Ibu Mandiri Penyelamat Generasi Mendatang
“Istri atau ibu itu harus mandiri. Karena suami kalau tidak diambil Tuhan – diambil perempuan lain”. Begitulah meme yang masuk ke aplikasi chat saya. Lucu dan menggelitik. Kiriman itu datang dari seorang teman yang sedang gundah karena disinyalir suaminya berselingkuh.
Waktu SMA, teman saya itu sangat populer. Cantik, aktif dan pintar. Namanya mentereng seantero jagad sekolah. Setelah lulus kuliah dan bekerja, karirnyapun bagus di perusahaan minyak asing, namun memilih untuk melepaskannya karena tidak kunjung punya anak setelah 4 tahun menikah.
Kematian suami yang tiba-tiba karena Covid-19, membuat kerabat saya tidak berhenti menangis. Selama ini, seluruh pengeluaran keluarga ditanggung oleh almarhum dan tidak pernah ada izin untuk dia bekerja. Segala kebutuhan primer, sekunder, hingga tersier dalam keluarga telah dicukupinya.
Suaminya berperan sebagai imam yang bertanggung jawab dan kerabat saya, menjadi seorang ibu rumah tangga. Sayangnya, usaha bahan bangunan yang selama ini menjadi andalan, mempunyai hutang yang besar dan jatuh tempo. Belum lagi ada 3 orang anak yang harus dinafkahi. Hidup terasa gelap.
Pembagian tugas seperti di atas acap kali kita dengar dalam kehidupan berumah tangga di tanah air. Suami bertugas mencari uang, sementara istri mengurus anak-anak. Dan sebagai konsekwensinya, ketika seorang perempuan bekerja lalu menikah dan memiliki anak ditambah kesulitan dan mahalnya mencari asisten rumah tangga, sang istri berhenti bekerja dan menyerahkan urusan mencari nafkah kepada suami.
Demi pembagian tugas tersebut, tak jarang seorang istri mengorbankan karirnya yang sudah dibangun sebelum menikah. Dan itu lumrah karena kebiasaan ini sudah mengakar di dalam kehidupan masyarakat. Bukan sekedar ‘patuh’ pada produk budaya Timur yang cenderung patriaki, melainkan juga ‘keyakinan’ agama.
Dari Ketimpangan ke Kekerasan
Lingkup tindakan KDRT menurut UU No 23 tahun 2004 adalah perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga. Dan berdasarkan data Komnas Perempuan, jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan pada 2019 sebesar 431.471, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 406.178.
Penyebab utama kerentanan adalah masalah ekonomi, dimana istri tidak bekerja dan bergantung sepenuhnya pada suami; istri yang terlalu mencintai suami; serta pendidikan yang tidak setara – membuat perempuan tidak sadar akan peran kesalingan dalam keluarga dan tidak berani melapor jika terjadi KDRT. Ketergantungan ini bagaikan memelihara ular. Jika kita melawan, tak segan bisanya akan mematikan.
Maka, kunci untuk mencagah KDRT adalah kemandirian. Mandiri secara finansial, mental dan intelektual.
Merujuk pada buku berjudul Perempuan karya Muhammad Quraisy Shihab, agama sering dijadikan sebagai pembenaran atas pandangan negatif bahwa perempuan hanya bertugas melayani lelaki. Interpretasi tersebut lahir dari pandangan masa lalu yang keliru bahwa perempuan tercipta dari tulang rusuk lelaki.
“Padahal pemahaman itu hanya berlaku pada lelaki pertama (Adam) dan perempuan pertama (Hawa). Sedangkan lelaki dan perempuan selanjutnya lahir akibat pertemuan sperma dan ovum,” tulis Quraish Shihab.
Al-Qur’an mengungkapkan tentang perempuan dalam hal kemandirian ekonomi pada surah Al Qashash:23. Menjaga kesucian, berani mengambil sikap dalam kisah Maryam pada surah At-Tahrim:12. Dan dalam surah At-Tahrim:11, tentang Aisyah istri Fir’aun yang mandiri menentukan pilihan yang diyakini kebenarannya.
Filosofi ketauhidan juga mengajarkan, tempat manusia bergantung hanya pada Pemilik Kehidupan bukan yang lain. Artinya, selaku istri tidaklah tepat menggantungkan kehidupannya hanya kepada suami. Menjalankan tugas sebagai ibu bagi anak-anak di rumah adalah hal yang bagus, dengan catatan tidak berarti keberadaan perempuan di rumah sama dengan tidak berpenghasilan.
Siapa yang menjamin suami akan berumur panjang? Siapa yang menjamin suami akan selalu sehat untuk menafkahi keluarga ?
Rasulullah Saw bersabda, perhatikan hidupmu sebelum datang matimu, sehatmu sebelum datang sakitmu, mudamu sebelum datang tuamu, maka hadis ini juga bisa diterapkan dalam kehidupan rumah tangga.
Menaati sabda Rasulullah, para istri wajib menyiapkan dirinya untuk memiliki penghasilan sebagai antisipasi jika hal buruk terjadi pada suami. Saat ini dengan perkembangan teknologi, cukup banyak daftar pekerjaan yang bisa dilakukan perempuan dari rumah tanpa meninggalkan kewajiban mengurus anak-anak.
Seorang ibu yang mandiri secara finansial selain menghasilkan uang untuk dirinya sendiri, tambahan uang untuk keperluan keluarga juga bisa berbagi pada sesama. Jika orang tua atau saudara kita memerlukan bantuan, kita juga mampu membantu tanpa harus meminta kepada suami.
Sedia payung sebelum hujan. Menjadi ibu rumah tangga di mana keluarga terurus, keuangan terpenuhi dan aktualisasi diri tercapai, haruslah diwujudkan. Dari ibu yang mandiri, generasi mandiri akan tercetak.
Ibu dua puteri, bekerja paruh waktu sebagai konsultan manajemen teknik. Pemerhati masalah perkotaan dan sosial.
