknya tengah sakit, jelas hal tersebut sangat membebani pikiran istrinya. Dava tak ingin membuat beban tersebut jadi lebih berat dan kompleks.

Ustaz Kautsar sendiri sebenarnya tergolong orang baru di desa itu. Belum genap satu bulan ia menginjakkan kaki di sana. Sebelumnya, di masjid desa itu tak ada kegiatan pengajian rutin setelah Maghrib. Namun, kehadiran Ustaz Kautsar telah mengubah hal tersebut. Ustaz Kautsar menginisiasi pengajian rutin selepas maghrib di masjid itu. Banyak orang yang mengikuti pengajian rutin tersebut. Penampilan Ustaz Kautsar sangat kontras dengan penampilan masyarakat desa. Setiap hari ia mengenakan jubah layaknya orang Arab. Sisi khas ini menjadi salah satu penyebab masyarakat desa menaruh hormat padanya.

Dava sangat senang dengan kehadiran Ustaz Kautsar di desanya. Sebab, kini desanya punya sosok yang menjadi tempat bertanya perihal segala yang menyangkut agama. Ini jelas dapat menjadikan masyarakat desa semakin terarah dalam beragama. Namun, Dava kini justru merasa agak janggal dengan materi yang Ustaz Kautsar sampaikan tiga hari belakangan. Entah mengapa Ustaz Kautsar akhir-akhir ini selalu bicara soal jihad.

Baca Juga  Bukan Hanya Soal Durasi LDR: PNS, Aturan Mutasi, dan yang Sebenarnya Menentukan Ketangguhan Keluarga
***

Dua minggu berlalu. Pengajian Ustaz Kautsar kini seolah sudah menjelma menjadi pengajian khusus tema jihad. Tak ada satu pun orang yang memprotes hal tersebut secara terang-terangan. Namun, hati kecil Dava sebenarnya belum begitu terbiasa dengan tema jihad tersebut. Kendati demikian, Dava berusaha untuk diam dan membiasakan diri terhadapnya.

Tanpa disangka, pengajian Ustaz Kautsar ternyata kian melekat dalam nurani Dava. Dava yang saat itu usianya terbilang masih muda, semangatnya untuk Jihad semakin membara. Dava akhirnya sampai di puncak bara semangatnya. Ia sekarang bertekad untuk ikut serta dalam jihad melawan musuh-musuh Islam. Dava benar-benar ingin berangkat ke Yaman untuk membantu saudara seagama yang tengah dijajah.

Malam hari ketika anaknya telah tidur sangat pulas, Dava bercerita pada istrinya perihal keinginannya untuk jihad.

“Dik! Mas mau ikut jihad membantu teman-teman kita yang seagama di Yaman…”, belum selesai Dava berkata, istrinya lantas memotong sebab saking terkejut ia dengan apa yang suaminya katakan malam itu.

“Mas nggak bercanda?”, istri Dava berkaca-kaca.

“Tidak, Dik. Mas sangat ingin berjuang di jalan Allah. Ustaz Kautsar bilang bahwa jika Mas ikut jihad, maka keluarga kita akan dijamin Allah masuk surga”, Dava pelan-pelan mencoba meyakinkan istrinya.

“Lalu, bagaimana dengan anak kita, Mas? Siapa nanti yang akan biayain sekolah dia?”, gestur istri Dava menyiratkan banyak kekhawatiran.

“Tenang, Dik! Kata Ustaz Kautsar, seluruh biaya hidup keluarga kita akan dijamin oleh lembaga dakwah tempat Ustaz Kautsar berasal.”

***

Istri Dava tertunduk, tak kuasa lagi menahan air mata yang sejak tadi memaksa untuk jatuh. Ia sebenarnya tak mau berpisah dengan suaminya. Namun, ia merasa seolah tak berdaya untuk mencegah suaminya agar tak pergi meninggalkan keluarganya. Dalam lubuk hatinya, ia berupaya keras menguatkan dirinya yang tengah rapuh.

“Kapan berangkatnya, Mas?”, tanya istri Dava dengan diselingi isak tangis.

“Dua minggu lagi, Dik!”

Tangis istri Dava mengalir kian deras. Ia sama sekali tak menyangka bahwa ternyata keberangkatan suaminya telah benar-benar di depan mata. Ia pun memeluk suaminya erat, seolah belum siap berpisah dengannya. Tak ada lagi kalimat yang keluar dari bibirnya, seolah semua tersimpan rapi dalam air matanya. Dava pun sama, ia tak dapat lagi menahan tangisnya. Akhirnya, percakapan malam iu sama sekali tak berhias senyum ceria.

Baca Juga  Istana untuk Sholihah
***

Dava berangkat pukul sepuluh malam bersama lima orang lainnya. Ustaz Kautsar sendiri yang memimpin keberangkatan rombongan tersebut. Istri Dava sebenarnya belum siap untuk berjauhan dengan suaminya. Tapi, demi kehidupan di akhirat nanti, ia ikhlas melepas suaminya pergi untuk mengemban misi membela agama Islam.

“Hati-hati ya, Mas! Ini aku buatin bekal untuk dimakan di perjalanan nanti.”

“Terima kasih banyak ya, Dik!”, timpal Dava.

