Hiruk Pikuk Nusantara
Matahari pagi terbit
Mahasiswa berlari ke dalam waktu merentang
Menyanyikan lagu tentang ibu pertiwi
Menyanyikan lagu Indonesia pusaka
Sambil menangis
Lantaran mereka sadar bangsa ini tegak dari belulang para pejuang
Dan disuburkan kisahnya dengan darah, air mata dan peluh, serta nyawa yang tiada terbilang
Lalu banyak masyarakat digeletakkan dalam makam-makam massal dan juga kisah-kisah suara ambulance akibat virus corona
75 tahun sudah kita merdeka
Bebas sudah kita membilang berjuta-juta ton batu bara, berbukit-bukit emas nusantara, berjuta kilo tima dan tembaga
Ikan-ikan yang tak pernah habis, mutiara yang indah.
.
Tapi,
Semua itu kemana dan siapa yang punya?
Matahari masih di atas kepala
Suasana menjadi panas, surat kabar ikut mengibas kita ribut!
Garuda membentang sayap dari sabang sampai merauke
Bhineka tunggal ika mendengung di angkasa nusantara.
Maka,
Kuda dimainkan menjadi seni Jaran Jenggo
Gendang dimainkan menjadi seni Kentrong
Anak muda ada yang bermain Tongklek disekitar rumah
Mengikat kita dalam amarah membara
Hati kita menyala tapi tetaplah tegak Indonesia.
Suasana masih panas
Matahari di atas kepala enggan bergeser
Sedikit orang yang tumpah ke jalan
Jutaan orang ikut mengibas-ngibas suasana yang panas lewat sosial media
Nusantara bergetar, nusantara digoyang amarah, nusantara dijilati angkara
Sepanjang jalan-jalan nusantara penuh provokasi
Pohon-pohon di tepi jalan ditempeli seruan protokol kesehatan
Tembok-tembok kota ditelisi kata-kata penuh sensasi
Tentara dan polisi sibuk mengamankan situasi
Intelejen negara kelimpungan melaporkan suasana hati
Wartawan-wartawan sibuk menulis kabar berita
.
Jurnalis TV panen angle gambar berita
Mahasiswa sibuk urusan sendiri
Pemuda pemudi bergandengan tangan berjalan ke dalam sepi
Kita disini entah merayakan apa
Kita di sini entah untuk siapa.
Suasana masih panas
Bukan hanya nusantara
Tapi di berbagai belahan dunia
Israel dipanggang api bagaikan neraka
Muslim rohingnya diusir dari tanahnya.
Kita harus bersatu padu menjaga suasana nusantara
Agar masih bisa mendengarkan suara Tongklek keliling desa
Agar masih damai merayakan tujuh belasan
Agar masih bisa menikmati secangkir kopi di sudut-sudut kota
Agar masjid ramai dikunjungi.
Lalu kita dengan bangga mengibarkan bendera merah putih di halaman sepanjang hari
Berkibar di langit nusantara
Berkibar di hati anak-anak nusantara
Berkibar di halaman kantor tentara
Berkibar di halaman kantor polisi
Berkibar di seluruh bukit dan gunung
Berkibar di seluruh sungai dan laut
Jayalah bangsaku
Merdeka!
Pegiat literasi dan juga Koordinator Bidang Komunikasi dan Teknologi Informasi Kwarda Hizbul Wathan Lamongan.

Siti Zulaekah
Bagus tulisanya, makasih