Jebakan Gula di Minuman “Sehat”
“Hai guys menjawab tantangan kalian, sekarang aku mau challenge campur semua rasa minum yogurt. Stay tune!” Saya melongo. Di layar terlihat youtuber membuat konten campur-campur minuman. Yang menonton jutaan.
Pada kesempatan lain saya mampir ke minimarket, sembari menunggu anak saya pulang sekolah. Saya mengambil botol minuman yogurt berperisa dari lemari pendingin. Dari bungkusannya nampak gambar buah-buahan dan susu, sepertinya pilihan yang sehat. Tapi saya tercengang melihat kadar gula di balik kemasan, 15 gram gula untuk 125 ml. Tambah shock lagi saat melihat kandungan bahan bakunya, kandungan susu hanya 20%, sisanya lebih banyak perisa dan nama-nama kimia yang saya awam.
Jus buah yang klaim iklannya “sehat”, nyatanya sama saja. Persentase buah atau sayurnya tak sampai 50%, sisanya gula! Bahkan untuk jus-jusan ini, angka gulanya di atas 20 gram untuk satu takaran saji. Yang lebih tricky lagi, terkadang produsen memasang takaran gula untuk 100 ml padahal kemasan minumannya 200 ml. Otak kita seakan ditipu bahwa gula dalam kemasan cukup sedikit, padahal seharusnya dikalikan 2.
Terus, apakah anak saya dan saya sendiri minum minuman kemasan ini. Tak dipungkiri, masih. Anak saya seringkali minum minuman susu rasa-rasa ini di bungkusan ulang tahun. Hasilnya, tenggorokan terasa tidak enak, kadang batuk–batuk. Gimana ga batuk- batuk, kandungan sukrosanya lebih banyak dari kandungan susunya.
Jebakan betmen selanjutnya adalah vitamin hisap anak. Kemasannya begitu menggoda dengan kandungan aneka macam vitamin dari a hingga z. Kenyataannya, vitamin itu kandungan gulanya sama saja dengan permen kenyal biasa.
***
Lalu, apa dampak konsumsi gula berlebih? Untuk anak-anak, biasanya sugar rush. Anak saya bisa lompat-lompat, tidak mau tidur, kadang berujung berantem dengan kakaknya. Dampak lain yang nyata, masalah karies dan gigi berlubang. Untuk masalah ini, kerap membuat saya geleng-geleng kepala, biaya ke dokter gigi khusus anak cukup menguras kantong. Minuman berpemanis dalam kemasan juga dicap sebagai sumber obesitas dan diabetes pada anak.
Akses pembelian minuman manis cukup mudah, di kantin sekolah maupun warung sebelah rumah tersedia. Harganya pun murah. Baru-baru ini saya membeli es krim susu dari gerai minuman China, harganya hanya 8 ribu rupiah. Rasanya luar biasa manis bagi lidah saya. Antrian tampak mengular di gerai-gerainya. Wajar saja, harganya murah. Kandungan gula dan kalori? Tidak tercantum.
Kementerian Kesehatan merekomendasikan konsumsi gula harian tidak lebih dari 50 gram per hari, atau setara 4 sendok makan gula. Sementara American Heart Association membagi lagi konsumsi gula harian, yaitu kurang dari 24 gram per hari untuk anak- anak usian 2 sampai 18 tahun. Bisa dibayangkan, jika kita minum minuman kemasan 3 kali sehari, sudah mengantongi 45 gram gula. Belum ditambah dari makanan lain yang dikonsumsi hari itu.
Permainan “kucing-kucingan” menyembunyikan kadar gula dari konsumen makin lincah dilakukan produsen, cenderung licik bahkan. Saat ini, produsen memakai kata- kata seperti sukrosa, fruktosa, glukosa, dekstrosa atau sukrosa dalam daftar bahan baku. Intinya sama, gula juga.
Minuman dengan gula tinggi seperti serigala berbulu domba. Klaim di kemasan adalah sehat, meski kenyataannya pahit. Yang paling teringat adalah lengsernya susu kental manis dari jajaran susu untuk anak-anak. Di tahun 2021, BPOM mencabut nomenklatur Susu Kental Manis (SKM) dan merombaknya menjadi krimer dengan pembatasan konsumsi harian.
Untuk orang dewasa, gula ini bagai candu. Bisa sakauw dan lemes jika tidak konsumsi gula 1 hari saja. Beberapa penelitian menyatakan bahwa gula lebih adiktif dibandingkan kokain. Dalam 4 dekade terakhir, konsumsi gula kian meroket. Tak mengherankan masalah obesitas, penyakit jantung dan diabetes kian meningkat.
Penyintas diabetes di Indonesia menurut data International Diabetes Federation mencapai 10 juta jiwa pada 2019, termasuk 10 besar dunia. Ibu dan almarhumah mertua saya, keduanya mengidap diabetes. Almarhum mertua saya meninggal karena pecahnya pembuluh darah di otak, asal muasalnya komplikasi diabetes menahun. Sayangnya, beliau korban iklan. Alih-alih mengurangi konsumsi gula beliau mengkonsumsi gula jagung dan produk-produk yang klaimnya rendah kalori. Hal ini menjadi pelajaran cukup besar bagi kami anak-anaknya.
***
Saat ini, penanganan diabetes baru sekedar kuratif. Klaim penanganan diabetes melalui BPJS, terus melonjak. Sudah saatnya melakukan suatu gerakan masif dari seluruh pihak untuk langkah preventif. Salah satunya dengan pajak gula (sugar tax). Konsep ini sudah diterapkan kurang lebih 40 negara di Kanada, Australia dan Eropa. Pajak gula diterapkan untuk minuman karbonasi dan minuman energi. Tujuannya jelas, membatasi konsumen membeli minuman manis, sama seperti pengenaan cukai rokok.
Di negara telenovela Mexico, minuman karbonasi bagai es teh manis bagi kita. Mexico pun diberi gelar sebagai konsumen minuman karbonasi tertinggi dunia. Warga miskin rata-rata meminum 2 liter minuman karbonasi. Minuman ini bahkan lebih banyak dari kesediaan air bersih perpipaan. Sejak tahun 2014, Pemerintah Mexico menerapkan pajak gula sebesar 10% dari harga per kemasan. Hasilnya cukup baik, ditunjukkan dengan penurunan angka obesitas.
Di Indonesia, pajak gula ini penting untuk dikaji. Masyarakat menengah ke bawah rentan terhadap permasalahan kesehatan karena gula berlebih. Belum lagi mudahnya akses mendapatkan minuman kemasan ini, baik di warung maupun lewat penjaja starbak keliling. Implementasinya masih jauh panggang dari api, terlebih masyarakat masih naik pitam dengan kenaikan BBM dan sembako.
Cara yang menurut saya efisien adalah melalui labelling makanan atau minuman dengan logo thayyib. Sudah saatnya Ulama mengambil peran untuk memberi fatwa terkait konsumsi minuman manis ini. Label halal yang saat ini beredar seolah menjadi kasta tertinggi untuk mengkonsumsi satu makanan atau minuman. Padahal dalam ajaran Islam, makanan dan minuman tak hanya halal namun harus thayyib, baik bagi tubuh. Thayyib dimaknai sebagai tak ada efek samping dan tidak berbahaya bagi tubuh.
Bayangkan jika minuman manis tak lagi dibungkus dengan klaim sehat, tapi dikemas seperti peringatan di bungkus rokok. Tentunya konsumen akan berpikir dua kali untuk mengkonsumsinya.

Wurry Srie
Terima kasih, Mbak atas pencerahannya. Tulisan yang keren.