Istri Dava lalu mencium tangan suaminya, dilanjutkan dengan Dava yang memberi ciuman perpisahan di kening istrinya. Angin malam berembus pelan, menerbangkan dingin yang yang sekejap menembus tulang. Detak jam memecah keheningan. Dava dan istrinya saling memeluk erat, sebelum akhirnya Dava melangkahkan kaki menjauh dari rumah.

Dalam perjalanan, Ustaz Kautsar memaparkan banyak informasi tentang prosesi jihad yang hendak dijalankan. Ia mengungkapkan bahwa sebelum berangkat ke Yaman, Dava dan kawan-kawan mesti melalui pelatihan terlebih dahulu di Jawa Barat. Lama waktu pelatihan sekitar tiga bulan. Bagi yang dianggap telah mampu, akan dikirimkan sebagai jihadis di Yaman. Namun, bagi yang tidak lulus pelatihan, ia harus mengulang.

***

Selepas dua hari di perjalanan, mereka semua pun sampai di tempat pelatihan. Sebelum masuk, seluruh  ponsel milik Dava dan teman-temannya diminta oleh petugas.

“Para jihadis wajib memutus kontak dengan siapa pun di luar sana, termasuk keluarga. Ini bertujuan supaya Anda semua dapat menaruh fokus penuh pada misi suci membela agama Islam. Apakah yang saya sampaiakan dapat dipahami?”, tanya petugas,

Dava dan kelima temannya mengangguk, meski sebenarnya raut wajah mereka tampak jelas menunjukkan ketidaksetujuan.

“Baik! Terima kasih. Silakan masuk dan mengistirahatkan diri. Segala hal menyangkut pelatihan akan disampaikan nanti malam.”

Salah seorang petugas lantas mengantarkan Dava dan kawan-kawannya masuk. Sementara itu, Ustaz Kautsar tetap berada di depan dan bercengkerama dengan petugas yang meminta seluruh ponsel mereka tadi. Sepanjang berjalan menuju tempat istirahat, Dava menyaksikan bermacam kegiatan pelatihan perang. Mulai dari menggunakan senjata api hingga bertarung jarak dekat. Tebersit sedikit rasa ragu dalam hatinya, tapi Dava segera mengusirnya dengan mengingat jaminan surga untuk keluarganya kelak.

Baca Juga  Lima Pesan Pengasuhan dari Drama Korea The World of Married
***

Satu bulan berlalu. Dava telah cukup mahir dalam beberapa hal yang diajarkan di tempat pelatihan tersebut. Sama dengan para peserta lain, Dava sangat antusias mengikuti pelatihan tersebut. Tampaknya sumber semangat mereka semua seragam, ‘surga untuk keluarga’.

Namun, sebagai manusia biasa, Dava pun akhirnya tumbang oleh rasa rindu. Di satu malam, Dava tak dapat terlelap. Padahal, kondisi fisiknya kala itu tengah begitu lelah. Pikirannya terus bertanya tentang kondisi istri dan anaknya di rumah. Tiba-tiba Dava ragu tentang kelayakan hidup mereka saat ini. Pasalnya, peserta pelatihan di sini begitu banyak dan keluarga mereka semua dijamin biaya hidupnya oleh lembaga dakwah yang dikatakan oleh Ustaz Kautsar kapan hari. Dava bimbang, apa benar lembaga dakwah tersebut benar-benar mampu menjamin kesejahteraan seluruh kelurga peserta pelatihan di sini!?.

Dava berusaha mengusir keraguan tersebut. Ia pun memutuskan untuk mengambil wudlu lalu mendirikan sholat sunnah supaya hatinya lebih tenang. Saat hendak menghidupkan keran, Dava mendengar samar-samar perbincangan. Dava pun mengalihkan perhatiannya pada percakapan tersebut. Ia mencoba diam, agar kehadirannya tak disadari oleh mereka yang tengah berbincang itu.

***

“Ternyata mudah sekali ya membohongi orang-orang itu. Tinggal kita sodorkan jaminan surga, mereka banyak yang terpikat.” Suara yang tak asing di telinga Dava, itu adalah suara Ustaz Kautsar. Tentu Dava sangat terkejut dengan perkataan Ustaz Kautsar barusan. Namun, ia berusaha tetap diam menyimak.

“Iya, benar! Selain itu, kita juga dapat tambahan keuntungan dari penjualan ponsel-ponsel milik mereka”. Kali ini Dava tak mengenali suara tersebut.

Medengar percakapan singkat tersebut, Dava kini menyadari bahwa apa yang ia lakukan ternyata sia-sia. Ia pun tak jadi wudlu. Hati Dava benar-benar remuk mendengar percakapan tadi. Dava lantas kembali ke kamar. Kini ia tak hanya lelah fisik, tapi juga lelah psikis. Dava merebahkan diri, memejamkan mata. Tangisnya tak terbendung lagi sebab ia teringat akan keluarganya yang telah ia tinggalkan. Hanya satu yang Dava ingin sekarang. Ia ingin pulang, memeluk erat istri dan anaknya. Tapi, ia sama sekali tak tahu bagaimana untuk keluar dari tempat itu. Tangis Dava pun mengalir kian deras.

Bagikan
Comments
  • ya Allah..kasian banget Dava. niat baik yang hancur sebelum menjadi bunga.

    Maret 11, 2022
  • Poor Dava… niat baik yang hancur sebelum menjadi bunga. semoga bisa segera pulang..sad ending sekali..huhu

    Maret 11, 2022
  • What a poor guy

    Maret 12, 2022
Post a Comment